JikaAkuAdalahPresiden #1

Bismillahirrahmanirrahim…

Beberapa waktu yang lalu gue pernah ngebaca blog temen gue yang disitu diceritain tentang wawancara dia dengan temen-temennya tentang apa aja yang bakalan mereka lakukan seandainya mereka jadi presiden. Bermacem-macem jawaban keluar di sana. Dan dari situ pun sedikit banyak wawasan gue jadi terbuka.

Terbuka tentang masalah-masalah negara. Terbuka tentang rencana-rencana negara kedepannya. Tapi terbuka juga bahwa suatu hari nanti, gue selaku warga negara Indonesia pun harus punya bakti yang nyata kepada negeri ini. Plus, gue juga bakalan menjadi pemimpin, itu adalah satu hal yang pasti. Minimal adalah pemimpin bagi diri sendiri. Minimal lagi, jadi pemimpin bagi keluarga.

Sekalipun sebenernya ini nggak pernah terpikirkan, tapi bagaimana jika di dalam Lauh Mahfudz tertulis bahwa gue akan menjadi pemimpin sebuah negara, dalam hal ini Indonesia? Gue nggak punya niat dan emang nggak minat buat jadi presiden Indonesia, atau jadi wapres sekalipun. Beda sama salah seorang temen gue yang udah bertitah untuk menjadi presiden Republik Indonesia taun 2014 nanti.

Jadi buat sekedar preparation aja, terpikirlah di dalam otak Einstein gue ini untuk mulai menulis hal2 apa aja yang bakal gue lakukan jika emang gue beneran jadi presiden nanti. Dan kalopun gue bukanlah terlahir sebagai seorang presiden, harapannya tulisan ini pun bisa membuka mata lu-lu semua atau sebagai bahan referensi dalam menentukan arah kedepannya.

Tapi sebelomnya, tulisan ini masih mentah, soalnya ditulis oleh seorang mahasiswa Teknik Nuklir yang sangat sangat awam dengan dunia ekonomi, politik, pemerintahan, psikologi, pertanian, perdagangan, administrasi birokrasi, dll. Bahkan untuk ilmu keteknikan pun juga masih awam. Satu-satunya hal yang bisa dipercaya adalah bahwa tulisan ini dibuat atas dasar keinginan untuk membawa Indonesia menjadi lebih baik dan menjadi yang terbaik.

Tulisan ini pun masih abstrak dan belom real nyata dan konkrit. Kenapa, soalnya ntar bakalan ada menteri-menteri yang lebih paham urusannya masing dan yang akan atktif mengeksekusinya. Serta nggak menutup kemungkinan di masa depan nanti, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya wawasan, maka tulisan ini akan mengalami perkembangan-perkembangan yang lebih baik lagi kedepannya.

Untuk memudahkan, maka disini bakalan gue bagi menjadi beberapa sektor, meskipun gue bingung juga beberapa diantaranya cocoknya di sektor mana dan banyak juga yang lintas sektor. Tapi ini juga masih nggak ngurut lho. Maksudnya, yang tertulis di nomor awal bukan berarti harus yang lebih dulu dilakukan, dan yang tertulis di nomor buncit bukan berarti nggak memiliki tingkat urgensi yang tinggi.

Tanpa banyak omong lagi, langsung baca aja deh ini, “Jika Aku Adalah Presiden”.

***

Gambaran umum:

Ekonomi

Bayar utang

Kembali ke standar uang emas

Optimalisasi sektor riil

Optimalisasi zakat dan pajak

Pemerintahan

Khalifah

Reformasi birokrasi

Departemen IT

Kesejahteraan masyarakat

Optimalisasi kurikulum pendidikan

Layanan kesehatan

Narsisme Nusantara

Revolusi akhlak moral dan akidah (Pejabat, pengusaha, artis, militer, dokter, pegawai pemerintah)

Penegakan hukum syar’i

Kedaulatan

Nasionalisasi

Usir penjajah sumber daya

Wajib miiter

Optimalisasi perbatasan

Politik luar negeri

Desak Israel dengan segala cara

Konferensi liga muslim kaffah sedunia

Aktif dalam politik luar negeri

Lain-lain

Pembangunan PLTN

Anti Amerika, anti kapitalisme, anti zionis

Bukan cuma agraris, tapi juga maritim

Unggul di segala bidang (IPTEK, olahraga, seni-budaya, keilmuan)

***

Oke, sekarang kita rinci satu persatu.

