UGMmembentukKarakterBangsa

Peran UGM dalam Membentuk Karakter Bangsa

Bangun pemudi pemuda Indonesia

Tangan bajumu singsingkan untuk negara

Masa yang akan datang kewajiban mu lah

Menjadi tanggungan mu terhadapn Nusa

Itu tadi sebuah bait dari lagu berjudul “Bangun Pemudi Pemuda”. Sebuah lagu yang syarat makna akan pentingnya peran generasi muda terutama mahasiswa terhadap masa depan sebuah negara.

Universitas Gadjah Mada (selanjutnya disebut UGM) sebagai salah satu universitas terbesar, tertua dan terbaik di Indonesia yang memiliki ribuan civitas akademika di dalamnya, hendaklah menjadi sebuah instansi yang mampu mengkader dan menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang unggul di bidangnya. Tidak cukup hanya dengan unggul di bidangnya, tapi juga harus disertai dengan jiwa nasionalisme dan rasa cinta tanah air yang tinggi, dan itu diwujudkan dalam kontribusi terhadap pembangunan bangsa.

Permasalahan bangsa Indonesia bukanlah tentang rendahnya ilmu yang dimiliki. Kita semua percaya bahwa bangsa Indonesia memiliki kepintaran dan kecerdasan yang tidak dapat diremehkan. Hal ini terlihat dengan banyaknya pemuda-pemudi Indonesia yang seringkali meraih medali dalam kejuaraan-kejuaraan bertaraf internasional di bidang ilmu pengetahuan. Demikian juga dengan cendekiawan-cendekiawan kita yang kecerdasannya diakui oleh dunia. Hanya kita saja yang tidak sadar akan hal tersebut. Entah tidak sadar, tidak mau sadar, atau memang tidak peduli.

Lalu dimana permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini? Yaitu ada pada pola pikir dan cara pandang hidup yang sudah semakin berubah. Meskipun hal ini adalah kasat mata, tapi premis-premis yang terjadi di lapangan menyimpulkan bahwa bangsa Indonesia kini sudah tidak lagi cinta dengan tanah airnya. Bangsa Indonesia sudah tidak lagi rela berkorban demi negaranya. Mereka lebih senang memenuhi perutnya sendiri daripada harus berbagi dengan sesama saudara sebangsanya.

Yang cukup jelas terlihat dari penyimpangan pola pikir ini adalah kebobrokan akhlak dan moral. Ya, bukan berita yang asing lagi bahwa kasus korupsi, suap-menyuap, gila jabatan dan lain sebagainya sudah menjadi agenda rutin di negara ini. Mereka yang notabene adalah orang-orang pintar dan cerdas yang disegani di bidangnya masing-masing, ternyata tidak mampu menjaga integritasnya sebagai orang cerdas tersebut. Perut mereka lebih diprioritaskan daripada perut lapar bangsa Indonesia lainnya.

Bukan hanya merosotnya akhlak dan moral, tapi juga mulai bergesernya rasa cinta akan budaya nasional. Masyarakat lebih senang untuk mengkonsumsi budaya asing dan meninggalkan budaya lokal. Bahkan seringkali muncul pernyataan bahwa budaya lokal adalah sesuatu yang kuno dan ketinggalan jaman, yang tidak relevan lagi dengan kehidupan gobalisasi seperti sekarang ini. Padahal, budaya lokal dalah tonggak utama penyusun budaya nasional. Jika budaya lokal sudah mulai terabaikan, maka budaya nasional akan runtuh dengan sendirinya.

Ini semua terjadi akibat apa yang mereka sebut globalisasi, yang lahir akibat sebuah sistem yang bernama kapitalisme. Pola pikir kapitalis inilah yang kini mulai menggerogoti kepribadian masyarakat Indonesia. Segala sesuatu yang mereka lakukan, pastilah bermotif uang. Uang, uang dan uang. Hanya uang dan selalu uang. Tak peduli apakah yang mereka lakukan tersebut merugikan negara atau tidak. Hanya ada uang di otak mereka. Rasa cinta tanah air? Ah itu sudah cerita lalu, cerita ketika para pemuda mendeklarasikan Sumpah Pemuda atau cerita ketika Ir. Soekarno memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Akibat dari itu semua, bangsa Indonesia kini menjadi bangsa yang manja. Bangsa yang selalu berlomba-lomba menumpuk uang dan berusaha untuk memperkaya diri. Bangsa yang terbiasa dengan budaya hidup mewah, merasa nyaman dengan kemewahannya dan tidak ada niat untuk membantu saudaranya. Otak mereka cerdas, tapi hati mereka kosong.

