KepribadianYangCacat #1

Perkenalkan. Dia. Seorang pecundang. Seekor kampret. Seonggok jancuk.

Orang yang melihatnya, sepintas akan menyangka bahwa dia adalah pribadi yang ekstrovert. Ramah. Punya banyak teman. Lingkungannya luas. Kepribadiannya menyenangkan. Banyak pergaulan. Dll. Tapi sejatinya, itu hanya tampilan luarnya saja. Karena pada dasarnya dia diberi rezeki berupa pribadi yang introvert.

Banyak yang tidak tau bahwa sebenarnya dia cacat. Apa yang cacat? Yaitu kemampuannya untuk berkomunikasi secara lisan. Ada sedikit sambungan yang mungkin terputus antara apa yang dia dengar, apa yang ada di pikirannya, dan apa yang keluar melalui lisannya. Ya, kemampuan komunikasi lisannya di bawah kemampuan manusia pada umumnya. Namun dia diberikan rezeki lain, yaitu kemampuan komunikasi nya secara tertulis, sedikit lebih baik daripada kemampuan komunikasi lisan.

Namun tak selamanya dia selalu bersama kertas dan pulpen, atau sedia mesin ketik bersamanya. Komunikasi lisan adalah hal yang paling mendasar dalam kehidupan sosial. Dan karena kekurangannya, dia tidak dapat menyampaikan dengan baik apa yang benar-benar ada di pikirannya.

Dia tertutup. Dia pendiam. Dia penyendiri. Dia pecundang.

Dia merupakan penyendiri, meskipun dia sendiri sering menangisi kesendiriannya. Dia bosan sendirian. Dia ingin memiliki teman. Tapi, kemampuan komunikasi lisannya kurang dapat menyampaikan keinginannya yang ingin memiliki teman.

Sejatinya dia memiliki banyak teman dan banyak pergaulan. Sejak jaman sekolah hingga saat ini, mestinya tak terhitung berapa banyak teman yang pernah ia jumpai.

Tapi dari sekian banyak teman itu, berapa banyak teman yang benar-benar bisa saling menyentuh ke dalamnya? Maksudnya, bukan hanya teman di permukaan. Bukan karena menjadi teman karena ada kepentingan. Bukan hanya sebatas sebagai “kenalan”.

Apa parameternya?

Jika dihitung, lebih dari sekitar 30 kali dia bepergian bolak-balik keluar kota menggunakan kereta api. Dari 30 lebih perjalanan itu, hanya kurang dari 5 kali dia duduk dengan seorang teman di sebelahnya. Sisanya, dia selalu berangkat sendiri. Menunggu kereta sendiri. Alhamdulillah masih ada temannya yang mau bersedia mengantarnya ke stasiun.

Ketika menunggu kereta datang, dia selalu iri melihat penumpang yang lain selalu bergerak dalam rombongan. Ya, mereka tidak seorang diri, mereka ramai-ramai bersama teman-temannya. Penuh canda, penuh tawa, penuh ceria, dan sebelum keberangkatan selalu diakhiri dengan pelepasan bersama. Serta lambaian tangan saat kereta berjalan.

Sementara dia, duduk manis di peron seorang diri. Melangkah menuju kereta tanpa ada yang menemani. Menatap keluar kaca jendela tanpa ada yang menanti. Hanya menatap iri kepada mereka yang saling berpamitan, atau mereka yang duduk manis di gerbong bersama teman-teman.

Dia sering bepergian seorang diri, menuju bank, pusat pertokoan, supermarket, dll. Dan sekali lagi, di tempat-tempat tersebut, dia selalu merasa iri melihat pengunjung yang lain yang datang tidak sendirian. Bersama teman, atau bersama keluarga. Sementara dia, hanya sepasang sendal yang setia menemani langkahnya.

Satu-satunya alasan yang menghibur kesendiriannya adalah, bahwa dia sendirian karena sebuah kemandirian. Tapi, bagaimana jika ternyata dia bukanlah seorang yang mandiri, melainkan seorang yang AUTIS?

Dia, introvert. Dia bukan tipe orang yang dengan gampangnya akan bercerita kepada seseorang di hadapannya. Dia bukan tipe orang yang tanpa basa-basi akan menyampaikan apa yang dia rasakan. Dia lebih memilih untuk menyimpan semuanya sendiri, untuk menutup rapat-rapat mulutnya. Meskipun sejatinya dia sendiri pun butuh tempat untuk menyampaikan, tapi entah mengapa dia malu untuk mengungkapkan dan lebih senang menyimpan.

Kapan terakhir kali dia merayakan ulang tahunnya? Tidak, dia tidak pernah merayakannya, selain saat-saat masa kecilnya.

Ketika usianya 17 tahun, jam 4 pagi keluarganya mengetuk pintu kamarnya dan datang dengan sebuah kue tart. Ketika usianya 19 tahun, 5 orang teman kampusnya datang berjalan kaki menempuh jarak 2.5 km dari kampus untuk mendatangi kos-kosannya, hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun. Ketika usianya 20 tahun, 4 orang teman kampusnya mengajaknya berkunjung ke yayasan tempat menampung anak cacat dan anak tanpa orang tua. Ketika usianya 21 tahun, dia hanya menghabiskan 4 jam bersama pedagang angkringan. Sudah itu saja, tak ada perayaan yang sengaja dia buat atau yang dibuat oleh temannya.