Ekonomi

Bayar dan Lunasin Utang

Sebelom membahas lebih jauh, gue pengen bilang dulu kalo gue nggak tau sejak kapan negara ini punya utang. Gue juga nggak tau berapa jumlah utang kita sekarang, kepada siapa aja kita ngutang, dan bagaimana isi dari perjanjian utang-utangan itu. Tapi yang jelas, bagaimanapun caranya, utang negara ini harus dilunasin, supaya kita nggak terus menerus terbelenggu dalam jeratan utang dan si pengutang yang dengan utangannya itu bisa seenaknya mendikte kita.

Satu hal yang sangat menyedihkan adalah bahwa penduduk negara ini di masa sekarang dan masa mendatang harus menanggung utang akibat dari ulah penduduk di masa lalu.

Gue juga nggak ngerti gimana hukumnya masalah utang-mengutang suatu negara. Kalo misalnya ada orang yang ngutang, maka sebelom ia meninggal utang itu harus segera dilunasin, atau ia harus membayar utangnya di akhirat nanti. Hal-hal yang bisa membatalkan utang itu adalah jika ahli warisnya bersedia melunasinya atau jika si pengutang bersedia menganggapnya lunas. Kalo nggak, ya udah biarkan hukum akhirat yang akan berbicara.

Tapi gimana kalo yang berutang itu adalah suatu negara? Lebih-lebih pemerintahannya adalah orang-orang yang setiap beberapa periode selalu berganti. Jadi, bisa aja pemerintahan yang sekarang ini yang berutang, sementara pemerintahan yang periode selanjutnya yang akan melunasi. Istilahnya, utang warisan. Bagaimanakah ini?

Namun demikian, intinya negara ini harus bebas dari utang dan bebas dari budaya ngutang. Ngutang bukan cuma masalah ketersediaan harta, tapi lebih kepada niat dan kesungguhan diri. Sesungguhnya jika jiwa itu kuat, maka fisik tidak akan mampu mengalahkannya.

Kembali ke Standar Uang Emas

Mau tau kenapa di negara ini sering terjadi inflasi? Mau tau kenapa harga minyak dunia dan komoditas lannya harganya berubah? Mau tau? Kalo mau tau, ya udah cari tau sana, gue juga belom begitu tau kok. Huohohohohoho…

Nggak gitu juga sih. Tapi, hari ini kita menyandarkan mata uang kita dan komoditi dunia kepada mata uang Dollar Amerika. Dan semua itu sejatinya hanya akan membuat mata uang kita menjadi hanyalah lembaran-lembaran kertas yang NGGAK ADA HARGANYA.

Sebenernya yang dijadikan sebagai alat tukat adalah emas dan perak. Tapi karena emas dan perak agak susah jika dibagi dalam bagian-bagian yang kecil, maka dicetaklah uang kertas yang nilai nominalnya bersandarkan pada nilai emas. 1 Dinar setara dengan 4.25 gram emas 22 karat, sementara 1 Dirham setara dengan 3 gram perak murni. Dan pecahan-pecahan lainnya pun mengikuti penyetaraan tersebut.

Bagaimana dengan Dollar Amerika? Dulu setelah perang dunia kedua, Amerika mengakui dirinya sebagai negara pemenang perang, dan memiliki ketersediaan emas paling banyak di dunia. Akhirya Amerika mendesak negara-negara di dunia untuk menyandarkan mata uang mereka terhadap Dollar Amerika. Sampe sini sepertinya belom ada masalah.

Tapi di jaman itu, yang namanya bunga, riba dan sektor non ril udah mulai mewabah, yang mengakibatkan uang yang tercatat di atas kertas jumlahnya jauh lebih banyak daripada uang yang tersedia secara fisik. Menyadari hal itu, Prancis diikuti Spanyol memutuskan untuk menukarkan Dollar yang mereka punya dengan emas yang dimiliki Amerika. Hal ini membuat Amerika panik karena setelah itu, Amerika sadar bahwa jumlah emas yang tersedia udah nggak seimbang lagi dengan jumlah uang yang tercatat di atas kertas, akibat sektor non ril itu tadi.

