IIMS


Minggu-minggu ini, tanggal 23 Juli sampe 1 Agustus di JI-Expo Kemayoran, Jakarta, dilangsungkan sebuah ekshibisi yang bernama Indonesia International Motor Show, selanjutnya kita sebut IIMS. IIMS adalah acara rutin tahunan yang memamerkan mobil-mobil dari berbagai produsen mobil dunia, sebut saja Toshiba, Nokia, Samsung, Panasonic, HSBC, atau AIG. Eh kok kayanya ada yang salah ya?

Sebenernya dari dulu gue udah ngincer banget untuk dateng di IIMS.  Selama ini gue cuma bisa melihat IIMS dari layar koran, menatap gambar mobil-mobil kinclong yang dipamerkan disana. Sekali-kali gue pengen menatap langsung dengan mata kepala sendiri, bukan melalui perantara koran atau televisi. Bukan, bukan mobil-mobil itu yang pengen gue liat, tapi SPG-SPG cantik yang berkeliaran di sekitar mobil-mobil tersebut…

Tapi apa daya, tahun ini gue belom dikasih rezeki untuk menuliskan nama gue di buku tamu IIMS. Jadilah gue mesti menunggu 1 tahun lagi.

Pagi ini ketika gue membaca salah satu liputan tentang IIMS di koran nasional, sebut saja Kampos, otak gue yang jaman SMA dulu ber-IQ 128 ini mendadak berpikir dan tersadar. Sadar, bahwa pengguna mobil di Indonesia dapat dikatakan cukup banyak. Sadar bahwa kemacetan di Jabotabek dan kota besar lainnya adalah karena jumlah mobil yang terlalu banyak. Sadar bahwa dari semua mobil yang melintas di jalan-jalan Indonesia, TIDAK ADA SATUPUN MOBIL CIPTAAN ANAK BANGSA SENDIRI.

Iya, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini memang belom mampu menciptakan produk mobil dengan merk lokal. Jalan raya dihiasi dengan tulisan Toyota, Honda, Suzuki yang berasal dari Jepang, atau BMW, Mercedes dari Eropa, atau Ford dari Amerika.

Apa yang membuat bangsa ini belom mampu?  Gue pribadi juga nggak tau jawabannya, tapi dari pengamatan sekilas gue, gue rasa anak bangsa ini mampu untuk menciptakan mobil merk lokal, JIKA DIBERI KESEMPATAN. Gue percaya itu.

Apa alasannya?

Di pelajaran jaman SMA dulu, kita mengenal istilah “transfer teknologi” untuk mengantisipasi kemajuan dan perkembangan zaman. Awalnya, mobil-mobil yang masuk ke Indonesia adalah buatan Amerika atau Eropa. Lalu Jepang masuk belakangan dengan konsep yang lebih simpel dan lebih hemat bahan bakar.

Gue merupakan salah satu pengguna mobil Jepang. Ketika mobil gue ini bermasalah, gue selalu membawanya ke bengkel resmi. Disana, para teknisi mengerti betul segala detail komponen mobil gue. Ada keluhan apa, mereka tau darimana sumbernya dan bagaimana cara mengatasinya. Bahkan ada ancaman apa, mereka bisa memprediksinya.

Ratusan bengkel resmi dengan teknisi handal tersebar di seluruh penjuru nusantara. Pusatnya ada di daerah Sunter, Jakarta. Kemampuan para teknisi tersebut jelas tidak perlu diragukan lagi. Nah, mereka inilah yang seharusnya diberdayakan untuk menciptakan mobil buatan sendiri.

Melalui proses transfer teknologi, awalnya kita memang hanya pengguna mobil-mobil tersebut. Lalu sebagai layanan purna jual, perlu adanya teknisi handal yang mampu mengatasi masalah pada mobil. Jika mereka diberi kepercayaan dan kesempatan lebih, bukan nggak mungkin mereka mampu menciptakan sebuah mobil.

Memang, komponen yang berperan di sini bukan hanya para teknisi aja. Diperlukan juga industri perakitan dan produksi mesin-mesin mobil. Dan sekali lagi, itu bukan hal yang mungkin jika mereka mau. Bukankah PT Dirgantara Indonesia telah berhasil melakukannya?

