(Bukan)DongengGreenSeries#2

Masih di tepian Pantai Sambamba. Antonio melihat sebuah kerang teronggok tak jauh dari tempatnya. Ia mendekati kerang tersebut yang tampak berbeda dibanding kerang-kerang yang pernah ia temui saat ini. Kerang itu bercahaya, menarik perhatian setiap orang yang melihatnya.

Antonio melangkah semakin dekat. Hingga akhirnya ujung jemarinya mampu untuk menyentuh kerang itu. Ia angkat kerang tersebut dan diamatinya dengan seksama dalam waktu dan tempo yang sesingkat-singkatnya.

“Kerang yang unik!” gumam Antonio.

Ia masih memperhatikan kerang itu. Tangannya mengetuk-ngetuk kerang tersebut. Tuk tuk tuk… Perlahan-lahan, kerang itu mulai membuka. Kedua katupnya mulai bergerak menjauh, mengeluarkan cahaya silau dari dalamnya. Perlahan demi perlahan, masih di dalam genggaman tangan Antonio.

Samar-samar terdengar alunan musik merdu nan syahdu. Suaranya semakin bertambah keras seiring dengan semakin lebarnya kerang itu membuka. Hingga akhirnya kerang tersebut terbuka seutuhnya, Antonio dapat mendengar dengan jelas lantunan syair yang ternyata berasal dari dalam kerang.

“Wo de ku ai li…

Qing xi fe de yi…

Wo ce lau sin pai…

Gong xi fa cai…”

Entah apa arti dari lirik barusan, Antonio pun tidak mengerti. Yang jelas, ia tau bahwa syair tersebut bukanlah syair cap Banyumasan yang khas dengan ngapak-ngapaknya. (Lha kaya kiyek? Iki wes jam woluk, aja kelalen!)

Karena tidak mengerti apa maksud syair tersebut, Antonio menutup kembali kerang di hadapannya. Seiring dengan menutupnya kerang, lantunan musik juga mulai menghilang perlahan. Kini kerang di genggamannya telah menutup dan suara musik juga telah hilang sama sekali.

Masih dengan kerang di tangan, Antonio kembali melangkah. Ia hendak mencari botol yang bisa digunakan untuk menitipkan surat wasiatnya. Tapi belum sedetik ia bergerak, langkahnya terhenti. Ia melihat ada sesosok makhluk ajaib di depannya. Kalo kata buku-buku biologi jaman sekolah dulu, makhluk itu bernama “perempuan”.

Antonio mengamati sesosok perempuan di hadapannya yang entah datang dari mana, kapan dan sama siapa. Datang tak dijemput, pulang tak diantar. Perempuan itu berkulit kuning bangsat, matanya hanya segaris, lengannya kendor dan perutnya yang berlapis-lapis. Berapa lapis? Ratusan! Lebih!

Perempuan itu tersenyum, kemudian ia berucap pelan, “Haiya, telima kasih, Antonio!”

Antonio bingung. Darimana ia tau namanya? Perempuan ini benar-benar misterius, batin Antonio.

“D… D… Darimana kau tau nama ku?” tanya Antonio tergagap, memberanikan diri untuk bertanya.

“Bukan owe namanya, kalo owe tidak tau lu punya nama!” jawab perempuan itu penuh misteri, dengan logat yang khas.

Antonio bergidik ngeri. Bulu kuduknya merinding. Bulu matanya juga ikutan merinding. Bulu kakinya apalagi, ikut-ikutan merinding. Bulu keteknya pun tidak mau kalah. Kalau bulu itunya, ikutan merinding juga nggak? Mmmmm kasi tau nggak yaaaa…???

“Karena lu telah membebaskan owe dari kelang itu, maka owe akan membeli lu kenang-kenangan sebagai hadiah” Perempuan itu berbicara kepada Antonio.

“Hadiah, hadiah apa?” tanya Antonio. Ia berpikir, melihat tampilan perempuan misterius itu, kenang-kenangan yang diberikannya mungkin berkisar antara peniti, alat tulis, jarum, buku, benang atau apapun yang diimpor grosiran dari China. Mentok-mentok, motor Jia Ling atau makanan. Itu pun makanannya berkisar antara kwetiaw, fu yung hai, atau bebek peking.

“Haiya, terlmalah ini, sebagai tanda telima kasih owe untuk lu olang!”

Perempuan itu memberikan sebuah bungkusan kepada Antonio.

“Owe halus jaga baik-baik ya!” sambung perempuan itu lagi.

Antonio menerima bungkusan tersebut. Belum sempat ia mengucapkan terima kasih, perempuan di hadapannya tiba-tiba telah menghilang lagi entah kemana. Hanya desiran pasir pantai yang kini ada di hadapannya. Di tangannya, tergenggam bungkusan dari perempuan itu. Sementara kerang yang tadi digenggamnya, kini juga menghilang entah kemana.

Antonio mulai membuka bungkusan tersebut, yang dihiasi dengan pita berwarna merah muda. Ia buka bungkusan itu dengan hati-hati sembari berpikir apa isi di dalamnya. Fu yung hai? Jarum pentul? Pensil? Atau malah foto-foto Mao Zedong?

Akhrirnya bungkusan tersebut terbuka seluruhnya. Antonio mengangkat benda berbentuk kotak tips panjang yang ada di dalamnya. Ia angat keudara, dan dengan penuh terima kasih ia berteriak, “Handphone Beyond!”

Teryata perkiraan Antonio tidak meleset jauh. Ia mendapatkan kenang-kenangan berupa handphone murah meriah tapi multifungsi, made in China. Kualitas mungkin tidak kalah dengan buatan Eropa, tapi harganya jelas, China juaranya!

Kini di tangan Antonio tergenggam handphone Beyond pemberian perempuan misterius tersebut. Ia masukkan handphone itu ke saku celananya dan ia kembali kepada tujuannya semula: mencari botol!

Antonio-si-pencari-botol kembali berjalan menyusuri tepi Pantai Sambamba. Ia terus berjalan, berjalan dan berjalan. Langkahnya tertata rapi, kaki kanan lalu kaki kiri, lalu kaki kanan lagi, lalu kaki kiri lagi. Pantatnya bergerak goyang-goyang mengikuti alunan langkah kakinya. Buat lu, buat gue… Buat lu, buat gue… Buat lu, buat gue… Astagfirullah…

Dan langkahnya terhenti, setelah ia menyadari bahwa ada yang aneh dengan hamparan pasir di hadapannya…

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s