(Bukan)DongengGreenSeries#1

Ujung pasir tepi Pantai Sambamba. Angin malam berhembus kencang, mengantar para nelayan melaut mencari buruan. Langit malam cerah tak berawan, dihiasi dengan bulan purnama. Jutaan bintang bersinar berkilauan di atas sana, menemani Antonio yang berbaring seorang diri di tepi pantai.

Antonio termenung. Matanya menatap kosong ke angkasa, menerawang menembus ribuan galaksi di atas sana. Sekalipun jutaan bintang bersedia hadir menemaninya, namun tak mampu mengobati rasa sepi yang ia rasakan malam ini.

“Hmpppppphhh…” Antonio menghirup nafas panjang. “ Fiiiiuuuuuuhhh…” Ia hembuskan di antara bibirnya. “Duuuuutttt… Preettt preeettttt…” Angin juga keluar dari bawah punggungnya, memancarkan semerbak wangi bunga melati yang sudah 5 tahun tidak disiram.

“Uh, bau!” Antonio menutup hidungnya dengan tangan kirinya.

Setelah wangi tersebut menghilang, Antonio kembali pada renungan malamnya. Ia merenungi hari-harinya belakangan ini yang membuatnya seolah-seolah tidak lagi menjadi dirinya sendiri, melainkan menjadi seorang Iron Man. Iron = setrika; Man = manusia. Iron Man = tukang setrika panggilan (Kamus Besar Anak Cacingan, Penerbit: C2C, 2012 SM)

Beberapa hari belakangan ini konsentrasinya terganggu oleh sesosok makhluk yang senantiasa hadir di mimpinya. Antonio merasa gundah dan gelisah. Gundah, gundul tapi indah. Gelisah, geli-geli basah. Ia tak tau apa lagi yang harus dilakukan. Hingga akhirnya malam ini ia memutuskan untuk merenung di tempat ini, Pantai Sambamba.

Jutaan bintang di langit, tetap tak mampu mengobati kegelisahan hatinya. Demikian juga dengan milyaran butiran pasir yang berbisik halus di telinganya, atau dengan bulir air laut dengan kandungan garamnya.

Antonio bangkit dan terduduk. Ia melihat ke sekeliling, menikmati pemandangan Pantai Sambamba malam ini. Di ujung sana, terlihat mercusuar dengan lampu sorotnya. Lampu sorot itu tidak menyorot ke tengah laut, melainkan ke salah satu sudut parkiran mobil, menyorot mobil Nissan SX4 Crossover pelat AD yang sedang bergoyang-goyang. Apa yang terjadi di sana? Ban serep itu yang tau jawabannya.

Di sisi lain, matanya menangkap seorang perempuan berusia 30-an sedang duduk manis diatas tikar rotan. Di sebelahnya, terlihat seorang lelaki bertubuh tinggi besar yang mengenakan kemeja, celana setan, eh celana jin dan sepatu bot. Ia sedang bermain dengan seorang anak berusia kira-kira 8 tahunan. Sebuah keluarga yang bahagia, batin Antonio dalam hati.

“Kapan ya aku bisa kaya gitu?” Antonio berujar lemah sembari menatap mupeng ke arah mereka, dengan mata melotot, mulut menganga dan air liur yang menetes. Tes tes tes…

Antonio berdiri dari duduknya. Ingin rasanya ia pergi dari segala permasalahannya di dunia ini, menghilang bersama gelapnya langit malam, ditiup hembusan angin, atau hanyut bersama butiran air laut. Toh tak akan ada lagi yang memperdulikanku, kecuali tetangga sebelah rumah yang sendoknya belum aku kembalikan, gumam Antonio.

Tekad Antonio sudah bulat. Malam ini, ia memutuskan untuk melangkah menuju dalamnya laut biru. Melintasi Samudera Hihihaha yang membentang di hadapannya. Tak peduli apa yang akan terjadi di dalam sana, apakah tubuhnya mampu bertahan atau tidak. Yang ia inginkan hanya satu: pergi dari daratan tempat ia hinggap saat ini dan menuju ke daratan di ujung sana, Benua Ortisal. Benua dimana Kyle Minogue berasal, dan Nicole Kidman pernah bermain film tentangnya.

Antonio mengambil secarik kertas dari saku kemeja safarinya yang mirip dengan yang sering digunakan oleh mantan-calon-wakil-presiden-RI.  Ia hendak menulis surat wasiat untuk siapapun yang ada di Pantai Sambamba ini. Tapi bodohnya, ia lupa membawa alat tulis.

Namun ia teringat akan jerawat yang setia menempel di wajahnya. Akhirnya ia pencet jerawat itu dengan kedua jarinya secara perlahan dan, “Croooottt…!!!”. Darah segar muncrat keluar dari jerawat tersebut. Ia basahi telunjuknya dengan darah itu dan ia mulai menulis:

“Kepada siapapun kamu yang membaca tulisan ini. Saat kamu membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa aku telah…”

Darah di telunjuknya mengering, padahal ia belum selesai menulis. Ia pencet kembali jerawatnya, dan darah segar kembali mengalir. Ia melanjutkan menulis.

“…aku telah pergi dari tempat ku berada saat ini. Tak usah pedulikan dimana aku berada, karena…”

Lagi-lagi, darahnya telah mengering. Dan Antonio kembali memencet jerawatnya. Tapi kali ini tak ada darah yang keluar dari sana, sekalipun ia telah memencetnya berkali-kali.

