MasihTentangPBA

Cerita ini masih ada hubungannya sama KKN PBA, alias Pemberantasan Buta Aksara yang dicancel tempo hari, yang membuat hari ini aku menulis tulisan ini di salah satu sudut rumah di Desa Cucukan, Kecamatan Prambanan, Klaten. Kalo masih belom pada ngerti tentang PBA, silahkan baca tulisan ku yang dulu-dulu yang judulnya “Farewell Lombok” atau “11 Juni 2009”.

Ini cerita pasca itu semua. Sekalipun kejadiannya udah lama banget, tapi aku masih berniat untuk menuliskan sebagian diantaranya di tulisan ini. Supaya cerita-cerita tentang PBA itu nggak hangus dan menguap seiring dengan berjalannya waktu.

***

Hari Minggu sore, biasanya anak-anak PBA selalu rutin rapat di pelataran KPTU Fakultas Teknik. Tapi, nggak demikian dengan hari ini, 14 Juni 2009. Karena pada tanggal 11 Juni yang lalu tim “KKN Lombok almarhum” telah resmi dibubarkan, maka sejatinya hari ini nggak ada rapat rutin kaya dulu lagi. Bukan cuma hari ini, tapi hari-hari selanjutnya pun insya Allah juga nggak bakalan ada lagi.

Pasti akan terasa aneh, jika ada sesuatu yang selama ini rutin kita lakukan, lalu tiba-tiba rutinitas itu tidak kita lakukan lagi. Begitupun dengan hal ini. Beberapa orang terlihat belom bisa menerima kenyataan yang ada. Dan sudah pasti, salah satu orang tersebut adalah aku sendiri! Hohohohoho… Hal ini dibuktikan dengan sms yang aku kirim pagi-pagi ke beberapa koordinator KKN PBA Lombok almarhum.

“PBA’s info:

Aku atas nama C-Kink Cute izin nanti sore agak telat dateng rapat, atau mungkin malah nggak dateng sama sekali.

Eh tapi ntar sore kan emang udah nggak ada rapat lagi ya? Huehehehe… Huiks huiks…”

Sumpah, bener-bener cacingan deh orang yang ngirim sms kaya diatas…

Soreya, aku berniat mejeng di KPTU untuk mengecek, adakah kiranya anak-anak lainnya yang bakal tetep dateng ke KPTU meskipun nggak ada rapat. Kan kalo kaya di film-film, biasanya si tokoh-tokoh dalam film tersebut kalo lagi kangen pada momen-momen tertentu, pasti akan mendatangi tempat kenangan yang bisa membawanya kembali ke memori tentang momen tersebut. Jadi sore ini aku pun udah nongkrong duduk manis di KPTU seperti minggu-minggu sebelomnya, seakan nggak pernah terjadi apa-apa tentang pembatalan KKN PBA Lombok ini.

Hasilnya, berapa orang yang tetep dateng ke KPTU? Alhamdulillah, hanya ada 2 orang! Siapa aja? Yang pertama jelas aku sendiri. Dan orang kedua yang beruntung di sore hari ini adalah seekor gadis eh janda perawan asal kota Oslo, eh Solo, yang bernama Mega Agustina. Horeeee…!!!

Weits jangan pada seneng dulu. Apakah Mega dateng ke KPTU karena dia juga merasakan apa yang aku rasakan? Bisa dibilang jawabannya adalah: NGGAK! Soalnya kita berdua mejeng di KPTU karena lagi ngerjain tugas-tugas buat UAS besok, bareng-bareng sama anak nuklir yang lain Hohohohoho…

Sepintas aku mencoba berharap akan muncul wajah-wajah lain selain wajahnya Mega yang busuk bopeng dan korengan itu. Tapi ternyata tetep nggak muncul wakjah-wajah lainnya. Hanya ada sebuah sms stress dari salah satu rekan KKN PBA Lombok yang masuk ke inbox ku pada sekitar pukul 16:50-an.

