MenkoEksternal

Huuuuaaaaah… Akhrnya mau nggak mau taun ini gue masih harus eksis lagi di BEM KMFT UGM yang ajaib ini…

Berdasarkan rencana gue di akhir taun 2008 kemaren, dealitanya gue pengen segera berhenti dari segala kegiatan ke-BEM-an. Udah cukup selama 3 semester gue ikut BEM dengan posisi sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Kajian Strategis selama 2 semester dan Ketua Departemen Kajian Strategis selama 1 semester. Gue rasa udah cukup banyak pengalaman yang gue dapet disana. Meskipun sejatinya pengalaman itu nggak akan abis kalo mau terus kita cari, tapi gue juga harus membagi porsi antara organisasi dengan kuliah yang agak terbengkalai selama ini.

Ya begitulah. Ketika semester 1 gue nggak ikut organisasi apa2, IP gue masih bisa nyampe angka 3.5 dan itu adalah nilai tertinggi untuk 1 angkatan Teknik Nuklir 20006. Semester 2 cuma ikut di SKI Kamadz yang nggak begitu eksis, masih bisa dapet IP 3.13. Nah semester 3 pertama kalinya kenal Kastrat dan BEM, IP langsung terjun drastis jadi 2.73. Dan terakhir di semester 4 dan lebih eksis di BEM, IP juga masih tetep dapet 2.88, dengan bonus ada 1 mata kuliah 3 sks yang dapet nilai E. Nggak tau deh ni sekarang semester 5 bakalan dapet berapa.

Maka dari itulah resolusi gue di taun 2009 sejatinya adalah ingin kembali kepada fitrah gue selaku seorang engineer. Anak Teknik udah seharusnya bergerak di bidang keteknikan, jangan melulu berpolitik. Jadilah gue berencana di taun 2009 ini gue mau off total dari BEM dan organisasi lainnya untuk kembali berkutat dengan apa yang namanya Dosis Radiasi, Tampang Lintang Makroskopik, Paparan, Termoluminesensi, Burnup dan Konversi Bahan Bakar, Nilai Batas Dosis, dll. Nuklir oh nuklir…

Tapi ternyata semua berubah. Gara2nya adalah karena salah seekor sohib karib gue yang bernama Dede Miftahul Anwar pada akhirnya terpilih jadi ketua BEM KMFT UGM periode 2009. Dulu dia lah orang yang ngajak gue untuk masuk Kastrat (sehingga seharusnya dia lah orang yang paling bertanggung jawab atas merosotnya IP gue. Hohohoho…). Selama 1 taun kita eksis di Kastrat bareng2, dia sebagai Ketua Departemen dan gue sebagai Ketua Divisi Pengembangan Sumber Daya Manusianya. Sampe akhirnya dia diangkat jadi Menteri Koordinator Lini Eksternal dan gue kebagian jatah gantiin posisi dia sebagai Ketua Departemen Kastrat.

Terus suatu ketika dia nyalon jadi ketua BEM, dan emang udah seharusnya dia nyalon. Gue pun termasuk salah seorang yang ngompor2in dia supaya mau jadi ketua BEM dan gue juga termasuk salah satu tim suksesnya. Dan sampai akhirnya dengan mudah dia kepilih jadi ketua BEM. Horeeee…!!!

Nah setelah dia jadi ketua BEM, otomatis dia harus milih orang2 buat mengisi susunan kabinetnya. Dan nggak tau atas alasan apa akhirnya dia minta gue supaya mau ngisi posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, posisi yang dulu pernah dia pegang.

Secara gitu gue udah niat buat mau kembali ke bangku kuliah dan menjadi mahasiswa studi oriented. Tapi karena gue orangnya sami’na wa watho’na, akhirnya dengan sedikit tolakan dan sedikit keengganan yang bisa dimentahkan, gue terima posisi itu.

Plus juga gue ngerasa ada perasaan nggak enak ketika telah menjerumuskan dia buat jadi ketua BEM. Buat sebagian orang, mungkin posisi ketua BEM adalah suatu targetan atau suatu prestise atau apalah yang menunjukkan kapabilitas seseorang. Tapi itu nggak berlaku buat kita, soalnya Insya Allah kita sadar bahwa jabatan adalah amanah, hendaknya jangan diberikan kepada seseorang yang memintanya. Dan di akhirat nanti kita bakalan diminta pertanggung jawaban atas amanah tersebut. Jadi, posisi sebagai ketua BEM bukanlah suatu kebanggaan, tapi suatu amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Nah terus masa iya gue yang udah menjerumuskan Miftah buat jadi ketua BEM, terus gue lepas tangan gitu aja setelah dia akhirnya terplih jadi ketua BEM? Jadilah mau nggak mau, gue nggak bisa dan nggak berdaya untuk nolak waktu Miftah minta gue buat tetep stand by nemenin dia disana. Meskipun sejatinya awalnya gue udah nggak begitu berminat ikut BEM lagi karena mau mengejar IP yang makin hari makin ajaib aja.

