AkuSenang

AkuSenang

(note: tulisan ini adalah kejadian beberapa jam sebelum tulisan ku yang judulnya “DiaMasihBerlari”)

Minggu, 30 Agustus 2009, Yogyakarta

Sekitar jam 12 siang, setelah aku pulang dari rumah Pak Baha’udin selaku DPL KKN Unit 183 untuk minta tanda tangan, aku bergegas menuju kantor Tiki yang berada di jalan veteran. Nunu yang udah mangkat ke Jakarta mengirimkan LPK-nya lewat Tiki, dan aku harus segera mengambilnya langsung disana.

Sebelomnya jam 10-an aku ditelpon sama orang Tiki Jogja yang mengatakan bahwa kiriman untuk saudara C-Kink sudah sampai. Tapi karena di kiriman itu nggak ada alamat konkrit kosanku dan juga nggak ada tenaga pengantar yang masuk (karena pas hari libur), akhirnya aku disuruh supaya dateng sendiri kesana buat ngambil kirimannya. Di telepon pun kita sempet gontok-gontokan ngebahas dimana itu Umbulharjo, Jalan Taman Siswa dan Jalan Veteran. Ya maklum lah Mas, akika kan orang perantauan bow…

Sampe Tiki, akhirnya semua beres. LPK Nunu udah di tangan. Sementara di kosan udah menunggu LPK-LPK anak Cucukan lainnya, yang pengumpulannya molor jauh dari tanggal yang udah aku tetapkan. Huh dasar bangsa Indonesia sukanya telatan dan mepet-mepet deadline. Dan betapa peranku sebagai Kormasit sangat-sangat tidak dihargai… Huiks huiks… Udah ah, kok malah jadi curhat colongan?

Finally aku pulang ke kosan dengan selamat. Segera aku kumpulkan semua LPK yang berserakan kemudian menyusunnya menjadi 1 bundel. Jadinya lumayan tebel juga nich. Kalo dipake buat nimpuk maling kayanya enak deh…

Sekitar jam 1-an, aku segera berangkat lagi membawa bundelan LPK itu untuk dijilid. Aku memacu MyLovelySolBro menuju pusat fotokopi Prima yang letaknya berseberangan dengan Mirota. Sampai disana, ternyata Prima tutup! Ya maklum lah, namanya juga hari Minggu. Untung tadi aku sempet ngeliat fotokopian yang di sebelah utaranya Gading Mas buka. Aku lupa nama tempat fotokopian itu apa, jadi sementara kita sebut aja fotokopian itu dengan nama “Mawar” (bukan nama sebenarnya). Aku pun memutar arah MyLovelySolBro menuju fotokopi Mawar.

Sampailah di tempat fotokopi Mawar. Segera aku tenteng bundelan LPK dan aku serahkan kepada pegawai disana. Beginilah percakapan antara makhluk imut tersebut dengan pegawai fotokopi Mawar. C untuk C-Kink dan B untuk Bunga (juga bukan nama sebenarnya).

C          :“Mas, ini tolong difotokopi 3 kali. Terus semuanya djilid ya!”

B          :“Oh iya Mas, siap! Yang asli juga dijilid?”

C          :“Iya Mas”

B          :“Oke!”

C          :“Jilidnya pake warna biru muda ya Mas, kaya warna ini (menunjuk ke sampel warna yang ada di tempat fotokopian tersebut)”

B          :“Siap Mas!”

C          :“Kalo nanti malem diambil bisa nggak Mas?”

B          :“Nanti malem jam berapa Mas?”

C          :“Jam 7 ya Mas. Bisa kan?”

B          : “Bisa donk Mas. Apa sih yang nggak bisa buat Mas yang ganteng ini… (sambil berkedip *triiing)”

C          : “Aaaaaah, Mas bisa aja deeeech… (sambil menjawil dagu si Mas Bunga)”

B          : “Aduh geli Mas… Mau lagi dong dijawil-jawil… (sambil menggesek-gesekan tangan ke lehernya sendiri)”

C          : “Yuuuk sini yuuuuk… (sambil menjulurkan lidahnya melet-melet keluar-masuk. Slruuuup…)”

STOP!!!!

Kita kembali lagi ke bahasan awal. Lupakan semua dialog menjijikkan di atas!

Akhirnya disepakati bahwa bundel tersebut bisa aku ambil jam 7 malem nanti. Sementara sekarang masih sekitar jam setengah 2 siang. Akhirnya aku pun pamit pulang sama si Mas Bunga tersebut. Dadaaaaah…

5 jam kemudian…

Jarum jam di kamar kosanku yang berukuran 5 x 3 meter menunjukkan angka 18.30. Sementara layar televisi yang aku putar ke chanel Global TV masih menampilkan 2 orang komentator sedang beradu mulut membahas preview balapan di GP Belgia, Spa-Franchorchamps malam ini. Aku pun segera bergegas dan berkemas dan masuk ke dalam MyLovelySolBro untuk menuju fotokopi Mawar, mengambil LPK yang aku jilid tadi siang.