“Kink, kamu kok belom dateng? Ayo cepetan ikut nggak? Nek iya cepetan kesini ya… Anak-anak dah pada mau cabut lho… Sore ini kan kita mau survey ke Lombok… Huiks… :’-( “

Iyaaaaa, ini aku udah di KPTU dari tadi. Kamu yang dimana? Ayo kita jalan-jalan ke Lombok yo! Huiks huiks… Uhuhuhuhu…

Sampe Maghrib, nggak ada lagi yang dateng. Akhirnya aku pun pulang ke kosan tercinta. Ya nggak apa-apa lah, mungkin yang lain lagi pada belajar menghadapi UAS besok. Eh nggak juga sih, padahal UAS kan masih 1 minggu lagi.

Apakah udah selesai? Masih belom. Di malem harinya ketika aku lagi asik leyeh-leyeh di kosan, dateng lagi sms stress yang lain:

“Hadirilah launching Maskapai Penerbangan KKN Airlines… Dengan rute khusus, satu-satunya di dunia: Jogja-Gorontalo-Lombok-Purworejo-Prambanan…”

Hoooaaaaah… Alhamdulillah, rupanya bukan aku doank yang stress! Huehehehe… Terima kasih banyak atas kesediaan 2 orang di atas menemaniku menjadi makhluk stress. Emang anak psikologi bener-bener ngerti kondisi psikis orang lain dah ah!

Rutenya Jogja-Gorontalo-Lombok-Purworejo-Prambanan. Jogja adalah starting point tempat kita semua berasal. Gorontalo adalah destinasi awal kita, KKN PBA di Gorontalo. Lalu di cancel, dan dipindah ke Lombok yang menjadi harapan kita semua. Yang di Lombok ini pun di cancel, dan si pengirim sms diatas oleh LPPM diplotting untuk masuk di tim KKN di Purworejo. Dan karena nggak punya temen di sana, akhirnya dia pindah tim ke tim KKN di Prambanan bareng temennya.

Kalo misalnya aku disuruh menulis rute kaya gitu, mungkin hasilnya bakalan jadi kaya gini:

Jogja-Bantul(*1) – Gunung Kidul(*2) – Gorontalo – Lombok – Laut Jawa(*3) – Rumah sakit(4) – Kuburan(5) – Alam barzah(6)

*Keterangan:

(1)    Dulu aku pernah ditawarin Sarah buat gabung di tim KKNnya, bareng Sazar sama Leo. Kita pun udah survey tempat ke daerah Bantul, dan sempet makan-makan bareng. Tapi karena ternyata jumlah anggotanya overload, akhirnya aku, Sazar dan Leo ditendang dari tim KKN ini. Huiks huiks…

(2)    Setelah ditendang, akhirnya Sarah ngoper aku ke temennya anak elektro yang mau KKN di Gunung Kidul. Tapi sekali lagi, karena anggotanya overload, aku berinisiatif memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim tersebut. Lebih baik mengundurkan diri sekarang, daripada nanti aku ditendang lagi.

(3)    Pesawat yang aku tumpangin yang berangkat dari Lombok mengalami gangguan, terus kecelakaan dan jatoh di Laut Jawa. Plung!

(4)    Setelah jatoh di Laut Jawa, tim Sar berhasil mencari tubuhku yang terapung-apung tanpa busana. Waw, tanpa busana? Six packnya keliatan donks…??? Dan setelah itu aku dibawa ke rumah sakit untuk memenuhi keinginan para suster yang ingin melihatku yang six pack ini dalam keadaan tanpa busana.

(5)    Karena akibat kecelakaan pesawat tersebut ternyata nyawaku udah nggak bisa diselamatkan lagi, akhirnya jasadku harus berakhir di kuburan deh.

(6)    Dan nyawaku dibangkitkan untuk menghadapi hari penghitungan. Allahu Akbar!

Hiiii… Serem banget sih rutenya? Nggak serem kok, asal kita mau siap-siap menghadapi itu semua.

Kita balik lagi ke bahasan awal. Ya kira-kira begitulah secuil cerita tentang perilaku anak-anak KKN PBA Lombok amarhum pasca pembubaran. Ternyata yang stress nggak aku sendirian. Dan selain beberapa contoh di atas, mungkin ada banyak perilaku-perilaku stress lainnya yang nggak terekspos oleh mata ku yang minus 3.5 ini.