Jadilah sejak taun 1971, Richard Nixon memutuskan untuk nggak lagi menyandarkan Dollar nya kepada ketersediaan emas, dan mengizinkan untuk mencetak lembaran uang Dollar sebanyak-banyaknya tanpa peduli dengan nilai emas yang mereka punya. Dan kita pun dengan bodohnya masih mau menyandarkan mata uang dan komoditi kita kepada Dollar tersebut.

Plus, dalam salah satu butir perjanjian bantuan IMF kepada Indonesia waktu krisis 1998 dulu, disebutkan bahwa Indonesia nggak boleh menyandarkan mata uangnya kepada standar emas. Kenapa? Karena IMF tau, bakalan bahaya kalo Indonesia menggunakan emas sebagai standar mata uang mereka.

Nah jadi, nggak bisa nggak, gimanapun caranya, kita harus kembali kepada fitrah uang yang sesungguhnya, yaitu dengan menetapkan standar emas. Marilah kita berinvestasi emas, dan janganlah uang kertas itu dicetak selama persediaan emas di negara ini belom bertambah. Apa tujuannya? Yaitu supaya uang itu terus berputar dan nggak disimpen oleh sekelompok orang tertentu, yang ujung-ujungnya akan mengakibatkan ketimpangan ekonomi.

Optimalisasi Sektor Ril

Optimalisasi sektor ril, maksudnya adalah lebih peduli dan lebih memanfaatkan sektor2 ril. Atau dengan kata lain, cobalah untuk mulai melepas ketergantungan kepada sektor non ril. Ini masih ada kaitannya dengan poin sebelom ini, yaitu bahwa sektor non ril akan mengakibatkan jumlah uang yang tercatat di atas kertas menjadi lebih besar dari jumlah uang yang tersedia.

Optimalisasi Zakat dan Pajak

Dua hal ini sejatinya merupakan salah satu hal penting yang bisa mendukung perekonomian, sekalipun keduanya bukanlah yang paling urgent.  Zakat dan pajak bertujuan untuk menciptakan kesejahteraan bersama dan mengedarkan uang kepada masyarakat supaya uang itu nggak cuma dimiliki oleh sekelompok orang tertentu.

Sebenernya ini bukan cuma optimalisasi doank, tapi juga harus disertai dengan layanan serta petugas yang kompeten. Hari ini pun gue masih bingung, kenapa orang yang kerja di perpajakan umumnya banyak duit ya?

Tapi emang bener, kalo 2 hal ini dioptimalkan dan dieksekusi dalam koridor kebenaran, maka sedikit banyak ekonomi rakyar bisa meningkat. Kalo misalnya penduduk miskin Indonesia adalah 80 jutaan, masa iya yang 120 juta sisanya nggak bisa (atau nggak mau?) berbagi rezekinya kepada yang 80 juta itu?

Apakah batas minimal seseorang menjadi peminta2? “Lima puluh dirham atau nilai yang setara dengannya jika dihitung dengan emas (HR Ahmad),” gitu kata Rasulullah. Kalo 1 dirham setara dengan sekitar 35000 rupiah, maka 50 dirham kira-kira 1.750.000 rupiah.

Khusus untuk zakat, pelaksanaannya pun nggak cuma sekedar perintah aja, tapi juga berpahala bagi mereka yang berzakat. Sementara untuk pajak, harus ada ketegasan lebih tegas lagi terhadap hal-hal yang perlu ditegaskan, supaya uang bisa beredar lebih merata di masyarakat. Jangan sampe ada pengusaha-pengusaha kaya yang bayar pajaknya nggak sebanding dengan kekayaannya.

Bersambung ke sektor selanjutnya…

2 Comments Add yours

  1. finarukawa says:

    great. mas tahun 2014 calonin diri aja jadi presiden. ntar saya pilih.. hehe..

  2. ckinknoazoro says:

    weits… gag akh, aku gag napsu jadi presiden. mau jadi rakyat jelata aja. uhehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s