Wisuda

Kamis 18 Februari 2010, gue nulis kaya gini di status Facebook gue:

“Ngeliat orang-orang keluyuran pake toga. Dikelilingi keluarganya. Penuh canda tawa. Sambil foto-foto bersama. Pertanyaannya: KAPAN GILIRAN GUA?”

Apa yang melatarbelakangi gue nulis status kaya gitu? Oke, itu yang jadi tujuan penulisan kita kali ini.

Nggak tau kenapa, sejak puluhan abad lalu, bahkan sebelom gue dilahirkan, gue udah ngidam banget sama yang namanya wisuda. Jelas, kalimat gue barusan 100% ngibul. Lebih tepatnya sejak beberapa bulan lalu, ketika gue memutuskan bahwa kuliah Penerapan Radioisotop tanggal 18 Desember 2009, adalah kuliah terakhir gue di Teknik Nuklir. Dan bahwa ujian Penerapan Radiasi di Industri tanggal 12 Januari 2010 adalah ujian terakhir gue di Teknik Nuklir.

Setelah itu, gue mulai mengidam-idamkan foto gue terpampang di setiap dinding di kantor pemerintah, berada di sebelah kanan Burung Garuda. Eits, salah… Maksudnya, gue mengidamkan body gue yang seksi dan six pack ini dibungkus oleh toga. Tanaman obat keluarga.

Dan entah kenapa, kalo kita pake prinsip Mestakung (semesta mendukung) nya Yohannes Surya, hari ini alam semesta seakan-akan mendukung gue untuk segera di wisuda. Uhuhuhuhuy.

Mau tau kenapa? Kita Tanya Galileo!

Jam setengah 6 pagi. Temen kosan gue, kita sebut saja “Anus” (bukan nama sebenarnya), bersiap-siap… Stop stop stop. Penggunaan kata Anus sepertinya kurang tepat kalo didenger oleh kakek-kakek di bawah umur, jadi kita sebut saja si Anus ini dengan sebutan “Unas”. Oke, lanjut…

Unas bersiap-siap untuk menghadiri wisudanya. Naik mobil, dia udah dandan rapi jali, ditemenin sama keluarganya. Wisuda emang momen yang penting, yang mengharuskan orang tua mahasiswa turut serta dateng menyaksikan tali toga anaknya digeser dari kanan ke kiri (bener nggak?). Sepagi ini, Unas telah berangkat menuju GSP, kepanjangan dari Sasana Budaya Ganesha. Eh salah itu mah punya ITB. Maksudnya Graha Sabha Pramana.

Mungkin dia sengaja dateng pagi-pagi supaya gampang nyari parkiran, karena kalo lagi wisuda biasanya GSP emang selalu rame. Atau mungkin dia mau dandan dulu, bisa jadi. Atau mungkin dia mau bantu-bantu ngepel dan nyapu-nyapu GSP, ya silahkan.

Kini Unas telah berangkat menyambut wisudanya. Jam setengah 9 gue ke kampus, janjian sama 2 orang temen gue, sebut saja “Asap” dan “Lea” (dua-duanya Insya Allah laki-laki, dua-duanya hampir bukan nama sebenarnya). Kita janjian mau ketemuan sama seorang dosen, sebut saja “Sagu Udib” untuk curhat mengenai masalah skripsi dan tugas akhir.

Singkat cerita, akhirnya kita bisa ketemu face to face, eye to eye, mouth to mouth dan body to body dengan Pak Sagu Udib. Gue langsung menembak beliau:

“DOR!”

Dan beliau terkapar:

“Akkhhhh… Tidaaakkkk…!!!”

Kriiik… Kriiik…

Maaf, salah konteks…

Gue langsung menembak beliau. Bukan dengan pistol tapi dengan pernyataan plus pertanyaan.

“Gini Pak. Kami tertarik untuk mengambil skripsi dengan tema tentang AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan, red). Nah mungkin Bapak bisa memberi kami saran, terkait tema kami ini. Atau mungkin Bapak ada proyek atau penelitian terkait AMDAL yang kami bisa bantu mengerjakannya Pak?”

Singkat padat jelas. Efisien ekonomis ergonomis eksotis erotis.

Pak Sagu Udib tersenyum sekilas. Diam sejenak. Lalu ia membuka suara,

“Oh, iya, ada!”

Ada, maksudnya ada penelitian beliau yang kami bisa bantu mengerjakannya! Ting-tong!

Beliau melanjutkan,

“Iya jadi gini. Saya punya… … … … … *tuuuuuuuuuuuuuuuuuuut* (SENSOR)”

Oke, cukup sampai disini. Obrolan gue Asap dan Lea dengan Pak Sagu Udib sepertinya belom layak untuk dipublish di depan umum, jadi atas permintaan narasumber, konten diskusi tidak akan kami tampilkan.

