MariMenanamKacang

Cucukan, Sabtu sore, 18 Juli 2009.

Sore-sore menjelang Ashar, aku lagi mejeng di teras depan pondokan KKN. Sendirian menatap langit biru dan awan putih diangkasa, dengan jari kelingking kanan menggaruk-garuk hidung serta jari jempol kiri mengorek-ngorek kuping. Persis kaya orang cacingan.

Nggak gitu juga sih, tapi sore itu aku lagi asik nerima telpon, dengerin orang curhat. Karena di dalem rumah nggak ada sinyal, ya udah aku nongkrong aja di teras sambil cengar-cengir setiap ada warga desa yang melintas di depan rumah.

Sampe tiba-tiba aku melihat wajah yang aku kenal. Wajah itu punya Supri, salah satu pemuda desa yang aku kenal dari pertemuan Karang Taruna. Supri, laki-laki, 17 tahun, SMAN 1 Prambanan kelas 2 jurusan IPS, dengan rekor 22 kali bertanding, 19 kali menang dan 7 kali kalah serta 4 kali seri. Panjang umur juga ini orang, baru tadi siang aku sms dia supaya minta ditemenin ke rumah Pak RT, eh sore ini dia nongol. Masih dengan handphone di telinga, aku ber-say hello sama Supri.

“Mau kemana?”

“Mau nanem kacang. Mau ikut?”

Ikut nanem kacang? Wah tawaran menarik nih.

“Dimana?”

“Di sana, di sawah”

(Ya iyalah di sawah, masa di bioskop?)

Supri mengakhiri kalimatnya dengan tangan dan telunjuk menunjuk ke arah sawah yang dimaksud. Tanpa perlu berpikir 5 kali apalagi 10 kali, aku segera menyanggupi ajakannya.

“Wah boleh, boleh. Tunggu sebentar ya!”

Segera aku tancap gas, menutup telpon secara sepihak dengan alasan mau main-main di sawah bareng warga setempat. Meninggalkan orang diujung telpon yang misuh-misuh gara-gara curhatanya dipotong mendadak. Lalu aku mengambil sendal dan segera melangkah keluar. Prok prok prok… Kira-kira gitu bunyi langkah sendalku, mirip gaya berjalannya Pak Kapiten.

Dengan segenap semangat yang ada, aku berjalan menemani Supri menuju ke sawah. Meskipun Supri mau nyawah, tapi jangan samakan baju yang dipake Supri pada hari ini dengan baju-baju petani yang biasa kita lihat di buku-buku jaman sekolah dulu. Nggak ada kaos oblong putih, celana kain digulung selutut dan caping di atas kepala. Yang ada hanya celana jins selutut sama kaos warna biru. Anak muda banget dah pokoknya.

Sawahnya sendiri terletak nggak jauh dari pondokan tempat aku tinggal. Persis di sebelah selatan pondokan itu udah area persawahan. Tinggal jalan dikit, melewati pematang, melintasi parit, mendaki gunung, lewati lembah dan sungai mengalir indah ke samudra, akhirnya sampailah kita di petakan sawah yang masih kosong yang siap untuk ditanemin kacang.

Ternyata aku dan Supri bukan yang pertama nyampe disana. Udah ada pemuda-pemudi desa lainnya yang udah eksis duluan di sawah tersebut. Mereka bersiaga dengan propertinya masing-masing. Ada cangkul, bajak, serta kayu panjang yang ujungnya dibuat lancip, buat ngelobangin tanah. Sedangkan yang perempuan membawa kacang tanah untuk ditaburin. Dan aku sendiri nggak bawa apa-apa, cuma bawa niat dan semangat. Semangaaaaattt…!!!

Dengan kucluk-kucluk, aku pun ikutan mejeng disana. Jreeeeng… Semua orang mulai sibuk dengan kerjaannya masing-masing meninggalkan aku yang mati gaya ngejongkrok di pematang. Mereka mulai ngebajak dan nyangkulin tanah, dilanjutin dengan ngelobangin tanah pake kayu yang ujungnya lancip. Lobangnya pun dibuat teratur dengan jarak tertentu. Kemudian yang perempuannya naburin kacang ke lobang-lobang tadi. Setelah itu lobang yang udah terisi kacang tadi ditutup lagi pake tanah.

Supaya nggak mati gaya, aku pun memperhatikan perempuan yang lagi menabur kacang dan membuka pembicaraan yang agak provokatif, supaya aku diajak juga.

“Ini cara nanem kacangnya gimana Mbak?”

Dari semua perempuan disini nggak ada seorangpun yang langsung jawab. Mungkin mereka malu membuka dialog dengan orang asing sepertiku, atau mungkin mereka begitu terpesona dan terpana dengan kehadiranku sampe-sampe bingung mau jawab apa. Gyaaaaaa…!!!

Untungnya salah seorang pemuda di ujung sana yang punya inisiatif tinggi langsung mengajak aku ikut serta terlibat dalam proses penanaman kacang.

