SemangatKebangkitanNasional

Semangat Kebangkitan Nasional Menuju Indonesia Yang Lebih Baik
Semangat Kebangkitan Nasional, Semangat yang Kini Telah Terlupakan
C-Kink, Teknik Nuklir 2006, 085691013852

Mungkin tidak banyak yang tahu, tidak banyak yang menyadari, dan mungkin tidak banyak yang memperhatikan. Bahwa sesungguhnya pada tanggal 20 Mei kemarin, Negara Kesatuan Republik Indonesia ini merayakan apa yang dinamakan “Hari Kebangkitan Nasional”, mengacu kepada sejarah panjang bangsa ini ketika Budi Utomo mempelopori berdirinya organisasi-organisasi pergerakan nasional untuk kemerdekaan negara ini.
Entah apakah kita lupa atau memang kita sengaja melupakannya. Dan entah apakah kita tidak tahu atau memang tidak mau tahu. Momentum hari kebangkitan nasional yang sejatinya bisa kita manfaatkan, kini telah berlalu begitu saja. Tanpa makna. Tanpa arti. Seakan-akan tiada bedanya dengan hari-hari lainnya, hari-hari dimana tidak pernah sedikitpun kita memikirkan nasib negara ini, walau hanya seujung genggaman.
Bila kita melihat kembali pada masa 101 tahun lalu, dimana saat itu negara ini sedang berada dalam genggaman penjajah Belanda, semangat kebangkitan nasional adalah sesuatu yang sangat tinggi nilainya. Bagaimana ketika itu organisasi-organisasi pergerakan nasional dengan gagah berani memproklamirkan tekadnya untuk memerdekakan negara ini dari cengkraman Belanda. Suatu hal yang ketika itu mungkin tidak semua orang mampu berpikir sedemikian besarnya.
Ketika sebagian rakyat bingung dan berputus asa bagaimana cara menghadapi kedzhaliman Belanda, dan ketika sebagian rakyat lainnya merasa nyaman menjadi sekutu dekat Belanda, para pejuang negara ini telah mampu berpikir besar. Berpikir untuk tidak lagi menjadi budak penjajah. Berpikir untuk tidak lagi bersembunyi di balik ketiak penjajah. Dan berpikir, bagaimana caranya supaya bangsa ini bisa merdeka, berdaulat, mandiri dan berdiri di atas kaki sendiri!
Lalu mereka membulatkan tekad tersebut dalam suatu momentum yang hari ini kita kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Dan pada akhirnya, atas berkat izin Allah swt, negara ini mampu memperolkeh kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Suatu anugerah yang sangat-sangat tidak ternilai harganya.
Semua itu berawal dari semangat kebangkitan nasional. Semangat yang dipelopori oleh para pemuda dan pejuang yang berani berpikir besar untuk masa depan bangsa ini. Sekalipun pada akhirnya perlu waktu 37 tahun untuk mewujudkannya.
Dan sekarang, mari kita beralih ke hari ini. Hari dimana negara ini telah mendekati 64 tahun kemerdekaannya. Masih adakah semangat kebangkitan nasional itu di dalam dada kita? Masihkah itu tersisa, walaupun hanya sedikit?
Seandainya saja para pejuang kebangkitan nasional itu masih hidup dan melihat keadaan kita hari ini, mungkin mereka akan menangis. Menangisi keadaan negara ini yang semakin jauh dari nilai-nilai dan semangat kebangsaan. Menangisi negara ini yang meskipun secara fisik telah merdeka, tapi secara kasat mata negara ini masih belum merdeka dalam makna sebenarnya. Mungkin mereka pun juga ingin marah, tapi apa daya raga telah terlalu lemah.
Negara ini akan segera memperingati 64 tahun hari kemerdekaannya, kemerdekaan yang dipelopori oleh semangat kebangkitan nasional para pendahulu kita untuk berpikir global, meninggalkan baju-baju kedaerahan. Tapi, apa saja yang telah kita peroleh selama 64 tahun ini?
Sudahkah kita mampu berdiri sendiri? Sudahkah anak-anak sekolah mendapatkan pendidikan secara layak? Sudahkah para petani dan nelayan terjamin masa depannya? Sudahkah guru dan pendidik mendapat apresiasi atas niat tulusnya? Sudahkah kesejahteraan hidup tersebar secara merata? Sudahkah anak-anak negeri menikmati hasil kekayaan tanahnya sendiri? Sudahkah?
“Apakah bangsa ini masih mempunyai masa depan?” Sebuah pertanyaan yang sangat wajar untuk kita tanyakan hari ini. Mengapa? Karena jika kita sadari, keadaan kita hari ini tidak lebih baik dibanding apa yang terjadi 100 tahun lalu!
Siapa yang tidak kenal Freeport? Perusahaan multinasional yang sejak lama telah mengambil kekayaan alam negara ini, namun entah mengapa pemerintah tetap saja membiarkannya. Indosat, aset penting negara yang sahamnya kini telah jatuh ke tangan asing. Begitupun dengan BUMN-BUMN lain yang terancam diobral kepada para korporat-korporat asing. Jangan lupa juga dengan utang-utang negara yang entah mengapa seakan-akan tidak pernah ada habisnya.