Antonio tidak kehabisan akal. Segera ia mengepalkan tangan kanannya. Diangkatnya ke udara kosong, dan dengan sekuat tenaga ia hantamkan tangan kanannya itu ke jerawatnya.

“DUUUUAAAAAAGGG….!!!”

Antonio memukul jerawatnya sendiri. Usahanya tidak sia-sia, jerawatnya kini kembali mengucurkan darah. Bahkan bukan hanya jerawatnya, melainkan dari mulutnya pun juga keluar darah segar!

Antonio tersenyum, kini ia merasa sedikit lega karena telah memiliki stok tinta (baca: darah) yang mencukupi. Dengan meringis menahan sakit, ia kembali menulis.

“…karena aku tak akan kembali lagi. Aku ingin melupakan semua masa lalu ku di tempat ini. Selamat tinggal semuanya.

Tertanda, Antonio.

PS: Untuk tetangga sebelah rumahku, sendokmu aku letakkan di atas wajan. Mohon maaf karena belum sempat aku cuci, silahkan kamu cuci sendiri.”

Fiiiuuuuuhhh… Antonio menghela nafas panjang. Ia baca tulisan itu sekali lagi. Ia masih belum puas. Dua kali lagi. Masih belum cukup. Tiga kali lagi. Dan ia berkesimpulan, tulisannya sempurna! Mirip sama lagunya Andra & The Backbone!

Kini ia tinggal mencari botol untuk mengamankan surat wasiat tersebut. Matanya mencari-cari ke hamparan pasir di sekitarnya. Kakinya melangkah dan bergerak mengoyak-ngoyak pasir Pantai Sambamba. Sampai akhirnya ia melihat ada sebuah botol tergeletak di hadapannya.

Botol itu masih utuh. Tutupnya masih berada pada tempatnya. Dilihat dari label di sisinya, diketahui bahwa botol tersebut adalah bekas botol kecap. Antonio segera menggulung surat wasiatnya. Ia ambil botol itu, kemudian ia buka tutupnya.

Bersamaan dengan dibukanya tutup botol tersebut, tiba-tiba keluar asap putih pekat dari dalam botol. Antonio tersentak. Spontan ia buang botol yang masih mengeluarkan asap itu ke hamparan pasir. Kepulan asap itu semakin pekat dan menggumpal, seakan hendak membentuk sesuatu. Antonio mundur perlahan, dengan gulungan surat masih di tangannya. Ia menyaksikan asap-asap itu semakin mennunjukkan bentuk aslinya.

Akhirnya, asap itu menggumpal dan mendadak muncul seorang perempuan, entah dari mana. Sepertinya jelmaan dari asap itu tadi. Antonio bertahan pada posisinya untuk mengetahui yang terjadi selanjutnya.

“HUAHAHAHAHAHAHAHAHA…”

Perempuan-dari-asap itu tertawa keras sekali. Tinggi perempuannya tidak terpaut jauh dari Antonio, sementara lebar badannya, wah jangan ditanya… Mengenakan baju bertuliskan “Aku nggak gendut kok, cuma kurang tinggi!”, perempuan itu kembali tertawa.

“HUAHAHAHAHAHA…”

Antonio tidak beranjak. Ia penasaran dengan sesosok perempuan-botol-kecap di hadapannya. Perempuan itu mulai bersuara kembali.

“Huahahahahaha… Horas! Aku adalah jin dari Timur Tengah, Bah!”

Dziiiiiiingg… Antonio merasakan ada suatu kejanggalan dari ucapan perempuan-nggak-gendut-cuma-kurang-tinggi barusan. Ia memberanikan diri untuk maju selangkah demi selangkah mendekati perempuan itu, yang kembali bersuara.

“Horas! Aku adalah jin dari Timur Tengah, Bah!”

Kini ia mulai menyadari apa yang salah. Antonio segera mengambil sendal dari kaki kananya, ia angkat dan ia lemparkan tepat ke kepala perempuan-botol-kecap itu, yang memiliki model rambut mirip tokoh kartun perempuan yang suka berpetualang.

“BLETAAAAAK…!!!”

Lemparan Antonio tepat mengenai sasaran. Perempuan-nggak-gendut itu meringis kesakitan sembari memegangi kepalanya. Merasa berada di atas angin Antonio berujar, “Hei, nggak ada jin dari Timur Tengah yang bicara dengan logat Sumatera Utara!”

Perempuan-logat-Sumatera-Utara itu pun menyadari kekeliruannya. Ia tersenyum tersipu malu-malu, mirip Luna Maya keselek gerobak angkringan. Tiba-tiba asap putih kembali muncul dan dalam waktu singkat, perempuan-Timur-Tengah-palsu itu menghilang dari pandangan Antonio, menyisakan kepulan asap yang bergerak masuk menuju botol kecap.

Antonio segera mengambil botol-kecap-ajaib tersebut, menutupnya kembali, dan melemparnya ke laut sejauh yang ia mampu. Dalam waktu sekejap pandangan mata, botol kecap tersebut pun hanyut ditelan ombak.

Merasa tertipu oleh botol kecap barusan, Antonio kembali berjalan menyusuri tepian Pantai Sambamba. Ia masih mencari botol yang akan digunakan untuk menyimpan surat wasiatnya. Ia masih terus mencari dan mencari.

Tiba-tiba, ia melihat ada sebuah kerang tak jauh dari tempatnya. Ia mendekati kerang tersebut yang tampak berbeda dibanding kerang-kerang yang pernah ia temui saat ini. Kerang itu bercahaya, menarik perhatian setiap orang yang melihatnya. Kerang itu…

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s