NyolotLagi

Di suatu pagi yang berawan, ketika gue lagi asik goyang2 senam pagi dalam rangka Makrab Departemen PSDM BEM KMFT UGM di dusun Cangkringan, Sleman, handphone gue bergetar. Drrrrrt… Drrrrrt… Kira2 gitu bunyi getarannya. Segera gue buka handphone gue dan gue baca sebaris sms yang masuk disana:

“Knapa jadi marah sama gw? Hah gw SEBEEEELLL!!!

Lo tau sberapa besar kebencian gw dlu sama lo. Dan skarang seribu kali lipat jauh lbh benci!”

Gitu kira2 isi smsnya. Sebelomnya udah ada 2 sms panjang, yang isinya sebaiknya nggak perlu gue nongolin disini. Cukup sms ke-3 aja, yaitu adalah sms yang baru aja kita baca diatas.

Lagi asik2 senam, tiba2 gue dapet sms kaya gitu. Maksudnya apa? Alhamdulillah untung gue terlahir sebagai seorang manusia yang nggak punya perasaan, jadi sms kaya gitu nggak banyak mempengaruhi kestabilan mental serta emosi gue. Dengan gaya profesional kaya ajaran para trainer, gue masih tetep bisa ngelanjutin senam dan acara2 selanjutnya seperti biasa, penuh dengan keakraban dan canda tawa. Nggak ada seorang pun yang tau kalo di inbox gue ada sebiji sms autis kaya itu tadi.

Sms itu dikirim oleh seekor perempuan temen seangkatan gue yang lagi menempuh kuliah di Bogor. Nggak kaget sih baca sms kaya gitu, secara dia emang nggak punya saringan di otaknya. Dan dulu juga gue udah pernah dijajah sama dia selama 3 taun di SMA, jadi ya gitu deh.

Disini gue nggak mau berpanjang lebar cerita macem2, tapi cuma pengen ngapain ya gue juga nggak tau.

Tapi intinya… Gue juga nggak tau intinya apa…

*gubrak…!!!* Jatoh dulu ah…

Oke, jadi intinya adalah:

“Lo tau sberapa besar kebencian gw dlu sama lo.”

Iya gue tau, gue yang ngerasain kok. Dan gue juga tau kalo kebencian lu sama gue itu jauh lebih besar daripada seberapa besar gue tau kebencian lu sama gue.

“Dan skarang seribu kali lipat jauh lbh benci!”

Gue nggak tau ini orang pake perhitungan aljabar macem gimana, kok bisa2nya perasaan benci itu di-multiplikasi-in sampe 1000 kali besarnya. Apa dia pake deret Fourrier, transformasi Laplace, metode Eigen-Muller, perhitungan kekritisan, atau apalah whatever… Terus rasa benci itu satuannya apa ya? Elektron volt? Kilo Pascal? Becquerel? Meter per sekon kuadrat? Atau kilo Watt per jam? Ah I dunno…

Daripada bingung ya mendingan gue akhirin aja tulisan ini. Jadi, tulisannya sampe sini aja ya. Izinkan gue mengakhiri tulisan ini dengan sebuah doa:

“Ya Allah, jika aku menjadi temannya adalah suatu keburukan, maka pisahkanlah kami berdua.”

“Dan jika aku menjadi temannya adalah suatu kebaikan, maka buatlah agar ini menjadi buruk, supaya kami berdua akhirnya terpisahkan juga…”

Astagfirullah… Nggak tau deh doa kaya gini bakal dikabulin apa nggak, kan kita nggak boleh berdoa untuk keburukan. Tapi bisa jadi, kita memandang baik sesuatu padahal itu buruk bagi kita, dan bisa jadi kita memandang buruk sesuatu padahal itu baik bagi kita.

Jadi… Kesimpulannya gimana?

TALK TO MY HAND!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s