Travelling #1

Bali
Somewhere in Bali

Hell yeah, kali ini gue mau sedikit berbagi cerita mengenai salah satu hobi gue yang jarang gue ungkit-ungkit. Selama ini mungkin gue sering bilang kalo hobi gue adalah membaca, menulis, bermusik, tidur dan melamun. Tapi ada satu hobi yang suka lupa gue sebutin, yaitu; travelling!

Sebelom membahas lebih lanjut, mungkin istilah travelling di sini terlalu lebay. Gue bukan tipe traveller yang suka backpacker-an, naik gunung dan menjelajah alam, traveller yang doyan poto narsis atau yang passportnya penuh dengan cap dari berbagai negara. Gue cuma suka travelling menjelajah tempat yang belom pernah gue datengin sebelomnya, meskipun tempat itu hanyalah berupa laboratorium, rumah lu atau bahkan tempat jin buang anak.

Jadi untuk mempersempit pembahasan, kita ganti istilah travelling disini dengan kata “jalan-jalan”. Oke, sepakat? Harus sepakat donk, kalo nggak sepakat silahkan berhenti membaca tulisan ini.

Sejak kecil, gue emang udah sering dikondisikan dengan situasi jalan-jalan. Sampe hari ini, beberapa orang yang gue temuin mengaku bahwa mereka belom pernah bepergian jauh seumur hidupnya. Paling cuma lintas kota aja, atau paling jauh ke rumah nenek. Itu juga kalo rumah neneknya nggak persis di depan atau di belakang rumah, sebagaimana yang dialami oleh temen gue yang rumahnya di Kukusan.

Nah gue Alhamdulillah dari kecil udah sering dibawa muter-muter. Rumah gue kan di Depok. Nenek dari emak gue tinggal di Bojonegoro, sementara nenek dari babe gue tinggal di Lawang, Malang. Jadilah masa kecil gue udah menempuh jalur mudik melalui kereta api Jakarta – Bojonegoro, dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju Malang, melewati Surabaya. Setiap tahun.

Alhamdulillah lagi, gue punya om yang juga suka ngajakin gue jalan-jalan. Mulai dari Cepu, Blora, Tuban dan daerah Jawa Timur sebelah Utara udah gue jelajahin dari kecil. Padahal waktu itu kita nggak berkunjung ke tempat apapun, cuma jalan aja pake mobil, muter-muter, terus udah pulang lagi.

Plus orang tua gue juga sering mengikutsertakan anak laki-lakinya yang imut ini untuk berkelana menjelajah dunia. KRL ekonomi dan taksi jadi temen setia. Kisaran Jabotabek tahun 1990-an udah pernah gue cicipin, dari tempat wisata macem Ragunan, TMII, Kebon Raya, atau rumah sodara di Bintaro, Bekasi, Mampang. Yang paling gue inget banget, waktu NKRI merayakan ulang tahun emas, babe gue ngajakin gue muter-muter Jakarta naik taksi, cuma buat ngeliat lampu-lampu jalanan yang penuh pesona!

Itu kisaran Jabotabek. Untuk daerah Jawa Timur juga nggak jauh beda. Gue diajak nyekar Ke Ngawi, sama Pasuruan. Dibawa ke Gunung Bromo dan muter-muter Surabaya. Serta mencicipi udara dingin di Batu, Malang, tempat Azhari terlibat baku tembak dan tempat Krisdayanti dibesarkan.

Setelah itu, gue jadi punya kesenengan untuk jalan-jalan. Meskipun sempet ada masa-masa dimana gue lebih suka nongkrong di depan Playstation dan komputer daripada jalan-jalan, tapi setiap emak atau babe gue ngajakin jalan-jalan ke tempat yang belom pernah gue datengin sebelomnya, gue tertarik buat ikutan.

SMA, akhirnya gue dapet kesempatan buat ke luar pulau. Setelah 16 tahun ngendon di Pulau Jawa, akhirnya berkesempatan juga mampir ke pulau tetangga: Bali. Lalu pendaftaran ITB membuat gue sempet mampir ke Bandung.

Masa kuliah lebih wah lagi. Karena gue memutuskan untuk melanjutkan studi di Jogja, akhirnya gue dapet rezeki untuk berkeliling Jogja dan sekitarnya. Selama ini gue cuma bisa mengimpikan Jogja dari jauh. Kini gue leluasa untuk menjelajahi tanah Sultan, 24 jam sehari, 7 hari seminggu, kapan pun gue mau.

Selain itu, tuntutan Kerja Praktek dan KKN juga memperluas wawasan cakrawala gue. KP membawa gue ke Garut melintasi lintas Selatan Pulau Jawa dan memperkenalkan gue dengan bumi Priangan Barat. KKN membawa gue menyusuri persawahan Klaten, dan sebuah accident membuat gue melaksanakan Isra Miraj: perjalanan Klaten – Cilacap – Klaten menggunakan mobil pribadi hanya dalam waktu 1 malam, lebih tepatnya +- 12 jam!

Disamping itu semua, gue juga nggak lupa mengucapkan terima kasih kepada instansi tempat babe gue bekerja, yang seringkali mengutus beliau untuk dinas ke luar kota. Dalam kesempatan itu, seringkali gue ikut serta menjadi body guard beliau. Jadilah gue dapet rezeki untuk mencicipi Anyer, Cirebon, Sumedang, Tasik, dan lainnya.

Itu secuil kisah mengenai sejarah singkat cerita jalan-jalan gue. Mari kita lanjutkan tulisan ini di chapter 2.

Gedung Pedundingan Linggarjati
Selama ini cuma tau dari buku pelajaran, sekarang bisa liat langsung

2 Comments Add yours

  1. yulita says:

    bukankah pas smp lo ikut ke jogja kink?
    apa gw lupa2 inget ya..

  2. ckinknoazoro says:

    ikut kok

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s