Sampai disana, ternyata penjilidan masih belom selesai seutuhnya. Aku pun nongkrong disana sembari menunggu prosesi penjilidan berakhir. Sambil nongkrong, aku memperhatikan kertas-kertas yang sedang digarap oleh para pegawai fotokopi mawar lainnya. Dan you know what, hampir semua kertas yang ada disana merupakan LPK! Sama seperti tujuan aku ada disini malam ini!

Disana bertebaran LPK-LPK entah milik unit dan subunit mana aja. Demikian juga dengan konsumen yang datang, sebagian besar dari mereka datang untuk memfotokopi LPK, menjilidnya, atau bahkan mengambil LPK yang sudah dijilid. Plus ada beberapa yang memfotokopi RPK yang ukurannya segede gaban, kira-kira seukuran kertas A2.

Tiba-tiba ada sebuah mobil Daihatsu Taruna datang dan parkir disana. Kucluk kucluk, aku memperhatikan Taruna itu dengan saksama, mengingat Taruna adalah mobil milik keluargaku di Depok dan Taruna juga adalah mobil yang pertama kali aku coba mengendarainya.

Dari dalam mobil turun 2  ekor perempuan, yang satu berjilbab dan yang satu lagi hitam tapi manis, dengan rambut bekas rebonding salon, kaos hijau ketat dan celana pensil. Mereka membawa kantong plastik putih bertuliskan “KKN PPM UGM”, sebagai bukti bahwa malam ini dia datang kesini dengan tujuan yang nggak jauh beda dengan tujuan ku.

Dengan harap-harap cemas, aku berharap supaya dia melangkah kesini dan berhenti di dekatku untuk bertansaksi dengan pegawai fotokopi Mawar. Tapi ternyata hal itu nggak terjadi, malah mereka ngambil posisi yang jauh dari aku. Huh payah banget dah ah…

Padahal kalo mereka posisinya deketan, kan aku jadi bisa punya temen ngobrol buat nungguin LPK ku selesai dijilid.

“Halo Mbak…! Malem ini Mbak pake celana dalem warna apa?”

BLETAAAAK…!!! Dan sebuah sendal jepit mendarat mulus di jidatku.

Oke, buang semua imajinasi nggak jelas tersebut. Akhirnya aku hanya bisa menuggu LPK ku sambil menatap mbak-mbak itu dari kejauhan, tanpa sanggup bertegur sapa. Huiks huiks… Sroootttt…

Finally jam 7 lewat belasan menit, LPK ku selesai juga. 4 bundel LPK semuanya sudah terjilid rapi dengan cover warna biru muda.

C          : “Berapa Mas?”

P          : “Ini semuanya… (ngitung)

Mmmmm… (masih ngitung)

… (tetep ngitung)

Kriiiik… Kriiik…

Oh iya, bentar ya Mas!”

C          : “??????”

Dan si Mas Putri (bukan nama sebenarnya) itu pun ngeloyor pergi meninggalkan aku sendiri. Dia menemui salah seorang pegawai lainnya di belakang. Mengeluarkan kertas, menulis sesuatu, lalu datang kembali ke hadapanku.

P          : “Semuanya 12 ribu Mas!”

C          : “Oke. Ini Mas!”

P          : “Iya, terima kasih Mas!”

(untuk mempersingkat waktu, jangan harap ada adegan homoisme di dialog yang kedua ini!)

Aku ambil 4 jilid bundelan LPK ku yang ditaro di dalem kantong plastik item plus kertas kuitansi di dalemnya. Kok banyak banget sampe 4 bundel? Ya iya duonks, 1 buat dikumpul ke LPPM, 1 buat DPL, 1 buat Kecamatan dan 1 lagi buat arsip ku sendiri. Tanpa perlu berlama-lama, aku segera melangkah pergi dan bersama MyLovelySolBro bergerak menuju Sate Padang Chaniago untuk membeli 2 porsi sate padang dibungkus dibawa pulang.

Di sepanjang perjalanan, otak ku yang ber-IQ 128 ini bertanya-tanya, perasaan tadi aku fotokopi LPK 3 kali dan ngejilid 4 LPK, tapi kok biayanya murah banget ya, cuma 12 ribu? Padahal 1 bundel LPK aja udah tebel banget sampe 300 halaman lebih. Jadi fotokopi 1 bundel minimal kenanya 300 x 100 = 30 ribu rupiah, tapi kok aku cuma bayar 12 ribu?

