MobilDinas #2

Oke, kita kembali lagi untuk membahas masalah pengadaan mobil dinas pemerintah. Sebelom baca tulisan ini, ada baiknya kalian baca dulu tulisan sebelomnya yang berjudul “MobilDinas #1”. Toyota Crown Royal Saloon, 1 unitnya seharga 1.2 miliar rupiah, dianggarkan untuk sekitar +- 37 unit sehingga totalnya sekitar 44.4 miliar rupiah.

Sebenernya 1.2 miliar rupiah itu angka yang kecil atau besar sih? Untuk mereka yang terbiasa dengan dunia Bank Century yang ditalangi dana 6.5 triliun rupiah atau bagi mereka yang penghasilan minimal per bulannya puluhan juta rupiah, mungkin angka 1.2 miliar rupiah adalah hal yang biasa. Cukup nabung selama 1 tahun, terkumpul deh uang sebanyak itu.

Tapi, bagaimana dengan pemulung sampah Monas yang berpenghasilan +- rp 10.000,00 per hari? Atau dengan mas-mas pedagang angkringan depan kosan C-19 yang memperoleh rezeki +- rp 70.000,00 per hari? Atau dengan petani Desa Cucukan, Prambanan, Klaten yang berpenghasilan +- rp 2.000.000,00 per 3 bulan? Atau dengan mas-mas penarik kereta mini Kecamatan Gantiwarno, Klaten yang berpenghasilan +- rp 80.000,00 per hari? Atau dengan General Manager C2C yang berpenghasilan +- rp 650.000,00 per bulan? Idih, curhat colongan…

Oke, angka 1.2 miliar rupiah memang bisa dikatakan murah untuk sebuah negara yang memilik APBN lebih dari 1.000 triliun rupiah. Tapi…

Apakah itu wajar jika disaat yang bersamaan, ribuan bahkan mungkin jutaan orang di negara tersebut, harus bekerja sekuat tenaga demi mencari sesuap nasi?

Apakah itu wajar jika disaat yang bersamaan, anak-anak harus bekerja membantu orangtuanya karena para orang tua tidak mampu membiayai pendidikan anaknya?

Apakah itu wajar jika disaat yang bersamaan, guru-guru menangis karena segala usahanya untuk mendidik calon pemimpin bangsa, tidak dihargai sama sekali oleh para pemimpin bangsa yang notabene dulunya adalah hasil didikan mereka?

Apakah itu wajar jika disaat yang bersamaan, rakyat kecil hanya bisa menidurkan keluarganya yang sakit di rumah karena tidak memiliki biaya untuk berobat ke rumah sakit?

Sadarlah wahai manusia… Sadarlah… WUOOOOY SADAR WUOOOOOOYYYY…!!!

Dalam waktu 1 hari, uang sebesar 1.2 miliar rupiah keluar dari kas negara untuk membiayai mobil dinas seorang pejabat negara. Tapi, berapa lama waktu yang diperlukan mas-mas pedagang angkringan untuk memperoleh uang sebanyak itu? Dengan penghasilan rp 70.000,00 per hari, maka dia harus membuka angkringannya selama 17.142 hari, alias selama +- 50 tahun!!! Alamakjan…

Dari pemberitaan di Jawa Pos Selasa 29 Desember 2009, dijelaskan bahwa sejatinya harga Toyota Crown Royal Saloon tersebut tidak mencapai 1.2 miliar rupiah, melainkan hanya 600 juta rupiah saja, tidak jauh berbeda dengan Toyota Camry. Yang membuatnya mahal adalah karena mobil tersebut terkena pajak barang mewah. Namun pajak tersebut pada akhirnya akan kembali lagi ke kas pemerintah. Sehingga, harga “bersih” untuk 1 unit mobil dinas ini adalah sekitar rp 600 juta.

Ya ya ya, ternyata hanya sekitar 600 juta. Kalo gitu, kenapa tidak menggunakan Toyota Camry saja? Ups, salah pertanyaan. Kenapa lebih memilih untuk membeli mobil baru, kenapa tidak menggunakan mobil dinas yang kemarin saja? Kan usianya baru 5 tahun?

Dijelaskan lagi di harian tersebut bahwa usia mobil normalnya memang hanya sekitar 5 tahun. Mobil normal? Berarti mobil Daihatsu Taruna dan Toyota Soluna ku yang berumur lebih dari 8 tahun, termasuk kategori tidak normal donk? Ya, mungkin kita bisa menjawab, “Ah mobil kamu kan cuma dipake jalan-jalan ke tempat yang deket-deket aja!”

Kalo patokannya adalah kilometer jarak tempuh, kedua mobil tersebut memang baru menempuh jarak +- 65000 kilometer selama +- 8 tahun. Tapi Toyota Avanza milik saudara ku di Bojonegoro yang sering digunakan keliling Jawa Timur dan Jawa Tengah, sudah menempuh jarak lebih dari 70000 kilometer selama 5 tahun, dan masih terus digunakan sebelum diganti dengan yang baru.

Memangnya, mobil dinas itu mau digunakan kemana saja sih? Karena pejabat pemerintah kantornya berdomisili di Jakarta, mungkin mentok-mentok mobil tersebut hanya digunakan untuk mobilitas dalam kota. Kalau pun ke luar kota, mungkin sejauh-jauhnya ya ke Bandung. Kalo mau ke Surabaya atau Yogyakarta, dengan kesibukan para pejabat yang begitu padat, bukankah lebih baik naik pesawat? Lalu bagaimana kalau dinas ke luar pulau, apa mobilnya mau dibawa juga?

