Februari

Februari / February / Fevrier / Febrero / Februar / Febbraio / Ni Gatsu

Lagi dan lagi, hari ini gue telah sampai di bulan Februari. Bulan yang mungkin ditungg-tunggu oleh sebagian kelompok orang. Dan gue sendiri juga termasuk salah satu orang yang menunggunya.

Kenapa? Buat gue, Februari adalah istimewa karena emak gue tercinta lahir di bulan ini. Sementara buat sebagian kelompok orang, Februari terasa istimewa karena mereka beranggapan bahwa tanggal 14 Februari adalah hari yang pantas untuk diistimewakan. Hari yang mereka namakan dengan: valentine!

Bulan Februari. Warna pink ada dimana-mana, menghias mall-mall, jalan raya, televisi, majalah, dll. Coklat menjadi penyedap rasa, menyertai warna pink itu tadi. Semua berlomba-lomba memanfaatkan momentum ini, momentum yang mereka namakan dengan: hari kasih sayang.

Huuuuuffff… Bosan rasanya gue menulis tentang valentine yang nggak ada habis-habisnya. Setiap tahun, tulisan tentang valentine selalu gue tulis. Namun setiap tahun juga orang-orang masih dengan senangnya merayakan apa yang mereka namakan valentine.

Hei, emangnya kenapa dengan valentine, kok sampe gue jadi sebegini relanya menulis sesuatu hanya untuk valentine? Ya mohon maaf sebesar-besarnya, tapi harus disampaikan dengan jujur bahwa gue adalah salah satu makhluk yang nggak hobi ngerayain valentine, dan memiliki perbedaan pandangan dengan mereka-mereka yang merayakannya.

Maksud lu apa sih Kink? Ah gue, lu nggak suka valentine gara-gara:

  1. Lu nggak punya cewek yang bisa buat berbagi kasih sayang atau tuker-tukeran coklat kan?
  2. Oh gue tau, kan lu dilarang dokter buat makan coklat, jadi lu nggak suka valentine yah?
  3. Oke, gue nggak punya alasan kenapa lu nggak suka valentine selain 1 kata: kampungan!

Hmmm… Silahkan kita berpikir sendiri, kenapa gue nggak hobi valentine. Dan semua opsi jawaban di atas adalah benar, kalo lu boleh tau. Mau nambahin jawaban lagi juga silahkan, monggo… Dan tentunya gue juga mau nambahin 1 jawaban lagi donk.

Apa itu?

Adalah, bahwa valentine bukanlah merupakan bagian dari kebudayaan kita! Valentine itu berasal dari budayanya orang romawi-romawi sana, di sekitar abad ke-15 dulu (baca tulisan gue yang “AliitlePieceOfValentine” buat tau sejarah singkat valentine). Dan sampai detik ini, serta insya Allah sampai akhir zaman nanti, gue nggak menemukan dan nggak akan menemukan nilai positif dari diadakannya valentine.

Jadi simpel aja. Apa sih manfaatnya valentine? Kenapa bulan Februari mesti identik dengan coklat dan warna pink? Nggak bisakah bbulan Februari ini dilalui dengan biasa aja seperti hari-hari lainnya, karena sesungguhnya setiap hari adalah anugerah? Bukan cuma tanggal 14 Februari aja.

Cukup sudah gue menulis secuil tulisan tentang valentine (lagi). Setiap taun gue nulis dan setiap taun juga valentine masih tetap diadakan. Memelesetkan valentine menjadi fuck-lentine pun juga nggak akan menyelesaikan masalah. Karena pada akhirnya pilihan ada di tangan kita, apakah ingin ikutan terjun ke dalam dunia valentine, ataukah meninggalkannya dengan penuh keikhlasan dan kerendahan hati. Apapun itu, pilihan ada di tangan kita. Dan pilihan apapun yang kita pilih, tentu harus ada pertanggungjawabannya. Bukan begitu?

*Note: Selamat ulang tahun buat emak gue tercinta yang lahr di bulan Februari ini (tapi lahir di bulan Sya’ban kalo pake kalender Hijriah). Dan tentunya ucapan terima kasih yang sangat spesial buat orang tua gue yang Alhamdulillah sama sekali nggak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk ikut-ikutan valentine.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s