Dari obrolan gue dengan salah seorang teknisi ketika mobil gue di uji test drive, beliau curhat. Beliau hanya lulusan STM, lalu melamar sebagai teknisi, dan diterima dengan gaji sekian. Lalu beliau bertanya tentang perkuliahan, gimana rasanya, cara mendapatkan beasiswa, dan sebagainya.

Kemudian gue tanya balik, apakah instansi tempat beliau bekerja nggak menyediakan beasiswa studi? Kata beliau, instansi nggak peduli masalah kaya gitu. Yang penting beliau digaji sekian, dan kerjaan harus beres. Jadi nggak ada waktu buat melanjutkan studi, hanya melulu berkutat di bengkel.

Mereka, para teknisi-teknisi handal, ada baiknya diberi kesempatan untuk mengembangkan ilmunya. Mereka lah garda depan industri mobil, karena mereka benar-benar mengerti seluk-beluk komponen-komponen mobil, mulai dari yang urgen seperti radiator, oli, aki, yang nggak terlihat langsung seperti tie rod, boljuin, elektronik, atau bahkan komponen pendukung seperti kabel speedometer.

Ini bukan sekedar omongan kosong. Segelintir anak bangsa sejatinya telah mampu menciptakan mobil sendiri, meskipun belom mencapai skala komersial. LIPI pernah menciptakan mobil yang ramah lingkungan. Bahkan sekelompok mahasiswa dari UGM telah mampu menciptakan mobil bernama Semar yang diikutkan dalam lomba hemat bensin yang digagas Shell. Begitu juga dengan ITB dan lain-lainnya,

Nah mereka yang masih dalam tahap studi aja udah bisa, tentunya mereka yang berada dalam dunia kerja juga jauh lebih bisa.

Yang paling menyedihkan adalah, sekalipun Indonesia belom mampu membuat mobil sendiri, ternyata negara (yang katanya) tetangga kita telah mampu. Ya, siapa lagi kalo bukan Malaysia dengan Proton nya!

Dulu katanya mahasiswa mereka banyak yang studi ke negara kita. Tapi hari ini, kita bukan siapa-siapa di mata mereka, selain (mohon maaf) tenaga kerja kasar di Malaysia (baca: TKI).

Bukan bermaksud narsis, tapi gue kecewa dengan beberapa orang Indonesia yang memutuskan untuk menggunakan Proton sebagai mobil mereka. Industri mobil Malaysia sedang bergeliat. Dan kalo kita ikut-ikutan membeli Proton, mereka akan semakin terbang tinggi meninggalkan kita yang masih diributkan urusan kursi kekuasaan.

Jadi mau nggak mau, kita harus sadar dan berpikir. Mau sampe kapan IIMS ini dihuni oleh mobil-mobil buatan asing? Mau sampe kapan jalanan di bumi pertiwi dipadati mobil produk luar? Gue mengidamkan ada mobil buatan sendiri yang ditampilkan di IIMS (nanti namanya bukan jadi International lagi). Gue mengidamkan mobil buatan anak bangsa menghiasi jalan raya ibukota.  Dan gue lebih mengidamkan lagi, salah satu dari mobil itu nantinya parkir di depan rumah gue.

Sejatinya, teknologi industri mobil termasuk ke dalam ranah engineering, dan gue merupakan orang yang juga bergulat di dunia engineering. Tapi mohon maaf sebesar-besarnya, gue sama sekali nggak bisa berperan aktif dan teknis untuk membantu negara ini menciptakan sendiri mobil buatannya, selain memprovokasi lu-lu semua untuk memiliki keinginan yang sama kaya gue.

Hal ini karena basic gue adalah Teknik Nuklir, bukan Teknik Mesin, Teknik Otomotif, Teknik Elektro atau semacamnya yang bergulat langsung dengan dunia perakitan mobil. Kecuali, kalo lu mau menciptakan mobil bertenaga nuklir. Itu pun juga pasti udah ditentang duluan sama orang-orang yang keburu phobia mendengar istilah nuklir dan menganggap nuklir sebagai sesuatu yang berbahaya.

Inilah konsekuensi hidup di negara yang menyepelekan masalah pengembangan teknologi. Mereka terlalu sibuk berkutat dengan kekuasaan. Mereka yang berpenampilan menarik menjadi pusat perhatian. Sementara mereka yang berotak cemerlang, khususnya di bidang sains dan IPTEK, hidup penuh kemirisan.

Depok, 28 Juli 2010

C-Kink

Innova
Salah satu mobil buatan Jepang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s