Jadilah kini pada akhirnya gue masih tetep bertahan di BEM, dengan sekarang menempati posisi Menteri Koordinator Lini Eksternal, selanjutnya disebut Menko Eksternal. Ternyata pemilihan gue di posisi ini pun bukan tanpa alasan, soalnya di posisi Menteri Koordinator Lini Internal diisi oleh Fauzi Muharram alias Fauzi Ingah-Ingih alias Fauzi Cabul (Calon Bupati Bantul) yang juga angkatan 2006 kaya gue dan Miftah. Dulu si Fauzi ini menjabat sebagai Ketua Technopreneurhip Departemen (wirausaha) selama 2 periode / 3 semester.

Jadilah kita bertiga selaku angkatan 2006 yang tersisa. Dan Miftah pun menyebutnya sebagai “Segitiga Bermuda” ( yang gue pelesetin jadi “Segitiga Ber-Muda”, soalnya kita bertiga paling tua sendiri di BEM sini, namun kita masih berjiwa muda loh…). Fauzi dapet amanah buat mewujudkan misi Miftah di bidang “advokasi” dan “kemandirian keuangan”, gue dapet amanah mengaplikasikan misi Miftah di bidang “pengokohan jaringan” dan “kultur ilmiah”, sementara kita berdua dapet amanah juga di bidang “media sebagai basis informasi”, mengingat kita berdua sama2 hobi ngeblog.

Dan sebagai Menko Eksternal ini, gue membawahi 2 Departemen plus 1 Biro, yaitu Departemen Sosmas (Sosial Kemasyaratan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan Biro Humas. Jadi disini gue bertugas untuk mengkoordinir mereka bertiga serta sebagai kepanjangan tangan dan lisan Miftah terhadap mereka.

Itu kira2 gambaran Menko Eksternal. Kini kita langsung beralih aja ke pengalaman gue selama 1 bulan menjabat sebagai Menko Eksternal.

Menko Eksternal itu nggak punya proker, karena emang nggak punya staaf dan proker2 itu jatahnya Departemen atau Biro. Jadi selama awal2 menjabat sebagai Menko Eksternal, yang gue lakukan hanyalah sebatas mendengarkan curhatannya anak2 2008 tentang segala seluk-beluk dunia ke-BEM-an. Plus juga selaku angkatan yang paling tua, gue bertugas untuk membagi pengalaman gue ke mereka dengan ikhlas dan dengan senang hati. Secara gitu gue bakalan lengser dan mereka lah yang bakalan jadi penerus selanjutnya.

Job pertama adalah ketika Miftah minta tolong anak2 2008 buat ngadain aksi advokasi terhadap masalah agresi Israel terhadap Jalur Gaza, Palestina. Aksi itu berupa orasi, shalat ghaib dan penggalangan dana. Panitianya adalah anak2 2008. Karena anak2 2008 masih agak awam, jadi disini gue bertugas untuk menjawab segala kebingungan anak2 2008 itu, terkait konsep aksi, persiapan, logistik, dan macem2.

Plus sebelom aksi itu berlangsung, gue usul supaya diadain dulu diskusi tentang sejarah negara Israel dan kedhzaliman2 mereka kepada bangsa Palestina. Alhamdulillah usul gue ini langsung dikabulkan. Dan gue pun secara sepihak langsung nunjuk Fahjri Adhi Nugroho si manusia geblek jarang mandi untuk jadi pemantiknya, yang dijawab dengan protes dan mencak2 dari dia gara2 dia kaget tiba2 disuruh jadi pemantik.

Dari situ terkumpul dana yang lumayan banyak buat beli es cendol, kira2 sekitar 3 juta lebih dikit. Kalo segelas es endol harganya 3 ribuan, dana sebesar 3 juta itu kira2 bisa beli 1000 gelas es cendol untuk bangsa Palestina yang kehausan. Duh masa iya sih…

Dana itu rencananya mau disalurkan ke lembaga kemanusiaan yang akan menyalurkannya langsung ke Palestina. Opsinya ada dua, yaitu PKPU (Posko Keadilan Peduli Umat) atau MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Setelah diskusi bla bla bla, akhirnya kita bakalan ngasih ke MER-C aja. Dan gue diamanahi untuk mengontak si MER-C itu.