Untuk menjadi sebuah negara yang besar dan berdaulat, tidak seharusnya Negara Kesatuan Republik Indonesia ini diisi oleh orang-orang berpola pikir egois seperti itu. Negara ini butuh orang-orang yang peduli akan nasib bangsanya. Negara ini butuh orang-orang yang mau turun tangan membantu meringankan beban penderitaan saudaranya. Negara ini butuh orang-orang yang tidak hanya berotak cerdas tetapi juga berhati ikhlas. Intinya, negara ini butuh orang-orang dengan semangat nasionalis dan cinta tanah air yang tinggi.

Dimanakah gerangan orang-orang seperti itu? Sangatlah tidak etis jika kita hanya duduk diam dan menunggu datangnya orang-orang tersebut. Juga masih kurang etis jika kita hanya mencari-cari dimanakah mereka berada. Adalah suatu hal yang luar biasa jika kita sendirilah yang menciptakan orang-orang tersebut. Iya, menciptakan. Kita ciptakan, kita bentuk, kita cetak dan kita hasilkan individu-individu berkualitas yang suatu hari nanti akan membawa negara ini bangkit dari keterpurukan dan membawa Burung Garuda terbang mengangkasa menguasai dunia.

UGM yang merupakan salah satu universitas terbaik di Indonesia, semestinya menyadari akan pentingnya hal tersebut. Dengan nama besarnya, adalah suatu hal yang memalukan jika ternyata lulusan UGM tidak memiliki rasa cinta tanah air yang tinggi dan malah mejadi budak kapitalis. UGM didirikan bukan sebagai pencetak tenaga kerja yang berorientasi materi semata, tetapi sebagai universitas yang akan menghasilkan para pemimpin bangsa.

Nama besar UGM sudah terkenal ke seluruh penjuru Indonesia. Bahkan tidak hanya di Indonesia, seluruh dunia pun mengakui eksistensi UGM sebagai salah satu universitas favorit. Hal ini dibuktikan dengan kehadiran UGM setiap tahunnya di dalam daftar 500 besar universitas terbaik dunia. Demikian juga dengan lulusannya yang telah melanglang buana dan meraih kesuksesan di bidangnya.

Hal tersebut merupakan suatu nilai lebih yang dimiliki oleh UGM. UGM memiliki nilai historis yang tidak bisa dilupakan terkait jasa-jasanya mencetak para pemimpin bangsa. Ditambah dengan kultur khas Yogyakarta, sejatinya UGM telah memiliki syarat-syarat untuk menjadi garda terdepan pencetak bibit-bibit unggul yang akan menyuburkan dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Untuk itu, diperlukan adanya kurikulum yang berkualitas yang diajarkan di dalam perkuliahan UGM itu sendiri. Kurikulum sebagai suatu sistem yang akan mengarahkan bagaimana output dari para mahasiswa nantinya.

Patut untuk diperhatikan adalah mengenai sistem yang kita sebut dengan kurikulum tesebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa tahun-tahun belakangan ini, kapitalisme memang telah menguasai dunia. Globalisasi menjadi hal yang tak terpisahkan lagi. Hampir semua sendi kehidupan telah terjerat dengan pola pikir kapitalis. Sulur-sulur kapitalisme telah merayap, menjalar ke segala arah.

