Travelling #2


Di chapter 1, kita membahas tentang perjalanan jalan-jalan gue di masa lampau. Di sini, gue mau berbagi cerita lagi tentang kesukaan gue terhadap jalan-jalan.

Sekali lagi gue jelaskan, gue suka jalan-jalan. Beberapa alasan kenapa gue suka jalan-jalan adalah karena jalan-jalan berguna untuk menambah pengalaman, memperluas khazanah dan membuka wawasan baru. Jalan-jalan nggak cuma untuk me-refresh pikiran, tapi lebih dari itu, untuk memperkenalkan kita dengan dunia yang belom pernah kita kenal sebelomnya.

Temen gue pernah berkata, ada baiknya kita menjadi “manusia Indonesia” bukan sebatas “manusia lokal”. Maksudnya, setiap jengkal bumi Nusantara ini adalah karunia yang wajib disyukuri. Rasanya rugi kalo kita menghabiskan umur kita hanya di satu tempat doank, jadi jelajahilah sebanyak mungkin tempat yang ingin kita kunjungi. Gitu kata temen gue yang punya keinginan untuk travelling keliling Indonesia.

Salah seorang dosen gue, kita menyebutnya dosen terbang, skala Internasional. Bertemu dengan beliau bukanlah suatu perkara mudah. Hari ini dia ngajar di kampus. Besok dia menengok anaknya di Amerika. Besoknya lagi dia mengurusi bisnisnya di Taiwan. Sementara temen gue yang lain berkata bahwa “kualitas hidup seseorang ditentukan oleh mobilitasnya”.

Di masa-masa tanggung kaya sekarang gini, gimana gue udah nggak ngambil kuliah dan hanya berkutat dengan skripsi, keinginan gue buat jalan-jalan justru lebih memuncak.  Bukan berarti gue mengabaikan skripsi, tapi untuk mencegah stress dan depresi tingkat tinggi (seperti yang dialamin oleh seseorang yang gue kenal), gue perlu menyelinginya dengan jalan-jalan. Atau minimal perencanaannya dimulai dari sekarang tapi jalan-jalannya nanti aja setelah skripsi beres.

Sejujurnya gue pengen banget jalan-jalan kemana gitu. Nah untuk memenuhi keinginan jalan-jalan gue yang memuncak ini, gue sering ngajak temen-temen gue. Jalan-jalan emang menyenangkan, tapi kalo gue cuma sendirian doank, nggak ada bedanya gue sama orang cacingan. Jelas gue butuh temen seperjalanan untuk melengkapi cerita perjalanan ini.

Keluarga gue, jelas prioritas pertama. Tapi karena babe dan kakak gue kerja Senin-Jumat, jadi kita cuma bisa jalan-jalan di weekend, itu pun nggak jauh-jauh. Ya karena mereka nggak bisa, otomatis gue nawarin ke temen-temen deket gue buat jalan-jalan kemana gitu.

Seringkali gue ngajakinnya suka seenak perut six pack gue sendiri. Maksudnya, gue cuma spontan ngajak aja, tanpa melihat kondisi mereka sebenarnya. Ada yang lagi kerja, gue ajak keluyuran. Ada yang sibuk skripsi, gue ajak dolan. Bahkan (maaf) ada yang lagi bokek, gue ajak ngabuburit. Hasrat buat jalan-jalan ini udah begitu memuncak, soalnya kalo nggak sekarang-sekarang ini, bisa jadi besok gue udah kerja dan kehilangan kesempatan buat keluyuran.

(Padahal bisa aja kerja sambil jalan-jalan. Misal, kerja di PT Badak di Bontang, atau ditempatin sama PLN di Indonesia Timur, bahkan direkrut sama Areva, perusahaan nuklir Prancis! Atau mungkin NASA ingin mengirim seekor monyer ke Saturnus? Kurang ajar, emangnya gue monyet!)

Untuk jalan-jalan ini juga, gue lebih tertarik untuk nginep di tempat tujuan, daripada 1 hari bolak-balik. Alasannya simpel aja: yang pertama supaya bisa lebih leluasa menjelajahi tempat tujuan, yang kedua karena gue capek nyetir!