Setelah gue mengontak si MER-C, kita pun janjian di sekretariat BEM. Lalu di siang hari yang terang benderang, salah seorang relawan MER-C bernama Muhammad Genta dateng ke BEM dan langsung gue sambut dengan se amplop uang berjumlah 3 jutaan. Lalu kita pun bertransaksi, ijab kabul, dan nggak lupa juga foto2 buat dokumentasi. Serta nanya2 lebih jauh lagi tentang MER-C itu sendiri, gimana awalnya Mas Genta bisa masuk MER-C dan gimana cerita relawan MER-C yang diberangkatkan ke Palestina sana. Setelah selesai itu semua, si Mas Genta ini ninggalin kartu nama dan dia pun pergi melenggang kangkung membawa serta uang 3 juta itu. Dari sini Insya Allah BEM KMFT UGM telah membuka satu link tersendiri dengan rekan2 MER-C. Semoga besok2 yang dateng kesini nggak melulu Mas Genta lagi, tapi Mbak2 good looking gitu, biar kita bersemangat buat gabung di MER-C juga. Huehehehehe…

Itulah job pertama gue selaku Menko Eksternal. Selanjutnya, yang gue lakukan adalah mengisi kekosongan kekuasaan di BEM gara2 Pak Bos Miftah harus pulang kampung dulu ke Tasik selama beberapa hari. Jadilah gue dan Fauzi diamanahi untuk menghandle segala dinamika BEM selama Miftah sedang cuti hamil itu.

Terus di penghujung bulan Januari, tiba2 kita kedatengan 2 ekor makhluk BEM KM, yaitu Guntoro selaku Menko Internal dan satu lagi gue lupa namanya selaku Menteri Advokasi. Kita pun ngobrol ngalor-ngidul ngulon-ngetan bla bla bla bla, yang intinya dia mengumumkan bahwa sore ini akan ada konsolidasi BEM se-UGM untuk menyambut kedatangan rekan2 dari Universitas Widyagama Malang.

Selaku Menko Eksternal, gue punya idealita bahwa suatu hari nanti BEM Teknik harus bisa eksis di mata dunia, untuk tahap awal minimal di UGM sendiri dulu. Karena Fakultas Teknik adalah Fakultas dengan jumlah mahasiswa terbanyak, seharusnya ini bisa jadi kekuatan tersendiri. Dan sebagaimana bunyi lirik lagu ciptaan gue yang judulnya “Teknik Bersatu”, yang bunyinya gini: “Bersatulah mahasiswa Teknik/Bersatu dalam suka dan duka/Buktikan kepada dunia/Bahwa kita adalah juara”, jadi gue pengen membawa dan membuktikan bahwa anak2 Teknik adalah anak2 juara dan harus bisa membuktikan eksistensi serta kontribusi bagi dunia ini.

Untuk tahap awal, gue pengen mengeksiskan diri di lingkup UGM dulu. Jadilah gue dengan patuh memenuhi undangan untuk konsolidasi itu, meskipun datengnya agak telat gara2 nungguin Miftah yang pada akhirnya gue dateng kesana sama si Fahjri, manusia geblek jarang mandi yang tadi udah pernah gue sebut sebelomnya.

Konsolidasi ini diadain di BEM KM. Selain gue dan Fahjri, dateng juga perwakilan dari BEM Pertanian, Dema Hukum dan anak2 BEM KM sendiri. Dan itulah pertama kalinya gue bisa langsung berhadapan dan berdiskusi secara face to face dengan orang2 atas macem Qodaruddin si Ketua BEM KM, Ganendra si Sekjend BEM KM, Zulfan si Ketua BEM Pertanian dan lain2nya. Suatu forum yang Insya Allah memperkenalkan gue dengan para calon pemimpin bangsa ini nantinya.

Di forum konsolidasi itu intinya mengumumkan bahwa besok kita bakalan kedatengan temen2 BEM Universitas Widyagama Malang (UWM), dengan susunan rundown acara yang udah diatur oleh Mas Ganendra. Di UWM ini ada 4 Fakultas, yaitu Teknik, Ekonomi, Hukum dan Pertanian, dan dalam rundown tersebut direncananakan bahwa rekan2 UWM akan berdiskusi dengan BEM2 Fakultas sesuai dengan Fakultasnya masing2. Jadilah tiap Fakultas harus mempersiapkan diri untuk berbagi cerita dengan rekan2 UWM.

Lalu gue pun langsung mencoba menghubungi anak2 BEM Teknik untuk persiapan penyambutan. Akhirnya kita sepakat untuk ngajak anak2 UWM main2 ke sekretariat BEM Teknik sekaligus studi banding. Tapi sebelomnya kita mesti beres2 dulu, soalnya BEM ini tuh berantakan banget.