Pertanyaannya di sini adalah, apakah kurikulum merupakan bagian dari kapitalisme? Sebuah pertanyaan yang memang tidak bisa dijawab secara kasat mata. Seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa kapitalisme telah mengangkangi dunia. Tentunya mereka, khususnya Amerika Serikat tidak ingin jika kapitalisme yang merupakan jubah mereka dijatuhkan hegemoninya. Untuk itu kapitalisme akan mencoba mempengaruhi semua unsur yang ada untuk menuruti keinginan mereka. Salah satunya adalah unsur pendidikan. Dan itu dilakukan dengan cara menyelipkan pola pikir kapitalisme di dalam kurikulum-kurikulum yang ada. Sehingga pada akhirnya institusi pendidikan akan mencetak individu-individu yang berpikir kapitalis, yang tidak lagi memiliki rasa cinta tanah air kepada negaranya sendiri dan tidak peduli terhadap nasib bangsanya.

Bagaimana dengan UGM? Apakah secara tidak disadari, kapitalisme pun telah masuk menyusup ke dalam sistem kurikulum UGM? Mungkin ini memang sebuah pertanyaan yang akan menimbulkan reaksi yang berbeda dari semua yang mencoba menjawabnya. Dan kalaupun kita telah mampu menjawabnya, akankah kita tetap diam saja dan membiarkan budaya kapitalisme merasuk ke dalam diri kita dan meracuni pikiran kita?

Salah satu hal yang diagung-agungkan para mahasiwa adalah, bagaimana caranya kita bisa lulus secepat mungkin. Normalnya adalah 4 tahun. Tapi realitanya tidak sedikit yang mampu menyelesaikan studinya dalam waktu kurang dari 4 tahun. Plus, dengan IPK yang tinggi.

Adakah yang salah dengan itu semua? Tentunya tidak. Adalah suatu hal yang baik jika mahasiswa bertekad untuk menyelesaikan studinya dan tidak berlama-lama. Namun yang mungkin perlu diperhatikan adalah, bagaimana dengan perkembangan diri dan pola pikir yang terjadi di dalamnya?

Umumnya, pola pikir seperti ini adalah bentukan dari perusahaan-perusahaan asing yang hendak mencari tenaga kerja yang murah meriah dari Indonesia. Perusahaan asing membutuhkan banyak tenaga untuk memperluas ekspansinya. Namun mereka kesulitan mencari tenaga kerja yang dimaksud. Akhirnya mereka mencoba untuk mencari tenaga kerja dari Indonesia yang berotak cemerlang tetapi berhati kosong.

Jadilah perusahaan-perusahaan mengincar para sarjana-sarjana kita yang lulus cepat, namun tidak menyadari akan budaya kapitalisme ini. Sarjana kita akan dicengkram oleh mereka. Diberikan gaji yang besar. Besar untuk ukuran kita, namun sesungguhnya setara dengan gaji seorang loper koran di negara asal mereka. Diberikan fasilitas yang mewah. Dimanja dengan segala kemudahan. Akhirnya tergadailah jiwa kebangsaan kita. Kecerdasan kita telah dibeli oleh mereka. Seorang sarjana terbaik telah pergi. Ia telah menjadi budak kapitalisme, bekerja demi mengenyangkan perutnya sendiri tanpa tersisa secuil pun rasa kepedulian terhadap nasib bangsanya.

Demikian juga dengan prasyarat absensi untuk mengikuti ujian. Baru-baru ini di salah satu fakultas diberitakan bahwa syarat untuk mengikuti ujian akhir adalah jika presensi kehadiran mahasiswa yang bersangkutan adalah sebesar 100%. Jika kurang dari itu, maka katakan selamat tinggal pada ujian dan bersiaplah berjumpa dengan adik kelas di tahun depan di mata kuliah yang sama.

Sekali lagi, adakah yang salah dengan itu semua? Dan jawabannya sekali lagi, tentunya tidak. Dosen adalah seorang tenaga pengajar yang sepatutnya dihormati. Dan salah satu bentuk penghormatan mahasiswa terhadap dosennya adalah dengan cara menghadiri kuliahnya.

Namun jika ditilik lebih jauh, hal ini dapat mematikan potensi mahasiswa untuk bergerak di luar bangku perkuliahan. Banyak hal yang bisa didapatkan oleh mahasiswa di luar gedung kampusnya, dimana hal-hal tersebut tidak akan ia dapatkan jika ia hanya duduk manis di bangku kelas.