Singkat kata, akhirnya gue dapet tema dan arahan mengenai skripsi gue terkait AMDAL. Jadi setelah luntang-lantung selama seminggu, dimana gue udah nulis “Skripsi” di KRS gue tapi belom dapet judul, dosen pembimbing dll, akhirnya pada hari ini dan jam ini, semuanya menjadi jelas dan cahaya menuju toga di kepala semakin terbuka lebar. Alhamdulillah…

Setelah itu, gue balik ke kosan karena bareng temen kosan gue yang lain yang namanya, kita sebut saja “Bayi” (mmmm… Nama sebenarnya apa bukan yaaaa???), kita mau ke Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) untuk daftar kursus nari balet. What? Nari balet? Ya jelas nggak mungkin lah… Maksudnya, kita mau daftar kelas persiapan TOEFL.

Pas mau berangkat, temen kosan gue yang lain lagi ternyata mau ikutan nebeng ke FEB. Dia adalah, kita sebut saja “Syekh Pujo” (jelas bukan nama sebenarnya, tapi nama bapaknya). Sedikit cerita, Syekh Pujo siang ini jam 1 mau sidang pendadaran, alias sidang skripsi. Jadilah dia bareng gue dan Bayi berangkat ke FEB. Syekh Pujo make kemeja putih panjang, dasi item, celana kain item dan sepatu pantovel. Kostum kaya gini emang merupakan syarat untuk mengikuti sidang di FEB.

Sesampainya di FEB yang sebelahan sama GSP, ternyata disana lagi rame-ramenya orang-orang wisuda. Parkirannya penuh dengan mobil-mobil keluarga wisudawan dan wisudawati. Jalanan rame dengan wisudawan yang bercipika-cipiki dengan temen-temennya, yang udah pada lulus duluan atau yang lulusnya entah kapan. Beberapa diantara mereka juga terlihat sedang berfoto-foto ria, entah dengan sesama koleganya atau dengan symbol-simbol ke-UGM-an yang ada disana. Kenang-kenangan untuk anak cucu mereka nanti, bahwa mereka pernah numpang buang air kecil di toilet UGM!

Diantara mereka yang wisuda hari ini, mungkin ada 2 orang yang cukup gue kenal. Yang pertama adalah si Unas tadi. Yang kedua adalah temennya Bayi yang bernama, kita sebut saja “Aprijalcuy”. Aprijalcuy ini seangkatan juga sama gue dan Bayi, tapi dia telah mendahului kita-kita untuk lulus duluan. Ya nggak apa-apa sih, semoga ntar kalo dipanggil malaikat maut juga dia yang duluan. Ups, Astagfirullah…

Masalah wisuda di GSP beres, gue dan Bayi pun telah kembali ke kosan setelah muter-muter keliling Bank Mandiri dan Raminten. Fiuuuuhhh…

Sorenya, temen kosan gue yang lain lagi yang bernama, sebut saja “Rayo”, ngajak makan di angkringan. Gue pun mengiyakan dan jadilah kita nongkrong di angkringan Mas Yunanto (kalo yang ini asli, beneran nama sebenarnya).

Lagi asik-asik nyomot gorengan dan ngomongin skripsi, tiba-tiba Syekh Pujo dating kucluk-kucluk jalan kaki. Kemejanya basah keringetan, dasinya pun udah dicopot. Dengan ekspresi senyum-senyum puas, gue Rayo dan Mas Yunanto segera menodongnya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar sidang yang baru aja dia jalanin.

Syekh Pujo pun menceritakan pengalamannya, 45 menit dihadapan dosen-dosen penguji. 45 menit yang bikin gue iri, karena katanya kalo di jurusan gue sidang itu full 2 jam dan harus 2 jam. Pun demikian dengan pertanyaan-pertanyaan dari para dosen yang sebatas minta penjelasan lebih lanjut, bukan berupa bantahan atau sanggahan terhadap skripsi Syekh Pujo ini.

Pada akhirnya, Syekh Pujo dinyatakan lulus. Kini dia tinggal menunggu waktu untuk diwisuda. Sementara gue Bayi dan Rayo juga menunggu waktu untuk ditraktir dia, ditraktir Aprijalcuy dan ditraktir Unas.

Dan hari ini, pertanyaan gue masih sama. Setelah melihat orang-orang di sekitar gue sukses mengerjakan skripsinya, sukses menghadapi sidangnya, dan bersiap menunggu hari wisuda, gue masih tetep bertanya-tanya:

“KAPAN GILIRAN GUE?”

2 Comments Add yours

  1. Dzulfikar says:

    Nikmatin aja kali..
    Smua bakal terlewatin.
    Salam kenal.

  2. ckinknoazoro says:

    oke oke oke. lam kenal juga yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s