Sebenernya niat untuk beres2 sih udah ada dari dulu, tapi ya karena kecenderungan manusia adalah menuruti hawa nafsunya, akhirnya niat itu nggak terlaksana. Barulah sekarang mumpung ada momen yang tepat, yaitu kedatangan rekan2 UWM, akhirnya kita bisa menggerakkan massa untuk bantu beres2 BEM. Nggak lupa kita juga nyiapin struktur organisasi untuk dibawa rekan2 UWM dan snack kecil2an untuk pencuci mulut.

Akhirnya di sore hari kita nongkrong di BEM KM buat nyambut kedatangan rekan2 UWM. Tapi sebelomnya kita udah pada mandi dulu setelah sebelomnya badan kita bau asem semua gara2 beres2 BEM itu tadi. Akhirnya rekan2 UWM dipandu Mas Ganendra pun tiba di BEM KM dan langsung diarahkan untuk berdiskusi dengan Fakultas masing2. Untuk yang Fakultas Teknik UWM ada 3 orang, yang terdiri dari 2 orang laki2 dan 1 orang perempuan. Pas untuk gue angkut cukup dengan 1 mobil aja.

Sepanjang perjalanan, Miftah selaku tour guide nunjukin place2 yang interest di jalanan yang kita lewatin. Dan akhirnya kita pun sampe ke sekre BEM Teknik dengan selamat, yang disana dilanjutin dengan sesi diskusi. Namanya sih diskusi, tapi nggak tau kenapa ini kok malah jadi debat gitu. Padahal dari konsep awal tiap BEM aja udah beda. Tapi ya nggak apa2 lah, namanya juga anak muda…

Akhirnya setelah debat eh diskusi ini selesai, kita pun mengembalikan rekan2 UWM kembali ke pangkuan Mas Ganendar. Nggak lupa sebelomnya kita udah tuker2an link sama rekan2 Teknik UWM, supaya kedepannya silaturrahim kita bisa terjaga. Serta gue sempet ngasih kartu nama autis gue ke mereka. Nggak tau deh gimana respon mereka ntar kalo ngeliat kartu nama gue itu. Huohohoho…

Dan nggak lupa di tengah malem Mas Ganendra juga ngucapin terima kasih atas bantuan temen2 Fakultas Teknik. Iya sama2 Mas, makasih juga tadi kita udah kebagian jatah nasi bungkusnya.

Itu kira2 pengalaman 1 bulan pertama menjadi Menko Eksternal. Cuma ada 1 rencana yang belom kesampean, yaitu ngobrol2 dengan Pak Muslih selaku Sekjend Katgama alias Keluarga Alumni Teknik Gadjah Mada. Sebenernya sih kita udah punya nomor telponnya Pak Muslih, tapi nggak tau kenapa dia kayanya susah banget dihubungin. Kalo kata Mas2 ECC (Engineering Career Community) sih Pak Muslih itu adalah orang sibuk yang nggak mau nerima telpon atau bales sms dari orang2 yang nggak dikenal. Aduh sampe segitunya…

Dan kedepannya, masih ada 11 bulan lagi yang harus gue lalui sebagai Menko Eksternal. Idealitanya sih masih 11 bulan, tapi kan bisa aja kurang. Kaya misalnya gue dipecat atau lengser di tengah jalan, gue mengundurkan diri, atau mungkin gue meninggal selama masa jabatan. Ya nggak apa2 lah, tapi semoga ntar anak-istri gue dapet uang pensiun ya. Hehehehe…

3 Comments Add yours

  1. tieeFa says:

    setujuuuu!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
    iya tuh bener banget deh yang bahasan pak muslih!
    beliau ntu susaaaaaa banget dihubungin..dulu aja mau diminta jadi pembicara tapi kudu bolak balik ngubungin sekretarisnya dulu, eh ujung2nya ga jadi juga..
    beribet banget dagh pokoknya…

  2. Iyo ki.. Kita paling tua.. Aku di BEM dah S3.. bentar lagi jadi profesor BEM kaya mas friski… Siyal..

  3. ckinknoazoro says:

    asw

    @tiefa: Hadoooh… Ya udah lah, tawakkal aja. Eh tapi kalo Pak Muslih baca tulisan ini, reaksinya gimana ya? Hiiiii…

    @fauzi cabul: eh tapi aku masih tergolong muda lho, masih tuaan Nasikun sama Djunianto. Dari tampang juga udah keliatan. Hohoho…

    wasw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s