Banyak mahasiswa yang selain menjalani studi di bangku kuliah, juga aktif mengikuti organisasi-organisasi baik yang intra kampus maupun ektra kampus. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang sudah mampu mencari penghasilan sendiri. Di sanalah sejatinya softskill mahasiswa akan terasah. Mahasiswa akan mendapatkan pengalaman-pengalaman untuk terjun langsung ke lapangan dan menghadapi berbagai realita yang ada. Bahkan, dari organisasi-organisasi inilah yang akan membentuk jiwa calon pemimpin bangsa dan rasa cinta tanah air di dalam diri mahasiswa. Itulah inti dari berorganisasi, membentuk karakter yang berintegritas tinggi, yang tidak hanya mengutamakan softskill tapi disertai dengan kesadaran akan perlunya niat dan tekad untuk membangun negara ini.

Tentunya kedua hal yang telah dipaparkan di atas juga memiliki resiko. Resiko yang sering terjadi adalah akan membuat mahasiswa menjadi terlalu santai di dalam perkuliahan dan akhirnya malah mengakibatkan kuliah terbengkalai. Lalu adakah solusi untuk mengatasinya? Dengan ucapan Basmallah dan dengan Izin Allah, maka jawabannya adalah: ada!

Mahasiswa bisa saja lulus cepat tanpa menggadaikan kecerdasannya untuk menjadi budak kapitalis. Mahasiswa pun bisa tetap berada di ruang kuliah tanpa harus kehilangan kesempatan mendapatkan ajaran-ajaran tentang pentingnya kecintaan tanah air. Dengan cara apa? Yaitu dengan cara memasukkan konten-konten tersebut ke dalam kurikulum dan mata kuliah yang ada.

Iya, seperti itulah. Tidak dapat dipungkiri bahwa untuk saat ini, mata kuliah yang bersifat pengembangan diri sangatlah termarjinalkan. Dari syarat kelulusan +- 140 sks, mahasiswa hanya memiliki 6 sks untuk mengembangkan diri, yaitu pada mata kuliah Agama, Pancasila, dan Kewarganegaraan. Plus kewajiban mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Itupun kalau mahasiswa yang bersangkutan melaksanakan KKN tersebut dengan tujuan untuk mengabdi kepada masyarakat sesuai dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, bukan hanya sebagai melepas kewajiban sks untuk memenuhi syarat kelulusan. Karena banyak mahasiswa yang tidak mau bersusah payah melaksanakan KKN ke desa-desa terpencil akibat budaya hidup mewah yang terpatri dalam pola pikir mereka.

Untuk memenuhi keinginan tersebut, maka nilai-nilai cinta tanah air haruslah dimasukkan ke dalam kurikulum yang ada. Kurikulum seharusnya tidak hanya mampu mencetak individu-individu yang ahli di bidangnya, tapi kurikulum juga harus mampu mencetak individu-individu yang memiliki pola pikir luar biasa. Yaitu pola pikir yang bertekad untuk tidak mau menjadi budak kapitalis, pola pikir yang bertekad untuk memajukan kesejahteraan bangsa Indonesia dan mengharumkan nama Indonesia di mata dunia.

Telah dikatakan di awal bahwa Indonesia tidak hanya butuh orang-orang yang cerdas namum berpola pikir kapitalis dan berbudaya egois. Orang-orang seperti itu telah banyak beredar di negara ini. Dan hasilnya seperti yang dapat kita lihat adalah keadaan Indonesia pada saat ini, dimana korupsi merajalela, kemerosotan moral dan akhlak dimana-mana, serta lunturnya rasa cinta akan budaya nasional.

UGM disini haruslah berperan aktif untuk mencetak manusia-manusia berkualitas yang akan memimpin bangsa ini nantinya. Dan hal itu salah satunya diwujudkan dalam kurikulum yang diajarkan selama masa perkuliahan. Harus ada kurikulum yang mengajarkan tentang pentingnya nilai-nilai kebangsaan. Harus ada kurikulum yang menanamkan tentang rasa cinta tanah air. Tidak cukup hanya dengan ada, tapi juga harus memiliki porsi yang lebih.