Ceritanya udah selesai? Belom donk, lanjut lagi yah! Lanjutkan! Lebih cepat lebih baik!

In the end, aku terdampar di tim KKN Unit 183 dengan tema reguler “Pendidikan Pemilih dan Pemantauan Pemilu (P4)” yang ditempatkan di Kecamatan Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Dan aku ditunjuk paksa untuk menjadi Kormasit yang bertugas mengepalai 1 sub unit. Kormasit, biasa dipelesetkan menjadi Korma-SHIT!

Ada 2 hal yang membuat tim KKN ini memiliki kaitan dengan tim KKN PBA Lombok almarhum. Pertama, karena aku 1 unit sama anak nuklir bernama Muhammad Sultan Iskandarsyah, yang akrab dipanggil Ngadimin. Eh maksudnya Nanda, yang perilakunya sehari-hari sangat jauh berbeda dengan nama lengkapnya. Di tim KKN PBA Lombok almarhum aku juga barengan sama dia, dan setelah tim itu dibubarkan, Alhamdulillah aku sama Nanda di plotting di tim yang sama oleh LPPM.

Kedua, adalah kehadiran Pak Baha’udin sebagai DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) untuk unit KKN ini. Terus kenapa? For your info, Pak Baha atau Pak Udin ini juga merupakan DPL tim KKN PBA Lombok almarhum! Jadi sekalipun aku sama Nanda udah dipindah dari tim yang lama, tapi DPL nya tetep sama. Dan untuk mengadvokasi semua keluhan rekan-rekan tim KKN PBA Lombok almarhum lainnya, aku sama Nanda berinisiatif untuk usil meneror Pak Udin dengan terus menerus membisikkan kata “Lombok” pada telinga beliau.

“Pak Lombok Pak… Lombok… Loooombooooook… Lombooook Paaaak… Paaaaak Loooomboooook Paaaaak… Loooomboooook… Hihihihihihihi…”

Dengan harapan, semoga Pak Udin menjadi nggak tenang setiap kali denger kata Lombok. Lalu beliau menjadi nggak tenang, resah dan gelisah, hingga hari-harinya selalu dibayang-bayangi oleh kegagalan memberangkatkan 20 ekor makhluk imut untuk KKN di Lombok. Hihihihi…

Tapi Alhamdulillah, semua inisiatif yang kita usulkan itu sampe hari ini belom pernah terlaksana. Ya iya lah, masa ya iya dong! Cristiano Ronaldo kan pemain sepak bolah, bukan pemain sepak bodong!

Sampe pada akhirnya, ketika Pak Udin sedang berkunjung kesini untuk rapat unit, setelah selesai rapat aku dan Nanda diberi kesempatan untuk sedikit ber-say hello sama Pak Udin. Kita ngobrol ngalor-ngidul ngetan-ngulon. Dengan segala usaha dan jerih payah, akhirnya kita berhasil mengarahkan bahan obrolan untuk membahas tentang PBA! Huahahaha…

Pak Udin bercerita tentang PBA, dimana dia termasuk salah satu anggota disana. Tentang PBA tahun ini, PBA-PBA tahun sebelomnya, dan segala sesuatu terkait PBA. Lalu tema semakin mengerucut hingga membahas tentang PBA Lombok. Kriiiik… Kriiiik…

Setelah Pak Udin memberikan gambaran umum tentang PBA Lombok tahun ini yang nggak jadi diadakan, aku dan Nanda pun membuka kedok kami berdua yang sebenernya kepada Pak Udin.

Ternyata…

Kami berdua…

Selama ini…

Adalah…

WONDER WOMAN!

Kriiiik… Kriiiik…

Idih nggak nyambung!

Karena ceritanya udah mulai nggak nyambung dan penulisnya juga mulai ikutan nggak nyambung, jadi tulisan ini sampe disini dulu aja yah… Jangan protes loh, yang nulis kan aku! Kalo mau protes, protes aja sana ke toko material terdekat. Eh kurang ajar, emangnya aku adukan semen!

Bersambung…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s