PemadamanBergilir,KapankahAkanBerakhir?

 

Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar masalah pemadaman listrik di sejumlah daerah di Indonesia. Berulangkali berita tersebut menghiasi media massa meskipun masih kalah bersaing dengan berita mengenai kasus penegakan hukum di negara ini yang ternyata bermasalah.

Untuk wilayah Pulau Sumatera dan Kalimantan, pemadaman listrik adalah hal yang mungkin sudah menjadi santapan sehari-hari bagi mereka. Bagaimana setiap harinya, selama beberapa jam dalam sehari, mereka harus merasakan kehidupan kembali ke zaman purba akibat adanya pemadaman listrik yang bergilir, bahkan sudah terjadwal dan terencana setiap harinya. Adalah kelalaian pemerintah yang terlalu memusatkan pembangunan hanya di Pulau Jawa dan mengabaikan pemerataan untuk wilayah lainnya.

Tapi dalam hari-hari terakhir, beberapa wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jabotabek ternyata juga mengalami hal serupa. Berawal dari kurangnya pasokan daya yang ada, ditambah lagi dengan permasalahan pada beberapa gardu dan perawatan rutin, beberapa daerah di Jabotabek juga harus mengalami pemadaman listrik secara bergilir.

Pemadamannya pun tidak tanggung-tanggung, mencapai sekian jam per hari. Sekalipun PLN sebelumnya telah menginformasikan adanya pemadaman, namun realitanya pemadaman yang terjadi seringkali tidak sesuai, bahkan terkadang melebihi waktu yang telah dijadwalkan.

Siapa yang dirugikan dengan pemadaman seperti ini? Jelas, konsumen lah yang dirugikan, dalam hal ini adalah masyarakat umum. Bermacam protes mengalir, khususnya dari kalangan usaha dan industri, yang kesehariannya terganggu akibat pemadaman ini.

Industri tekstil, mereka terpaksa mengeluarkan anggaran lebih untuk biaya operasional genset. Industri palstik, pemadaman yang tiba-tiba membuat proses pembuatan plastik menjadi rusak dan tidak sempurna, serta tidak dapat digunakan lagi. Bahkan sampai jasa usaha laundry sekalipun, pemadaman listrik membuat mereka tidak dapat menyelesaikan cuciannya dengan tepat waktu. Tentunya hal ini berimbas pada kerugian materil dan tentu saja, kepercayaan pelanggan.

Namun apa daya, tidak ada yang dapat mereka lakukan selain mengeluhkan pemadaman yang rencananya baru dapat diatasi oleh PLN pada pertengahan Desember, namun diralat dan kemudian dimajukan menjadi awal Deember. Sementara kompensasi yang dapat diberikan PLN hanyalah potongan 10% bagi mereka yang terkena imbas pemadaman ini. Nilai yang tidak sebanding dengan kerugian yang diterima.

Sebenarnya, apa inti permasalahan yang membuat PLN harus melakukan pemadaman bergilir? Terlepas dari kinerja dan operasional dari PLN itu sendiri, ada satu hal yang sangat mendesak, yaitu: kurangnya pasokan daya listrik yang dihasilkan dari pembangkit yang ada.

Pasokan daya yang ada tidak mampu mencukupi kebutuhan daya yang diperlukan, sehingga perlu dilakukan pemadaman bergilir untuk menjamin semua konsumen sempat menikmati listrik (meskipun hanya seadanya). Ditambah lagi dengan perawatan rutin pada pembangkit yang membuat unit-unit pembangkit tersebut harus di-non aktif-kan, semakin mengurangi pasokan daya yang ada dan semakin sering terjadi pemadaman bergilir.

Lalu adakah solusi untuk mengatasi itu semua? Sampai detik ini, pemerintah sedang dalam proses pembangunan pembangkit 10.000 MW. Hal itu merupakan suatu tindakan yang patut diapresiasi. Namun sangat disayangkan, sebagian besar pembangkit yang dibangun masih berorientasi pada pembangkit berbahan bakar fosil, khususnya batu bara.

Kita semua tahu bahwa bahan bakar fosil dalam waktu yang tidak lama lagi jumlahnya akan segera habis. Lalu tidakkah terpikirkan di benak para pembuat kebijakan di negara ini, untuk beralih menggunakan pembangkit non fosil, dalam hal ini adalah Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir?

Sebagian besar negara maju, secara perlahan telah mulai meninggalkan ketergantungannya terhadap bahan bakar fosil. Bahkan beberapa negara telah menggunakan PLTN sebagai pembangkit utama di negara tersebut. Kapankah kita akan segera menyusul langkah-langkah mereka?

Beberapa studi terkait pembanguan PLTN di Indonesia telah dilakukan sejak puluhan tahun lalu. Bahkan para ahli di bidang nuklir juga telah dihasilkan sejak lama. Kini semuanya tergantung kepada mereka yang membuat kebijakan, kapankah negara ini akan mulai membangun PLTN pertamanya di bumi pertiwi. Sementara kita semua disini hanya bisa menunggu tanpa kepastian yang pasti.

 

 

2 Comments Add yours

  1. Gravekeeper says:

    hum… boleh lah sampai tahun ini pemadaman bergilir…

    MULAI TAHUN DEPAN… GAK ADA YANG NAMANYA PEMADAMAN BERGILIR LAGI…!!!

    nah, makanya biar itu tercapai, ayo ajakin semuanya ikutan di

    PPTEA (PELATIHAN PEMBUATAN TEKNOLOGI ENERGI ALTERNATIF) yang diadakan BEM KMFT UGM, tanggal 19 November 2009.

    Pembicaranya ada dari ESDM, LIPI, sama Dosen TEKNIK KIMIA..

    HTM: 10.000 (S1 & D3), 20.000 (S2 & Umum)

    AYO BURUAN DAFTAR….

  2. Pasang Iklan says:

    wah wah wah…
    makin kacau saja nih…
    krisis listrik telah meraja lela..
    kini pemadaman listrik terjadi di beberapa daerah.
    ini tentu saja merugikan banyak pihak.

    pemadaman ini diakibatkan karena konsumen pemakai listrik terus meningkat.
    sedangkan pasokannya belum memenuhi.

    pemadaman ini juga terjadi karena PLN menderita kerugian besar.
    dimana tindakan pencurian listrik sudah merajalela
    sehingga tidak terkonrol lagi pemakaian listriknya.
    sehingga PLN tidak dapat mendistribusikan pasokan kedaerah2 yang terkena pemadaman bergilir.

    semoga saja pemadaman ini bisa segera diselesaikan.
    semoga saja perawatan serta penambahan genset oleh PLN pada induk2 pusat bisa selesai secepatnya.

    Iklan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s