Ya, gue emang hobi nyetir, tapi sumpah gue sejujurnya agak males kalo seharian bolak-balik.  Misal, pagi berangkat, gue nyetir. Siang sampe di tempat tujuan. Sore udah selesai, pulang lagi, gue nyetir lagi. Sepintas, hal itu terlihat simpel dan menyenangkan. Tapi sori, HAL ITU NGGAK BERLAKU BUAT SOPIR!

Sopir (biasanya sekaligus si pemilik mobil) adalah pihak yang paling dirugikan dalam setiap perjalanan yang menggunakan kendaraan pribadi. Pertama, karena dia harus bersiap-siap lebih awal dibanding yang lain, untuk menyiapkan kendaraannya. Kalo lagi sial, dia juga harus jemputin orang-orang. Jadi orang lain enak tinggal duduk manis di rumah nunggu di jemput, sementara sopir harus bangun lebih pagi plus menjemput orang-orang yang cuma duduk manis di depan rumah. Itu juga udah dijemput tapi masih suka ngaret.

Kedua, sopir sekaligus pemilik mobil, bertanggung jawab terhadap mobilnya. Dalam artian, biaya bensin, jalan tol, parkir dll adalah tanggung jawab sopir. Jadi kasian banget tuh, udah bangunnya paling pagi, eh masih harus ngeluarin uang lebih banyak dibanding yang lain. Alhamdulillah kalo temen-temennya punya kepedulian untuk patungan buat ganti ongkos transportasi ini. Kalo temen-temennya berhati busuk kaya lu-lu yang lagi baca tulisan ini gimana?

Ketiga dan yang paling menyedihkan, sopir harus menyediakan tenaga ekstra untuk menjamin keselamatan para penumpangnya. Di saat sopir berkonsentrasi menyetir, penumpang bisa leluasa memejamkan mata dan ngorok sepuasnya. Tapi seandainya sopir ikut-ikutan ngorok, bisa jadi mereka semua akan memejamkan mata selama-lamanya.

Setelah kunjungan wisata selesai, orang-orang beranggapan bahwa hari mereka telah selesai dan kini waktunya beristirahat. Tapi nggak demikian dengan sopir. Dia masih punya tanggung jawab untuk mengantar para penumpang dengan selamat sampe ke tempat tujuan, sekalipun para penumpang hanya menemaninya dengan suara dengkuran keras. Untung sopir adalah pribadi yang toleran. Kalo emosional, bisa-bisa kendaraannya dibawa berlabuh ke sungai terdekat!

Jadi dengan pertimbangan tersebut dan untuk menghormati hak asasi para sopir, gue lebih memilih untuk jalan-jalan yang ada nginepnya, kalo jalan-jalan itu emang agak jauh dan ada beberapa tempat yang mesti dikunjungin. Kalo ada rezeki lebih, mending istirahat dulu semalem, terus besok siang atau sorenya baru pulang. Sebenernya bisa aja sih sehari bolak-balik. Cuma nggak tau ntar pulangnya bakalan ke rumah masing-masing atau ke alam baka sana.

Itu tawaran yang sering gue tawarin ke temen-temen gue kalo mau jalan-jalan. Intinya, kalo mau jalan jangan nanggung-nanggung & jangan buru-buru, dipuas-puasin yang lama sekalian. Plus, jangan berlaku dzalim terhadap sopir yang menjadi tumbal kenikmatan acara jalan-jalan ini.

Jujur, sumpah gue agak gedeg sama orang-orang yang kegeeran dan berpikiran macem-macem sama gue. Iya sebelomnya gue minta maap karena keinginan gue untuk jalan-jalan ini seringkali membuat gue lupa daratan: apapun prosesnya yang penting bisa jalan-jalan. Jadi, ajakan gue buat nginep dulu bukan berati apa-apa.

Kan gue yang ngajakin jalan-jalan. Terus karena gue dikasi rezeki dalam wujud mobil dan bisa nyetir, otomatis pasti gue yang disuruh nyetir. Ya udah gue minta pengertiannya, karena basic gue adalah Teknik Nuklir, bukan Pendidikan Sopir. Gue nggak punya stamina layaknya sopir bis malem yang gagah perkasa menembus pekat malam atau sopir truk yang dengan sabarnya berjalan 30 km/jam di jalan tol. Gue juga manusia, sama kaya lu-lu yang butuh makan, minum dan istirahat.

