AkuIniBodoh

Pagi-pagi, disaat orang-orang telah sibuk dengan kesibukannya masing-masing, 7 ekor makhluk KKN desa Cucukan masih terlelap dengan angan-angannya sendiri. 2 orang masih ngorok, 2 orang lagi berkutat di dapur bikin sarapan, 2 orang baru pulang belanja dan langsung ikut sibuk di dapur, sementara 1 orang sisanya dari tadi pagi jam 6 sedang asik nyampah nggak jelas sambil ngelaptop, nulis sebuah tulisan yang hasil tulisannya itu bisa kita baca saat ini. Huehehehe…
Sarapan udah hampir siap. Tapi tiba-tiba salah seekor makhluk terlihat mengenakan jaket dan membawa tas, segera melangkah keluar dan berpamitan padaku.

“Nicholas Saputra, aku pulang ke Jogja dulu ya!”

*Catatan: Nicholas Saputra??? Fakta atau fiksi, hayoooo???
Aku yang lagi ngetik nggak jelas sejenak tersentak. Dalam waktu sepersekian juta detik, sel-sel di otakku yang lemot ini segera berpikir,
Hei, kan itu orang-orang lagi pada masak buat sarapan kita. Bentar lagi juga selesai kok. Kamu pulangnya nanti aja, ayo kita sarapan dulu bareng-bareng. Pulangnya ntar aja abis makan.
Sejatinya otak ini telah merespon seperti itu. Tapi apa daya, lisan ini terlalu lemah untuk bersuara. Akhirnya aku hanya bisa menjawab,

“Pulang sekarang? Nggak sarapan dulu aja?”

Jeder! Lisanku ini nggak mampu mengeluarkan kalimat yang sesuai dengan apa yang aku inginkan. Dan makhluk itu pun menolak permintaan yang aku berikan. Akhirnya aku hanya bisa berkata,

“Hati-hati di jalan ya!”

…. … … Kriiik… Kriiiiik… … Dziiiiiing…
Kadang kala aku sering merasa sedih sendiri. Karena kebodohanku, aku tak mampu melarang apa-apa permintaan orang lain. Dan aku juga tak mampu untuk mengutarakan permintaan ku yang sesungguhnya. Padahal bisa aja kalimat dialog tadi aku ubah jadi kaya gini:

“Nicholas Saputra, aku pulang ke Jogja dulu ya!”
“Pulang sekarang? Kalo aku nggak ngasih izin gimana?”
“Nggak ngasih izin kenapa?”
“Kamu sarapan dulu disini, abis itu baru kamu boleh pulang.”

Contoh dialog kedua ini mungkin lebih tepat sasaran daripada dialog yang pertama. Tapi ya udah lah, nasi udah menjadi bubur. Tinggal ditambahin ayam, usus, telor, kecap sama kerupuk aja biar jadi bubur ayam. Pun demikian, setiap orang punya kesibukan dan hak nya masing-masing yang tidak sepatutnya kita interupsi. Bukan begitu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s