DCH #2

(Oiya, sebelom baca tulisan ini, baca dulu tulisan yang sebelomnya ya, “DCH #1”, biar lu2 semua pada ngerti. Ngerti kagak?)

Hari telah berganti. Kini C telah duduk di salah satu sekolah menengah atas negeri di kota tersebut. Sementara D berada di sekolah yang berbeda dengannya. Namun perasaan itu akan selalu sama, meskipun kini sangat kecil kemungkinan C akan mampu melihat sosok D lagi.

Tapi selalu ada kesempatan di setiap kesempitan. Meskipun mereka sekolah di tempat yang berbeda, seringkali selama beberapa waktu C masih diberikan kesempatan untuk melihat keindahan seorang D. Beberapa teman D bersekolah di tempat C berada. Dan kadang2 setelah pulang sekolah, C sering meilhat D berada tak jauh di depan pintu gerbang sekolah, menunggu kepulangan temannya. C melirik ke arah D, dan D pun melirik ke arah C. Mereka berdua saling lirik2an layaknya film India. Bo le cu ri yaaa… Bo le ja ne pyaaaa…

Kali ini, tak ada lagi nama C yang disebut dari bibir D. Demikian juga dengan C. Meskipun kini usianya telah bertambah, namun kedewasaan C masih sangat kekanak2an, lebih kanak2 daripada anak bayi sekalipun. C sangat ingin sekedar menyapa D, tapi apa daya nyali tak sampai. Dasar cemen lu C!

Dan itu terjadi tidak hanya sekali. Mereka seringkali diberikan kesempatan untuk saling bertatap muka. Tapi karena emang si C ini idiotnya udah stadium tingkat tinggi yang mungkin tidak bisa disembuhkan lagi, ia masih tetep tidak berani sekedar menggerakkan bibirnya untuk memanggil nama si D. Begitupun dengan kesempatan lainnya, seperti ketika D yang sedang naik becak hendak pulang ke rumahnya. Becak yang ditumpangi D seringkali berjalan melintasi C yang kebetulan lewat. Meskipun mereka berdua saling tau sama tau, tapi mari sama2 kita gebukin si C, karena si C masih belom berani untuk menyapa D!

Selang beberapa waktu mereka tidak bertemu lagi. Hingga suatu hari, C yang merupakan seekor anak band mendapatkan kesempatan untuk manggung dalam acara pentas seni yang diadakan oleh sekolahnya D. Berlima, C lolos audisi dan berhak untuk naik panggung.

Akhrnya tibalah hari yang dinantikan. C naik ke atas panggung dengan 4 orang temen bandnya. Dan dari atas panggung ia melihat sosok D sedang menonton di salah satu sudut. C tidak tau apakah D sadar akan kehadiran C di atas panggung, namun C hanya bisa berusaha untuk memberikan performance yang terbaik yang ia bisa, sembari hati kecilnya berharap semoga D menyaksikan aksi panggungnya itu.

Tahun telah berganti, kini D telah melanjutkan ke pintu gerbang perkuliahan. Ia melanjutkan studinya di kampus STEKPI, Jakarta Selatan. Sementara C masih sibuk berkutat dengan tahun terakhirnya menjalani kehidupan sekolah. Dan sejak saat itu, C pun tidak pernah melihat keindahan sosok D lagi.

Dan kini, waktu telah semakin berlalu. Hari ini C sedang sibuk menyelesaikan studinya di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sedangkan D yang awalnya kuliah di STEKPI, setelah 1 tahun ia memutuskan untuk berpindah studi. Jadilah kini D berada di Universitas Paramadina, Jakarta, yang diketuai oleh rektor bernama Anies Baswedan.

Namun, dimanapun mereka berada, C akan selalu berharap akan kehadiran seorang D, meskipun mereka berada dalam ruang dan waktu yang berbeda. Sementara layar komputer hanya diam membisu menyaksikan mereka berdua.

Bersambung…

One Comment Add yours

  1. Pingback: DCH #4 | C-Kink

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s