CerpenAjaib

CerpenAjaib

Introduction – Pendahuluan

Cerpen ini dutujukan untuk semua orang, namun lebih khususnya kepada anak-anak yang berusia 10 tahun ke bawah. Sebaiknya Anda tidak membaca cerpen ini jika:

–          Bulu kaki Anda sudah panjang dan lebat.

–          Rambut Anda sudah banyak beruban.

–          Wajah Anda sudah penuh dengan keriput.

Sebaliknya, sebaiknya Anda membacca cerpen ini jika:

–          Anda masih berjiwa muda.

–          Rambut Anda belum beruban.

–          Tampang Anda masih imut-imut.

–          Anda adalah fans beratnya C-Kink.

–          Anda sedang tidak ada kerjaan.

Ya, terima kasih atas perhatiannya. Mari kita bersama-sama membaca cerpen in dengan bacaan basmalah. Bismillahirrahmanirrahim.

Nanang dan Uang-Uang

Hari ini, di rumah Nanang lagi rame. Bukan rame karena bunyi kereta, tapi rame karena sodara-sodaranya Nanang (sejenisnya monyet, gorilla, lutung dll) sedang berkumpul di rumah Nanang. Sodara-sodaranya Nanang berangkat naik kereta. Mereka mencarter kereta dari Solo sampai ke stasiun Pondok Cina.

Nanang sangat senang bila ada sodaranya yang datang berkunjung, karena sebelum pulang, sodara-sodaranya selalu memberikan uang jajan untuk Nanang.

Malam hari, setelah sodara-sodaranya sudah pulang, Nanang menghitung uang yang diperolehnya layaknya sopir angkot megnhitung uang setoran. Selembar, dua lembar, tiga lembar, …, …, wah, lumayan, dapet banyak. Sebagaimana layaknya manusia yang ingin pamer, Nanang langsung mengangkat gagang telpon dan menekan tombol 085691012852.

Nanang             : “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

C-Kink                                : “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Nanang             : “Eh Nyet! Gue dapet rp 500.000,00 dong dari sodara gue!”

C-Kink                                : “Apaan Njing? Gue hari ini dapet rp 650.000,00 dari ngamen di Pondok Indah!”

Nanang             : “Sialan! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

C-Kink                                : “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

Hohohoho. Rupanya uang Nanang masih belum seberapa. Tapi dia sudah cukup senang. Malam semakin larut. Nanang menghitung uangnya lagi dan akhirnya dia tertidur dengan uang itu sebagai bantalnya. Zzzzz….. Zzzzzz….. Zzzzzz…..

Keesokan harinya, Nanang bingung, uang sebanyak itu mau diapakan. Ada banyak keinginannya, diantaranya: pengen mentraktir Marshanda, pengen beli mobil-mobilan remote control, pengen beli PS one dan pengen beli permen sekarung. Lalu dia bertanya kepada ayahnya.

Nanang             : “Pak uang Nanang kemaren mendingan dipake buat apa?”

Sihono               : “Mendingan uang itu kamu tabung. Kan lumayan”

Kemudian Nanang bertanya kepada Nining, kakaknya.

Nanang             : “Kak, uang yang kemaren gue dapet mendingan gue apain?”

Nining                  : “Mendingan lu kasih ke gue. Gue lagi bangkrut nih! Padahal gue kan mau  nonton konsernya C-Kink di Tanah Kusir!”

BLETAK!!! Sebuah pulpen mendarat dengan mulus di wajah Nining. Nanag segera berlari meninggalkan Nining. Dia bertanya lagi kepada ibunya yang bernama Sihini.

Nanang             : “Ibu, uang yang kemaren Nanang dapet mendingan diapain?”

Sihini                 : “Oh mendingan kamu tabung di bank. Atau kamu tabung aja di celengan”

Nanang             : “Celengan, emang kita punya?”

Sihini                 : “Ada kok. Kamu ambil aja ayam-ayaman di gudang”

Dengan langkah meyakinkan, Nanang beranjak menuju gudang. Namun dia tidak menemukan ayam-ayamannya. Dia malah menemukan ayam betulan yang lagi jalan-jalan cari angin. Nanag bertanya kepada si ayam, “Eh ayam! Ayam-ayaman gue lu kemanain Yam?”

Si ayam yang terusik oleh pertanyaan itu, langsung melompat dan mematok Nanag. Petok! Spontan saja Nanang kesakitan. DIa mendengus, “Huh ayam sialan! Gue kepret jadi ayam lu!”