Akhirnya aku cek kembali kuitansi yang udah aku geletakin gitu aja di dalem kantong plastik item. Mataku yang minus 3.5 kanan-kiri mencoba memperhatikan angka demi angka dan huruf demi huruf dengan saksama. Tik… Tik… Tik… Tik… Nah ini dia!

Aku menemukan adanya kejanggalan dalam kuitansi tersebut. Dari pengamatan ku, ternyata biaya 12 ribu yang aku bayar tadi hanya untuk biaya jilid 4 kali! Artinya apa? Artinya, biaya fotokopi bundelan LPK sebanyak 3 kali nggak ikut kehitung! Whoaaaaaa…!!!

Padahal, mestinya biaya fotokopi 3 x 300 halaman itu lebih mahal daripada sekedar 4 kali jilid. Ini nggak bisa dibiarkan, aku harus segera bertindak untuk menumpas kedzhaliman ini! Akhirnya selepas membungkus 2 porsi Sate Padang Chaniago, aku melangkah kembali ke tempat fotokopi Mawar.

Sesampainya disana, aku memarkir MyLovelySolBro. Turun dari mobil, tukang parkir yang hari ini kayanya udah sering banget ngeliat tampangku yang imut ini segera menyapa ramah,

“Dateng lagi Mas? Ada yang ketinggalan?”

Dan spontan aku pun menjawab,

“Iya Pak, kunci mobil saya ketinggalan!”

(lah terus barusan naik mobil pake apa?)

Aku segera standby di meja penerimaan dan menunggu ada salah seorang pegawai yang datang menghampiri ku. Lumayan lama aku menunggu. Meskipun banyak pegawai yang terlihat lagi nggak sibuk, tapi nggak ada seorangpun yang sadar akan keberadaan ku. Mungkin sebenernya mereka sadar, tapi karena wajahku beberapa menit yang lalu udah muncul disini dan takut aku komplain macem-macem, jadinya nggak ada yang berani nyamperin aku. Sampai akhirnya si Mas Putri yang tadi dengan penuh leadership dan softskill yang tinggi datang menuju ke arahku.

P          : “Iya, ada apa Mas?”

C          : “Ini Mas. Tadi kan saya fotokopi ini semua 3 kali, terus empat-empatnya dijilid. Tapi kok biayanya cuma 12 ribu ya Mas? (sambil menunjukkan kuitansi)?”

P          : “Mana Mas? (sambil melihat kuitansi)”

C          : “Tuh Mas coba diliat”

P          : “Liat… Liat… Liat…”

C          : “Kayanya biaya fotokopi nya belom keitung ya Mas?”

P          : “Mmmm… (berpikir sebentar) Wah iya, bener banget Mas!”

C          : “Nah khaaaan…”

P          : “Tunggu sebentar ya Mas!”

Sama seperti sebelomnya, Mas Putri beranjak ke belakang, diskusi sama temennya, nyoret-nyoret kertas, lalu balik lagi menghampiri aku.

P          : “Ini Mas, jadi semuanya 112 ribu Mas”

C          : “Tadi kan saya udah bayar 12 ribu, berarti ini saya tinggal nambahin 100 ribu lagi kan?

P          : “Bener banget, Mas pinter deh!”

C          : “Ya iyalah, C-Kink Cute geeetoo looooch…!!! Ini Mas uangnya!”

P          : “Oke. Makasih banyak ya Mas!”

C          : “Iya nggak apa-apa kok, sama-sama ya Mas”

Transaksi selesai dan aku masuk kembali ke dalam MyLovelySolBro. Tak lupa, sebelumnya aku serahkan dulu uang 1000 rupiah ke tukang parkirnya, tukang parkir yang sama dengan beberapa menit yang lalu dan tadi siang. Wah Pak, hari ini emang rejekinya Bapak, bisa dapet 3 ribu rupiah dari tangan 1 orang!

Di perjalanan pulang, aku merasa bahagia. Aku senang, hari ini telah berbuat jujur. Aku senang, LPK yang bikin naik darah ini akhirnya beres juga. Sepanjang perjalanan, aku menyetel musik J-Rocks keras-keras sembari mulutku komat-kamit ikut menyanyikan syairnya. Dan jika aku tau apa yang telah menantiku di kosan nanti, mungkin kebahagiaan ku hari ini bakalan lebih bertambah lagi. Huahahahaha…

Tamat

(note: idih, berbuat baik kok pamer sih! Udah ditulis di blog terus dipublikasiin ke khalayak umum lagi. Dasar manusia jaman sekarang, susah nyari orang-orang yang hatinya ikhlas!)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s