“Ayo Mas, sini ikut nutupin lobangnya aja”

Aku pun berdiri dari posisi jongkokku dan segera menghampiri dia.

“Oh nutupin lobang ini ya?”

Seperti udah disebut di beberapa paragraf sebelom ini, lobang yang udah ditaburin kacang mesti ditutup lagi pake tanah. Si pemuda yang ngajak aku ikut nutup lobang pun memberi contoh cara penutupan lobang yang baik dan benar serta sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan dan disertifikasi ISO. Aku pun mengikutinya dan menutup lobang-lobang lainnya yang udah ditaburin kacang.

Kosrek… Kosrek… Akhirnya aku nggak jadi mati gaya, malah asik berkutat dengan tanah untuk menutup lobang-lobang berisi kacang. Selama hampir 1 jam aku nutupin lobang di petak sawah seluas kira-kira sekian kali sekian meter. Ya anggaplah 5×20 meter, mungkin segitu. Tapi karena kita ngerjainnya rame-rame, jadi nggak terasa capek. Malah kerasanya asik, seru dan menyenangkan. Maknyus dah.

Tanpa terasa, 1 petak udah selesai ditanemin. Masih ada 1 petak lagi yang perlu digarap. Petak yang kedua ini ukurannya lebih besar, kira-kira 2 kalinya petak yang pertama atau bahkan lebih. Kita masih harus melakukan hal yang sama, mulai dari membajak dan nyangkul sampe nutupin lobang. Tapi karena tadi adzan Ashar udah berkumandang, aku memutuskan untuk pamit dulu bentar, mau numpang sholat.

Selesai sholat, niatnya mau langsung ke sawah lagi. Mengabaikan makan siang yang udah disiapin sejak tadi aku baru berangkat. Tapi handphoneku berdering dan sekali lagi aku mesti dengerin orang curhat dulu. Setelah itu baru deh aku bisa balik nyawah lagi.

Sama seperti sebelumnya, di petak yang kedua ini aku kebagian jatah nutupin lobang. Satu demi satu lobang aku tutupin pake tanah yang aku tendang-tendangin. 1/6 bagian petak yang kedua ini kira-kira telah terselesaikan, dan semua orang memutuskan untuk istirahat dulu. Akhirnya kita pun ngaso bentar di pematang sawah.

Bekal yang udah disiapin sama Supri dkk pun dibuka. Rame-rame kita ngejongkrok sambil minum teh anget. Nggak lupa ngemil makanan-makanan yang udah disedian Sruput sruput… Nyam nyam… Maknyus banget dah ah, nongkrong di tengah sawah ditemenin teh anget dan cemilan, plus kebersamaan antar sesama warga. Serta, pemandangan sawah yang luar biasa ditambah latar belakang perbukitan Gunung Kidul yang menjulang tinggi. Subhanallah… Super sekali…

Segelas teh udaah aku teguk habis. Setelah bersantai, lalu kita semua pun kembali nyawah lagi. Masih ada sisa petak sawah yang belom kita garap. Dengan energi penuh yang baru kita charge, kita lanjutkan lagi prosesi penanaman kacang di sawah ini. Lebih cepat lebih baik.

Kita mulai ngebaja dan nyangkulin tanah. Terus si Supri dan temennya mulai ngelobangin tanah yang udah dicangkul pake kayu yang ujungnya dibuat lancip. Yang perempuan masukin 2-3 butir kacang ke tanah yang udah dilobangin. Dan terakhir aku menutupi lobang-lobang itu dengan tanah.

Untuk mempersingkat cerita, nggak terasa petak yang kedua ini udah selesai juga. Persis bertepatan dengan berakhirnya adzan Maghrib. Hooaaaahh… Cuma ngegarap 2 petak ini aja kita makan waktu mulai dari menjelang Ashar sampe persis Magrhib. Biarpun badan agak sedikit pegel, tapi capeknya nggak terasa. Soalnya disini kita ngerjainnya rame-rame, sekian banyak orang ngegarap 1 sawah sekaligus. Bener-bener luar biasa! Ajiiiiib…

Setelah lobang terakhir aku tutup, kita pun mulai bergegas meninggalkan sawah. Hari juga udah mulai gelap, serangga-serangga mulai keliaran, dan para ayam mulai keluar mencari mangsa. Ups, ini maksudnya apa?

Akhirnya kita pun berpamitan dan melangkah pulang ke kediaman masing-masing dengan penuh rasa senang dan bahagia karena telah selesai menanam kacang di 2 petak sawah. Terbenamnya matahari sore ini nggak menyurutkan kebersamaan di antara kita, karena insya Allah di keesokan hari pun matahari akan terbit kembali dari arah Timur. Dan aku pun menawarkan diri, kalo besok-besok mau ke sawah lagi, jangan ragu untuk mengajak aku ya. Mau mau mau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s