Janganlah seperti saat ini dimana mata kuliah Agama yang merupakan fondasi dasar pola pikir kehidupan manusia hanya dijatah 2 sks saja. Tentunya UGM menyarankan mahasiswa untuk mendalami pengetahuan agama di luar perkuliahan. Tetapi apakah hal itu akan efektif jika mahasiswa dituntut untuk lulus cepat dengan presensi kehadiran 100%, yang membuat mahasiswa kekurangan waktu untuk mencari ilmu di luar perkuliahan?

Untuk mewujudkan kurikulum tersebut pun, jangan pernah melupakan peran dosen sebagai garda terdepan penyampai ilmu kepada mahasiswa. Dengan perannya tersebut, maka sudah sepatutnya bagi dosen untuk menanamkan rasa cinta tanah air kepada para mahasiswanya. Tidak hanya materi perkuliahan saja yang diajarkan dosen di kelas, tapi hendaknya dosen juga mampu untuk membentuk karakter mahasiswa yang peduli akan nasib bangsanya.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa beberapa dosen pun mungkin juga memiliki pola pikir kapitalis. Tapi harapannya adalah, dengan sistem dan kurikulum yang ada, maka pola pikir kapitalis tersebut lama kelamaan akan meluruh dan pada akhirnya di dalam dada para dosen pun mulai muncul benih-benih seorang nasionalis yang tidak hanya mencerdaskan dirinya sendiri tapi juga mencerdaskan bangsa Indonesia pada umumnya.

Intinya, sudah saatnya bagi UGM untuk menciptakan sebuah kurikulum yang mampu membentuk dan mencetak serta menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang luar biasa. Mahasiswa yang berkarakter. Mahasiswa yang berintegritas tinggi. Mahasiswa yang tidak pernah lupa akan tanah airnya. Sehingga pada akhirnya UGM akan dikenang sebagai universitas yang tidak hanya mencetak para ilmuwan yang ahli di bidangnya, tapi juga memiliki kontribusi dan langkah nyata dalam membangun Indonesia.

UGM menuju kampus ideal, bukan lagi sebuah mimpi. Dengan dukungan segenap civitas akademika dan didukung oleh sistem yang digunakan di dalamnya, maka UGM berpotensi untuk menjadi universitas terbaik. Terbaik di Indonesia, terbaik di Asia Tenggara, terbaik di Asia dan terbaik di Dunia. Sehingga dengan terwujudnya UGM sebagai kampus ideal, maka kita akan melihat mahasiswa-mahasiswa asing berebut berbondong-bondong untuk melanjutkan studinya di sini. Para ilmuwan berlomba-lomba mengadakan penelitian dengan civitas akademika di sini.

Dan pada saat itulah, negara Indonesia akan berjaya di muka bumi ini. Insya Allah.

3 Comments Add yours

  1. humm..mw komentar tentang lulus cepet,,
    kalo kataku lulus cepet itu malah lebih bagus,, karena biasanya yg duluan itulah yg lebih berpeluang untuk menang..

    kalau kita liat faktanya,, coba kita tengok kasus pasar scooter matic di Indonesia.. Perusahaan Yamaha unggul dengan Mionya, mengalahkan honda dan suzuki..kenapa? karena dy memproduksi mio lebih dulu dripada honda memproduksi beat dan vario.. dan untuk pertamakalinya Yamaha menang dalam penjualan kendaraan beroda dua mengalahkan honda..

    atau contoh lain seperti yg terjadpada jazz, yaris, dan swift..

    tapi tetep aja,, masalah mau lulus kapan, itu terserah masing” orang mau bikin rencananya gmana..

    trus kalo permasalahan tentang kurikulum yang mengajarkan tentang nilai kebangsaan,, kalau kataku, melihat fakta yg ada,, pelajaran” kayak gtu ga ngaruh banyak untuk masyarakat.. Karena yg aku perhatiin,, dari mulai sd sampe sma,, kita ketemu sama mata pelajaran yg namanya PPKN.. namun alhasil pelajaran itu cuma sekedar untuk informasi aja.. masuk kuping kiri keluar kuping kanan,, atau lebih parahnya, masuk kuping kiri, trus mantul lagi.. ga sempet dicerna ke otak..
    Di UGM sendiri ada mata kuliah sejenis yg bernama pancasila, andai kata sksnya ditambah,, apa ngga malah membuat mahasiswa makin sebel sama matkul itu?

