KoalisiPartaiIslam

Koalisi Partai Islam?

Headline harian Republika pada Selasa 18 Rabiul Akhir 1430 H yang lalu menceritakan tentang koalisi pasca pemilu legislatif yang sedang gencar-gencarnya dilakukan oleh sejumlah partai politik. Bagaimana partai politik berlomba-lomba menggandeng mitra demi secuil kekuasaan yang tersedia. Dan dari koalisi-koalisi yang santer dibicarakan akhir-akhir ini, secara umum terdapat 2 kubu yang beseberangan yang telah siap untuk bertarung satu sama lain.

Kubu pertama dipimpin oleh Partai Demokrat dengan capres incumbentnya. Kubu yang sering dinamakan dengan Golden Bridge ini diperkirakan menguasai 42.32 % suara nasional, mengacu pada quick count sementara yang dilakukan oleh LSI. Prosentase suara tersebut diperoleh dari partai-partai yang tergabung di dalamnya, yaitu: Demokrat (20.34%), PKS (7.82%), PAN (6.07%), PKB (5.20%), PBB (1.65%), PKPI (0.99%), PDP (0.84%) dan Pelopor (0.40%).

Sementara kubu yang satu lagi santer diberitakan dengan nama Golden Triangle. Dipelopori oleh Partai Golkar dan PDIP, kubu ini diperkirakan mampu menguasai 41.90% suara nasional. Jumlah suara tersebut diperoleh dari Golkar (14.85%), PDIP (14.07%), PPP (5,29%), Gerindra (4.20%) dan Hanura (3.49%).

Jika pada akhirnya memang benar hanya ada dua kubu tersebut, maka dapat dipastikan bahwa capres yang akan maju pada pemilu presiden nanti adalah orang yang itu-itu lagi. Dari Golden Bridge tentunya akan mencalonkan capres incumbent, Susilo Bambang Yudhoyono. Sedangkan calon yang mungkin dicalonkan oleh Golden Triangle kalau bukan Megawati Soekarnoputri ya Jusuf Kalla.

Lalu, dimana peran partai Islam dalam ajang koalisi ini? Berdasarkan prosentase suara yang diperoleh, partai-partai Islam atau partai yang berbasis massa umat Islam tidak begitu memiliki posisi tawar yang kuat dalam pembentukan koalisi-koalisi tersebut.

PKS yang selama ini digadang-gadang, ternyata perolehan suaranya tidak jauh berbeda dengan pemilu 5 tahun lalu. Demikian juga dengan PKB yang suaranya melorot drastis akibat konflik internal antara Muhaimin Iskandar dan Abdurrahman Wahid serta berdirinya partai baru yang bernama Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU).

Kalau hal ini terus terjadi, maka kapankah negara ini akan memiliki pemimpin yang berakhlak dan berakidah serta berpola pikir Islami? Indonesia adalah negara dengan jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Sejatinya rezeki ini bisa menjadi kekuatan tersendiri bagi negara ini.

Melihat kembali ke jumlah suara yang diraih oleh partai Islam atau partai yang berbasis massa umat Islam, seharusnya disadari bahwa partai-partai Islam pun memiliki nilai tawar yang hendaknya tidak dijual murah begitu saja.

Sejumlah partai Islam memilih untuk bergabung dalam Golden Bridge, sementara PPP bersedia dirangkul oleh Golden Triangle. Namun pernahkah terpikirkan jika seluruh partai Islam atau partai berbasis massa umat Islam berkoalisi dalam 1 kubu saja? Sebuah kubu yang penulis namakan dengan istilah Golden Gate atau gerbang emas, sebuah jalan masuk menuju jaman keemasan Indonesia.

Jika partai-partai Islam tersebut mau bersatu, maka cukuplah bagi mereka untuk mencalonkan capresnya sendiri. Kalau koalisi Golden Gate ini diisi oleh partai-partai seperti PKS, PAN, PKB, PPP dan PBB, maka berdasarkan quick count sementara LSI koalisi ini akan mampu meraih 26.03% suara nasional.

Belum lagi kalau ditambah dengan partai Islam lainnya seperti PKNU (1.39%), PBR (0.96%), dan PMB (0.42%), maka jumlah suaranya akan mencapai 28.8%. Plus dengan kekuatan seperti ini, tidak menutup kemungkinan beberapa partai kecil lainnya akan tertarik bergabung. Dan jumlah sebesar ini sudah lebih cukup untuk mencalonkan capresnya sendiri.

Tidak hanya itu, koalisi Golden Gate ini akan mampu mereduksi suara Golden Bridge menjadi hanya 22.57%. Meskipun suara Golden Triangle hanya akan berkurang menjadi 36.61%, namun selisih suara sebesar 8% tersebut dapat teratasi dengan sosok capres alternatif yang dicalonkan dari Golden Gate sendiri.

Masih teringat jelas dalam pemilu 5 tahun lalu, bagaimana Partai Demokrat yang hanya meraih suara sekitar 7.5% ternyata mampu mengajukan capres yang pada ahirnya keluar sebagai pilihan mayoritas rakyat Indonesia, mengalahkan Golkar dengan Wiranto nya serta PDIP dengan Megawati nya. Pun demikian dengan koalisi Golden Gate ini. Tidak menutup kemungkinan capres yang dicalonkan dari koalisi Golden Gate mampu merebut simpati dari mereka yang telah jenuh dengan wajah lama.

Hal ini sejatinya menjadi pertimbangan tersendiri bagi para petinggi partai Islam di negara ini. Terlalu banyaknya jumlah partai Islam ternyata mampu memecah kesatuan suara umat Islam. Demikian juga dengan fenomena perpecahan internal di partai Islam itu sendiri, sebagaimana PAN dan PMB atau PKB dan PKNU. Kini sudah waktunya bagi partai-partai Islam untuk bersatu mengutamakan kesejahteraan umat daripada golongannya masing-masing.

Karena seluruh umat muslim Indonesia menantikan Islam bangkit kembali di seluruh penjuru dunia. Dan bukan tidak mungkin kebangkitan tersebut dimulai dari negara ini. Namun hari ini nampaknya itu semua akan sulit terwujud jika partai Islamnya saja lebih mengutamakan golongannya masing-masing daripada Islam itu sendiri. Dan kalau hal tersebut terus terjadi, maka kapankah Islam akan bangkit di negara ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s