Semua itu diperparah dengan tingkah laku para pemimpin negara ini. Para anggota legislatif yang seharusnya duduk di sana untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, lebih memilih untuk mengenyangkan perutnya sendiri daripada perut mereka yang memilihnya pada pemilu. Para korporat antek-antek kapitalisme yang dengan sadar membunuh bangsa ini secara perlahan. Serta media massa yang dengan bangganya menonjolkan budaya asing yang bisa merusak keutuhan negara kita.
Dengan melihat hal itu semua, maka sekali lagi rasanya sangatlah pantas jika pertanyaan ini ditujukan kepada kita semua, “Apakah bangsa ini masih mempunyai masa depan?”
Ada yang hilang dari bangsa ini. Sesuatu yang kini telah dilupakan oleh banyak orang. Sesuatu yang dulu menjadi modal kita untuk merdeka, tapi kini telah terkubur bersama jasad para pahlawan. Sesuatu yang bernama: “Semangat!” Ya, semangat! Semangat kebangkitan nasional!
Bangsa ini telah kehilangan semangatnya. Lebih khususnya lagi, semangat kebangkitan nasional. Semangat yang dulu mampu menyatukan tekad seluruh pemuda untuk merumuskan harapan akan Indonesia yang bebas dari cengkraman penjajah. Semangat yang mampu menepiskan ego-ego pribadi dan kedaerahan demi satu tujan, Indonesia merdeka. Semangat yang setelah 37 tahun lamanya akhirnya mampu membawa negara ini meraih kemerdekaannya!
Itu semua adalah aplikasi dari semangat kebangkitan nasional di masa lalu. Lalu, apa relevansinya antara semangat kebangkitan nasional dengan hari ini?
Secara fisik, bangsa kita telah merdeka. Itu jelas, bahkan PBB pun mengakuinya. Tapi apakah kita telah merdeka dari aspek-aspek lainnya? Dari aspek kemandirian ekonomi? Dari aspek merdeka akan rasa takut? Dari aspek merdeka terhadap rasa cemas akan masa depan yang semakin tidak jelas?
Disinilah, salah satu peran penting bagi semangat kebangkitan nasional untuk membangun kembali bangsa ini. Sekalipun kita telah merdeka, tapi harapannya hal itu tidak sedikitpun mampu menyurutkan semangat kita untuk meneruskan perjuangan para pahlawan terdahulu. Justru dengan kemerdekaan yang telah kita raih ini, semestinya kita bisa melakukan banyak hal yang tidak bisa kita lakukan ketika kita masih dalam cengkraman penjajah.
Zamrud khatulistiwa yang indah ini, dengan ribuan gunungnya, hamparan pantainya, biru lautnya dan segala kekayaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya, adalah milik kita sendiri. Lalu mengapa dengan bodohnya kita rela melepaskan itu semua ke tangan korporat-korporat asing?
Pemerintah, dalam hal ini eksekutif dan legislatif serta komponen-komponen lainnya, adalah orang-orang terpilih yang mendapat amanah untuk meniptakan tatanan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh penduduknya. Serta, memberikan jaminan kepada rakyat terhadap kebebasan dari rasa takut dan rasa cemas akan masalah kesejahteraan dalam kehidupan. Tapi mengapa, pemerintah justru semakin membuat rakyat yang memang sudah susah menjadi semakin susah?
Kita perlu membangkitkan kembali sesuatu yang hilang itu. Ya, kita perlu untuk memunculkan kembali semangat kebangkitan nasional yang selama ini telah hilang dari diri kita. Semangat untuk maju. Semangat untuk bangkit. Semangat untuk berdiri di atas kaki sendiri. Semangat untuk memberikan yang terbaik yang kita punya, untuk Indonesia!
Nyalakan lagi api semangat itu! Terangi setiap jengkal tanah air Indonesia dengan semangat yang menyala! Bakar kembali rasa kebangkitan nasional di dalam dada kita! Sinarilah sanubari kita dengan perasaan bangga, bangga bahwa kita terlahir sebagai bangsa Indonesia!
Dan tidak ada salahnya untuk memanfaatkan momentum hari kebangkitan nasional ini untuk men-charging kembali semangat kita. Semangat yang dulu mampu membuat para pendahulu kita membawa Indonesia mencapai kemerdekaannya. Dengan semangat ini, akan kita buktikan bahwa kita mampu. Akan kita buktikan bahwa Indonesia mampu. Mampu untuk berdiri di atas kaki sendiri. Mampu untuk berkata “tidak” kepada korporat-korporat kapitalis asing. Mampu untuk memberikan perlindungan dan rasa aman bagi seluruh penduduknya. Dan mampu untuk membuktikan kepada dunia, bahwa Indonesia masih ada!
Hari ini, kita tahu seperti apa realita yang terjadi di negara ini. Tapi sekali lagi, tidak pernah ada kata terlambat. Mari bersama-sama, kita tumbuh suburkan kembali semangat kebangkitan nasional di dalam dada kita. Kita bawa semangat itu dalam setiap langkah dan setiap sendi denyut nadi kehidupan kita. Sehingga jika suatu hari nanti pertanyaan itu muncul lagi, “Apakah bangsa ini masih mempunyai masa depan?” maka dengan tegas kita akan menjawab, “MASIH ADA!” Insya Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s