Jadi, sampai hari ini aku masih bertanya dalam hati, apa alasan pemerintah menganggarkan kas negara sebesar 1.2 miliar rupiah (atau +- 600 juta rupiah kalau pajaknya kembali ke kas negara) hanya untuk sebuah mobil dinas? Padahal di saat yang bersamaan, jutaan rakyat mereka tanpa kenal menyerah dan mengeluh masih harus bekerja keras demi kelangsungan hidup dirinya dan keluarganya.

Sebaiknya, pemerintah bisa lebih berhemat lagi dengan memilih menggunakan kendaraan yang lebih murah meriah. Tidak perlu bergaya yang mahal-mahal, yang lebih penting adalah fungsinya yaitu bisa mengantar sampai ke tujuan. Mengenai fasilitas di dalam mobil itu sendiri, memangnya apa saja sih yang ingin mereka lakukan di dalam mobil tersebut?

Atau kalau mau lebih efisien lagi, ya silahkan gunakan saja Toyota Camry sisa periode sebelumnya. Karena sampai hari ini aku selalu bertanya, setiap kali pemerintah melakukan pengadaan mobil dinas baru, lalu mobil dinas yang lama dikemanakan?

Mungkin cukup sekian saja tulisan dari ku kali ini. Silahkan kalian memberikan kesimpulan sesuai pendapat masing-masing. Dan sebagai bonus, berikut ini aku berikan tanggapan dari beberapa menteri terkait pengadaan mobil Toyota Crown Royal Saloon yang baru ini. Disarikan dari harian Jawa Pos dan Kompas Selasa 29 Desember 2009.

“Yang kemarin kelasnya Camry. Saya merasakan sering ke bengkel. Saya kira (mobil baru) tidak berlebihan. Mobilnya juga bukan mobil mewah, Toyota juga. Pokoknya, satu grade di atasnya lah.” Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara.

“Saya rasa masih lebih enak pakai Mercedes saya. Tetapi kalau acara resmi, saya pakai mobil dinaslah.” M.S Hidayat, Menteri Perindustrian.

“Mobilnya lebh kecil, lebih sempit dari yang dulu.“ Hatta Rajasa, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

“Enggak penting mobil barunya. Yang penting tugasnya.” Darwin Z. Saleh, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.

“Lebih sunyi, lebih senyap. Alhamdulillah, mudah-mudahan bisa meningkatkan semangat saya dalam bekeja.” Gusti Muhammad Hatta, Menteri Negara Lingkungan Hidup.

“Saya lebih memilih untuk setia dengan mobil Toyota Soluna saya. Harganya jauh lebih murah, tidak sampai 75 juta rupiah. Fasilitasnya pun sudah cukup memadai, minimal untuk tidur, menikmati pemandangan, mendengarkan musik, membaca buku, membuka laptop atau menyimpan barang di bagasi. Daya tahannya juga terjamin. Terbukti, saya sudah berulang kali menyerempet sana-sini dan menggeber pedal gas rem dan kopling tanpa belas kasihan, tapi Alhamdulillah masih hidup sampai hari ini. Usianya sudah 8 tahun loh! Kalaupun nanti sudah tidak saya gunakan lagi, bisa saya jual ke perusahaan-perusahaan taksi. Kalau ada yang lebih murah, buat apa cari yang mahal”. C-Kink, Mantan Menteri Koordinator Lini Eksternal BEM KMFT UGM.

Hohohohoho… Sekian dan terima kasih.

2 Comments Add yours

  1. finarukawa says:

    ak mau komen..

    hmm.. kalo ak bilang sih kalo dibandingin sama rakyat Indonesia, yang mayoritasnnya adalah orang” ga mampu, memang timpang..
    tapi kalau dibandinginnya sama kerja menteri yang buanyak banget, kalo ak bilang sih wajar dia dapet mobil seharga toyota crown..

    ak masih inget satu komentar dari Bibit Slamet Riyanto selaku wakil ketua KPK.
    “Kalau memang itu bisa membuat para menteri jadi ga korupsi lagi sih bagus.. Mungkin dengan adanya mobil mewah, mereka bisa istirahat di dalam mobi. Kpk sendiri aja susah punya waktu buat tidur. KPK tidak diberikan mobil, karena sudah digaji dengan uang.”

    Membayangkan begitu banyak kerjaan menteri, dan begitu besar tanggung jawabnya, menurutku itu setimpal buat mereka. Karena bisa aja Toyota Crown itu dipotong dari gaji mereka..
    Daripada mereka ga dikasih bayaran yang setimpal terus mereka turun performanya, atau lebih parah lagi sampe mereka korupsi, wah itu lebih bahaya lagi kan..

    Tapi kalau udah dikasih mobil bagus begitu, tapi kinerjanya asal asalan itu baru yang jadi masalah..
    semoga aja setiap kali mereka naik mobil itu, mereka terbayang” berapa imbalan yang udah diberikan negara buat dia, jadinya memacu dia untuk kerja semaksimal mungkin :p

  2. miawruu says:

    SBy tuh… mentang2 ni periode terakhir masa pemerintahannya, APBN di abis2in (dan yg jelas abisnya bukan buat kesejahteraan rakyat)

    ada kabar baru lagi tuh, selain duit abis buat beli mobil dinas, buat perbaiki pagar istana aja keluar lagi dana 22,5 miliar. ckckckck skalian buat motongin rumput istana keluarin 10 milyar lagi deh, nanggung abis APBN nya

    (kata SBY: iya ya, good ide tuh)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s