    bagiku,, rasa cinta tanah air, lebih bisa kita dapatkan diluar perkuliahan,, seperti yg mas bilang..
    Lewat organisasi” seperti BEM, atau lewat pertandingan olahraga misalnya,, di saat kita menyaksikan negeri kita tercinta bertanding melawan negara lain, tentu rasa cinta tanah air akan tumbuh dengan sendirinya..

    hhe.. itu aja mas,, maaf ya banyak komentar..

    oh ia,, ak kaget pas baca ada fakultas yg absensinya harus 100%.. tega banget tuh kampus.. emang dimana mas ada yg begitu?

  2. ckinknoazoro says:

    asw

    huohohohoho… mau lulus cepet atau dilama2in, sebenernya juga tergantung sama biaya. hohohoho… tapi esensinya, dunia perkuliahan adalah dunia yang sangat luas, yang rasanya bakalan sayang kalo dilewatin cuma di bangku kuliah aja. jadi mumpung kita masih berstatus mahasiswa, mari kita optimalka semua kesempatan yang kita punya, karena bisa jadi di dunia kerja yang penuh dengan kapitalisme nanti kita akan ngak akan bisa lagi melakukan hal2 yang dulu bisa kita lakukan ketika kuliah.

    sejatinya aklu pun ngerasa ada yang janggal dengan mata kuliah PPKn yang ada di jaman sekolah dulu. Kenaoa? Karena kalo ditilik lebih jauh lagi, aku takut bahwa kurikulum PPKn itu adalah bentukan orde baru, yang tau sendiri lah gimana keadaannya.

    di kuliah ini aku dah ngambil mata kuliah kewarganegaraan, dan itu bener2 sangat bisa membuka wawasan kita tentang cinta tanah air. mungkin ini juga dipengaruhi sama siapa dosennya. begitupun dengan mata kuliah agama.

    masalah terbesar adalah nggak semua orang hobi organisasi. tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat kepada mereka, kebanyakan mahasiswa lebih seneng ikut organisasi minat dan bakat yang aku harap disana mereka nggak cuma melatih skill dan kompetensi mereka, tapi juga mendapatkan nutrisi untuk pola pikir dan akidah. jadi nutrisi2 itu harus dimasukkan ke dalam kurikulum mata kuliah, karena sifatnya lebih mengikat.

    mungkin sekian dan terima kasih. thank q banget atas feedbacknya yua.

    oiya, yang absensinya 100% itu kalo nggak salah di Fakultas Psikologi, kemaren baru liat buletinnya.

    wasw

  3. Emon says:

    Memang pendapat kalian semua sudah terserang pola pikir kapitalis pantesan mikirnya giut doang. ingat negara Indonesia harum dimata dunia tahun1984, dimana anak seorang petani berpidato untuk menerima pengahargaan dari FAO sesungguhnya kita bisa hidup dari temna dan sudara putra bangsa itu siapakah dia ? seorang pahlawan yg mempunyai prinsip luar biasa Mikul Dhuwur Mendem Jero dimana kita bisa menjunjung tinggi orang yg harus di hormati dl hal ini Orang Tua dan Guru serta mampu menutupi menyelaraskan kekurangan yg ada tidaklah sulit sebetulnya Indonesia utk dapat menguasai dunia, kunci sebenarnya kasai perekonomian dalam negeri dg mensejahterahkan petani, memberikan jalan keluar/solusi, jangan racuni anak bangsa dg pestisida kimia, dg pupuk kimia dan teman-temannya, bukan berarti tidak memakai adalah anti modernisasi tidak, namun bagaimana modernisasi itu bisa selaras dg alam dan kelestarian alam, ketika itu mampu diwujudkan mungkin akan ada lagi “Murah Sandang Pangan Seger Kuwarasan ” bukan seperti yg sekarang ini Larang Sandang Pangan Penyakit Gan Karuan Doktere nrimo Keuntungan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s