Seteah mencari-cari, akhirnya ayam-ayaman itu berhasil ditemukan. Rupanya ayam-ayaman itu ada di bak mandi, lagi berenang, Nanang segera membersihkan dan menjemurnya. Sambil menunggu ayam-ayaman itu kering, Nanang jalan-jalan dulu ke stasiun. Siapa tau bakalan enmu uang logam yang jatoh di peron-peron stasiun. Bukannya uang logam, dia malah nemuin fotonya C-Kink yang berserakan.

Akhirnya ayam-ayamannya kering. Lalu Nanang memasukkan uangnya ke celengan ayam itu, sambil dihitungin uangnya satu-satu. Tapi kok jumlahnya berkurang? Oh iya, tadi kan udah dipake buat beli koran Lampu Merah sama majalah FHM di stasiun.

Keesokan harinya, Nanang menelpon C-Kink lagi untuk pamer.

Nanang             : “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

C-Kink                                : “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Nanang             : “Oi Kunyuk! Gue udah nabung di celengan dong!”

C-Kink                                : “Apaan Kuya? Kuno lu! Gue sih nabungnya udah di bank!”

Nanang             : “Brengsek lu! Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

C-Kink                                : “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

Nanang dongkol kaya ikan tongkol nelen jengkol. Kemudian Nanang mengambil celengannya. DIa keluarkan semua uang yang ada di celengannya itu Lalu dia menghampiri ibunya, dan meminta untuk membuka tabungan di bank. Ibunya manggut-manggut saja.

Siang harinya, Nanang udah rapi jali dan cakep layaknya Jojon. DIa dan Sihono pergi ke Bank Syariah Mandiri di jalan Margonda. Di sana, Nanang membuka tabungan baru atas namanya sendiri, Monang Nanang Bonang Unang bin Sihono. Setelah proses registrasi dan penyetoran selesai, Nanang pulang kembali ke rumahnya. DI perjalanan dia bertanya kepada ayahnya.

Nanang             : “Pak, kenapa sih nabungnya mesti di bank syariah?”

Sihono               : “Hahahahaha. Kamu masih terlalu muda 15 tahun untuk mengetahui hal itu”

15 tahun kemudian…

Nanang             : “Pak kenapa nabungnya mesti di bank syariah?”

Sihono                 : “Loh, udah 15 tahun lewat ya? Padahal baru longkap 3 baris! Penulisnya goblok nih! Waktunya kecepetan! Yah soalnya kalo nabungnya di bank konvensional, bunganya haram karena tergolong riba”

Nanang             : “Cuma itu doang?”

Sihono               : “Iya, kenapa?”

Nanang             : “Nanang udah capek nunggu 15 tahun, tapi jawabannya cuma gitu doang…”

Ya, sekarang Nanang sudah berumur 30 tahun. Dia sudah beristri. Istrinya, siapa lagi kalau bukan Marshanda. Mereka berdua hidup berbahagia di Pondok Cina. Saat ini, Marshanda sedang mengandung 7 bulan. Untuk membeli perlengkapan bayi, Nanang mengambil uangnya yang selama ini dia tabung di Bank Syariah Mandiri.

Nanang mengambil uangnya dan ternyata jumlahnya sudah menjadi jauh lebih besar. Dengan uang itu, dia bisa membeli peralatan untuk bayinya dan membeli perabotan rumah tangga lainnya.

Nanang langsung menelpon C-Kink, teman lamanya yang kini entah dimana.

Nanang             : “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

C-Kink                                : “Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Nanang                : “Hahahaha. Sekarang gue udah kawin, punya rumah bagus, dan pengen punya anak. Hahahahahahaha”

C-Kink                                : “Sialan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh”

Nanang             : “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh”

TAMAT

Ending – Penutup

Cerpen ini hanyalah fiktif belaka. Terima kasih atas kesediaan Anda untuk membacanya. Kita jumpa lagi kapan-kapan. Hahahahahahahahahahaha.

Ucapan Terima Kasih

Atas selesainya cerpen ajaib ini, C-Kink bersedia untuk mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

–          Allah swt, tiada Tuhan selain Engkau ya Allah.

–          Muhammad Rasulullah saw, manusia yang tiada tandingannya.

–          Pudji Indrawati dan Astoto Slamet, pasangan paling berbahagia di muka bumi.

–          Yanuar Galih Nugroho alias Nanang beserta keluara yang menjadi tokoh utama dalam tulisan yang nggak jelas ini.

–          Marshanda dan Bank Syariah Mandiri yang menjadi figuran di cerita ini.

–          Bank Mandiri yang memproduksi buku tulis bertema “Aku Anak Mandiri” yang menjadi inspirasi dalam menulis cerpen ajaib ini.

–          Dan kamu-kamu semua yang udah rela membuang-buang waktu cuma untuk baca coretan aneh ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s