Tahun baru? Lupakan tahun baru, cukuplah kasur, bantal dan guling yang menjadi temannya, berbanding terbalik dengan sebagian besar orang yang merayakannya di keramaian. Pada tahun baru 2007, dia melewati malam pergantian tahun hanya seorang diri di kereta. Dari kaca jendela menatap iri ke luar, melihat manusia tumpah ruah menikmati pergantian tahun bersama teman-temannya. Bahkan pada tahun baru 2010, di saat semua orang berlomba merayakannya, dia hanya duduk seorang diri di depan laptopnya menulis sebuah kisah autis. Mengabaikan bunyi kembang api dan suara tawa di luar sana.

Laptop dan gitar. Dua benda itu yang menjadi teman setianya. Serta sebuah kendaraan yang setia mengantar kemana kakinya hendak melangkah. Atau buku-buku yang selalu menemani di saat sepi. Dia sendiri. Dia tersiksa dalam kesendiriannya. Dia tersiksa dalam sepi.

Tidak muluk-muluk yang dia inginkan. Jujur, dia ingin memiliki teman. Bukan sebatas kenalan. Bukan hanya teman atas dasar kepentingan pekerjaan. Tapi teman yang mau menemaninya tanpa alasan.

Dia mencoba untuk membuka diri dengan menjadi seorang “Yes Man”. Kapanpun ada yang memintanya untuk hadir atau minta ditemani, dia selalu mencoba meng-iya-kan. Tanpa mereka perlu tau bahwa mungkin dia sendiri ada kesibukan. Tanpa mereka perlu tau bahwa saat itu mungkin dia sedang tidak berkenan.

Dia mencoba untuk mengingat ulang tahun mereka. Dulu dia sempat terkenal akan kalender di handphonenya yang entrinya penuh dengan ulang tahun mereka yang pernah dia kenal. Dia pun selalu berusaha mengucapkan doa yang terbaik untuk mereka. Meskipun pada saat dia sendiri berulang tahun, hanya sedikit sms yang masuk ke inbox-nya.

Dia sangat senang jika ternyata ada yang welcome padanya. Jika ternyata ada yang memperhatikan dirinya. Jika ternyata ada yang menghubunginya tanpa kepentingan. Karena dia tau seperti apa rasanya sendirian, maka sebisa mungkin dia akan mencoba untuk tidak mengabaikan mereka.

Dia senang kepada mereka yang seperti itu. Meskipun pada akhirnya, rasa senangnya akan menjadi berlebihan. Itu semua hanya karena dia tidak ingin kehilangan. Karena sudah banyak, mereka yang hanya menghubunginya di saat ada kepentingan, tetapi setelah itu pergi menghilang dan melupakan.

Dia ingin memiliki teman. Tapi dia tidak tau bagaimana caranya. Dia ingin memiliki teman. Tapi dia sendiri tidak tau apa definisi dari kata teman. Dia ingin memiliki teman. Tap kepribadiannya lebih memilih untuk menutup diri dari memiliki teman.

Dia itu pecundang. Dia itu kampret. Dia hanya ingin memiliki teman, tapi dia tidak tau bagaimana cara memperlakukan teman. Mana yang disebut teman, bukan teman, atau lebih dari teman. Alasannya hanya satu, yaitu karena dia tidak ingin kehilangan. Karena dia bosan dengan kesendirian.

Sempat ada beberapa yang dia ingin menjadikannya teman. Tapi memang dia kampret, dia tidak tau bagaimana cara memperlakukan teman. Sehingga pada akhirnya mereka lebih memilih untuk menghilang perlahan. Tanpa pernah tau apa yang sebenarnya dia inginkan. Karena kecacatannya, dia tidak mampu menyampaikan apa yang dia inginkan dan membuat orang lain mengerti apa dia maksudkan. Karena memang, cara yang dia gunakan tidak mencerminkan apa yang dia pikirkan.

Dan sekali lagi, pada akhirnya dia hanya menangis seorang diri. Dia memang terlahir dengan kepribadian introvert. Introvert yang penyendiri, meskipun dia bosan seorang diri. Introvert yang pendiam, meskipun banyak yang ingin dia utarakan. Introvert yang pecundang.

Ternyata dunia yang penuh dengan euforia ini memang bukan tempat untuknya. Sudah saatnya dia kembali ke dunianya sendiri. Dunia satu dimensi, berteman laptop, buku-buku, video game, gitar ataupun alam khayalnya. Dan untuk dunia kita miliki hari ini, masihkah ada tempat untuk dia, untuk orang-orang dengan kepribadian yang cacat?

1 Januari 2010, 00:33

One Comment Add yours

  1. ruzee says:

    aku introvert, ku juga merasakan hal yang sama. sering aku bertenya mengapa Tuhan memberiku kepribadian seperti ini yang sangat menyiksa batin. ku iri melihat orang lain bercanda begitu lepas, begitu ringan menjalani hidup. apa ini penyakit, atau kutukan? atau apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s