Wirausaha

Hari ini, kita seringkali melihat ribuan bahkan jutaan orang berlomba-lomba mencari pekerjaan. Tanpa peduli tingkat pendidikan, entah sekedar tamatan sekolah atau sarjana, mereka berjalan kaki kesana-kemari bermodalkan lembaran map di tangan. Berharap ada perusahaan yang tertarik untuk merekrutnya menjadi salah satu pegawainya.

Bukan hal yang salah memang. Tapi pernahkah tepikir di benak mereka, daripada mencari pekerjaan, kenapa tidak menciptakan pekerjaan sendiri?

Berdasarkan data statistik, saat ini di Indonesia hanya ada sekitar 300 ribu orang yang menerjunkan diri menjadi wirausaha. Hanya sekitar 0.18% dari jumlah seluruh penduduknya. Padahal, suatu negara dikatakan ideal jika minimal 2% dari penduduknya adalah wirausaha. Dalam kasus ini, minimal harus ada 4 juta orang Indonesia yang berprofesi sebagai wirausaha. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang pada tahun 2007, 11.5% penduduknya adalah wirausaha. Atau Singapura yang memiliki 7.2% wirausaha pada tahun 2005.

Wirausaha atau entrepreneur, memang suatu hal yang setidaknya harus ada dalam diri setiap manusia, sama halnya dengan leadership dan manajemen. Menurut kamus encarta, entrepreneur diartikan sebagai “risk-taking businessperson: somebody who initiates or finances new commercial enterprises”. Silahkan terjemahkan sendiri apa arti entrepreneur menurut pemahaman kita masing-masing.

Kenapa kita harus berwirausaha, atau setidaknya memiliki jiwa wirausaha? Jelas, karena dengan wirausaha, kita memiliki otoritas penuh untuk mengatur segala sesuatunya. Tidak perlu terikat jam kerja. Tidak perlu takut dimarahi atasan. Bebas mengatur kapan kita kemana dan kapan kita akan melakukan apa. Serta membangun jaringan dengan banyak kolega.

Wirausaha tidak digaji oleh atasan, ia digaji oleh dirinya sendiri. Wirausaha juga tidak perlu takut dipecat, karena hanya dia yang berhak memecat dirinya sendiri. Dan yang paling penting, tak perlu khawatir dengan ancaman krisis global atau apalah krisis ekonomi lainnya, karena wirausaha mampu berdikari, BERDIRI DI ATAS KAKI SENDIRI.

Jangan pernah lupa, wirausaha berarti telah membantu Ibu Pertiwi bangkit dari keterpurukannya.  Dengan wirausaha, otomatis kita perlu merekrut tenaga kerja. Dan ini berarti, membuka lapangan pekerjaan baru dan mengurangi pengangguran.

Dengan wirausaha, otomatis kita telah memutar roda perekonomian, memutar uang. Menarik uang dari masyarakat, memutarnya untuk modal, mengembalikannya kepada masyarakat. Karena sebaik-baik uang adalah uang yang beredar di masyarakat, bukan uang yang didiamkan dan disimpan untuk waktu lama.

Dengan wirausaha, berarti kita telah meniru sunnah rasul kita, Muhammad saw. Bukankah 9 dari 10 pintu rezeki, adalah dengan berdagang? Bukankah wirausaha berarti kita telah menolong saudara kita untuk memenuhi kebutuhannya? Dan bukankah dengan wirausaha, maka harta itu berada pada tempatnya, karena sebaik-baiknya harta adalah harta yang dipegang oleh umat Muslim?

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah, ketika kita berwirausaha, jangan langsung berpikir bahwa uang jutaan rupiah akan hadir di hadapan kita. Oke, hari ini kita telah banyak melihat para wirausahawan yang berpenghasilan ratusan juta rupiah per bulan. Tapi kalau kita menilik kembali ke langkah awal perjalanan mereka, bukankah dulunya mereka juga hanya berpenghasilan puluhan ribu atau bahkan hanya ribuan rupiah? Bahkan tidak sedikit diantara mereka yang merugi pada awalnya? Ingatlah, segala sesuatu ada tahapannya, laksana kaki gunung yang kita naiki sedikit demi sedikit, hingga kita akan mendapatkan pemandangan indah pada puncaknya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, ketika mendengar kata wirausaha, tidak perlu berpikir tentang usaha yang muluk-muluk. Membuat perusahaan, jelas itu yang konvensional. Tapi dengan menjadi konsultan, freelance, distributor, pedagang atau apapun yang mampu menghasilkan rezeki, itu sudah termasuk wirausaha. Dan yang terpenting, sekali lagi, semua ada tahapannya.

Kembali ke bahasan awal, negara ini kekurangan wirausaha. Jadi, apakah kita bersedia untuk menambah jumlah wirausaha di negara ini?

Ada satu hal lagi yang patut disampaikan. Yaitu adalah hegemoni Indonesia di kancah dunia Internasional, yang sampai hari ini mungkin masih dipandang sebelah mata. Kita tahu, perusahaan-perusahaan besar dunia semuanya berada di tangan bangsa asing. Sementara bangsa Indonesia hanya mampu berlomba-lomba menjadi salah satu pegawainya.

Apakah itu salah? Tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Tapi akan lebih baik lagi jika situasi berbalik: Perusahaan tersebut dipimpin oleh orang Indonesia, mempekerjakan sebagian besar orang Indonesia, dan menjual produk-produknya di luar negeri!

Danone. Salah satu pemilik perusahaan air minum. Mata air itu, berada di bumi Indonesia. Tapi mengapa, sebagian besar keuntungannya lari ke sana?

Exxon. Bergerak di bidang pertambangan. Kilang minyaknya, berada di tanah air Indonesia. Tapi mengapa, keuntungannya juga lari ke sana?

Negara ini sudah banyak dijajah. Negara ini sudah banyak dibodohi. Ditambah lagi dengan penduduknya yang merasa bagga jika mampu menjadi pegawai untuk perusahaan asing. Tidak terpikir niat untuk membangun perusahaan sendiri dan mampu mengalahkan perusahaan asing.

Berterima kasihlah kepada mereka, anak-anak pribumi yang telah berwirausaha. Yang tidak terpengaruh ekonomi global dalam menjalankan bisnisnya. Yang telah berjasa memutar roda perekonomian masyarakat. Yang tetap tegar berdiri dihantam badai krisis. Yang telah berbuat sesuatu bagi Ibu Pertiwi.

Wirausaha itu bagaikan hidayah. Ia ada di dalam diri setiap manusia, hanya seringkali masih tertutupi oleh selubung-selubung yang mebuatnya merasa nyaman dengan situasi yang ada. Ia bisa hadir dengan sendirinya, atau hadir ketika dipicu oleh suatu pemantik untuk membuka selubungnya.

Dan pada akhirnya, apakah kita bersedia untuk menambah jumlah wirausahawan di negara ini? Ibu Pertiwi tentu akan tersenyum melihat anak-anaknya mampu berdiri di atas kaki sendiri, tidak lagi bermanja-manja dan tidak lagi merengek di ketiak bangsa asing.

Jadi, ucapkan Bismillahirrahmanirrahim. Dengan niat mulia, Insya Allah wirausaha akan menjadi masa depan kita.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s