Ajakan buat nginep ini terutama untuk menjaga stamina. Bahkan lebih jauh lagi, untuk menjaga kelangsungan hidup lu-lu juga. Karena misalnya kita nekat sehari bolak-balik, bisa jadi di perjalanan pulangnya fokus dan konsentrasi gue udah nggak stabil. Jadilah pohon pisang di pinggir jalan gue kira jalan bebas hambatan.

Aduh, kok malah jadi curhat colongan. Ya nggak apa-apa sih, tapi lu-lu emang belom pernah ngerasain gimana rasanya duduk berjam-jam di belakang setir kan? Lu cuma ngerti duduk manis di kursi penumpang sambil menikmati cemilan, terus tidur, dan bangun-bangun udah sampe di rumah kan? Makanya jangan sok tau! Nggak ngerti apa-apa kok berani-beraninya ngasi pendapat negatif. Udah gitu  dipamer-pamerin ke orang lain lagi. Nggak banget deh! Cuih!

Ups, kita kembali ke laptop. Ya, gue pengen jalan-jalan. Cuma nggak tau siapa yang bisa diajak jalan dan mau jalan-jalan kemana. Bandung? Solo? Pulau Seribu? Karimunjawa? Lombok? Bunaken? Singapura? Thailand? Prancis? Venus? Pluto? Alam Barzah?

Gue jadi inget, di awal tahun 2010 gue pernah menuliskan salah satu target gue di tahun 2010 di tulisan berjudul “Resolusi Tahun Ini”. Salah satunya berbunyi:

“Insya Allah tahun ini aku akan melanglang buana ke luar negeri! Seumur-umur, mobilitas ku hanya mentok di Pulau Jawa aja. Pernah 2 kali ke Bali dan 1 kali ke Madura. Padahal, dunia ini kan bukan cuma pulau Jawa. Negara di dunia juga bukan cuma Indonesia. Jadi, sudah saatnya bagi seekor C-Kink untuk menjelajah lebih jauh lagi, ke luar negeri! Sementara sih targetnya ke Jepang atau Eropa. Timur Tengah juga bisa, kalo ada rezeki buat naik haji bareng orangtua. Ya mentok-mentok Singapura deh. Tapi dimanapun itu, insya Allah di akhir tahun 2010 nanti, aku udah bakalan punya foto aku berpose di luar negeri!

Kalopun belom rezekinya, ya minimal keluar pulau aja… Kan Indonesia luas gitu loh!”

Ya, ke luar negeri! Alhadmulillah gue udah punya passport sejak Maret 2010. Tawaran itu dateng di pertengahan April, ketika gue diajak tur ke Jepang selama 1 minggu. Tapi apa daya ternyata pendaftar udah penuh, jadi gue tersisih. Dan di pertengahan Juni, tawaran untuk ke Eropa gue tolak karena alasan klise: nggak ada duit. Jadilah passport gue sampe detik ini masih perawan.

Tapi tahun 2010 masih ada 5 bulan lagi, semoga minimal Singapura bisa dikunjungi via maskapai penerbangan Jalu Air. Lebih bagus lagi kalo bisa mampir dulu ke Jepang, Prancis, Italia, terus sekalian naik haji di Las Vegas. Eh, maksudnya di Mekah.

Oke, pada akhirnya mungkin setelah baca tulisan ini, ada salah seorang di antara lu yang bersimpati dan kemudian bersedia mengajak gue jalan-jalan serta menanggung semua ongkosnya. Eh, maksudnya, setelah baca tulisan ini, ada salah seorang di antara lu yang ternyata punya ketertarikan yang sama untuk jalan-jalan tapi juga nggak punya temen. Mari, bersama-sama kita bertafakkur alam, menjelajahi setiap jengkal permukaan bumi, mensyukuri karunia Illahi.

Mau mau mau?

Depok, 27 Juli 2010

C-Kink

Menara Eiffel
J'ai envie voir le tour eiffel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s