AdaUsulanNich

Sebelomnya, perlu gue bilangin dulu bahwa sebagaimana judul diatas, tulisan ini bukanlah sebuah fiqih atau bersifat menghakimi atau memberikan hukum. Ini hanyalah sebuah usulan dari gue, sekor makhluk yang bingung dan nggak tau harus berbuat apalagi selain duduk manis di depan komputer dan menulis sebuah tulisan kaya gini.

Tanpa sadar, kita seringkali memberi gelar di belakang nama beberapa orang tertentu. Gelar yang dimaksud disini bukanlah gelar pendidikan kaya Sarjana Hukum, Magister Manajemen, Philosophy Doctor atau kaya gimana, tapi gelar yang diberikan karena jasa dan kemuliaan mereka kepada kita semua.

Kalo masih bingung, langsung ke contoh kasus aja deh. Mereka2 yang sering kita beri gelar yang menyertai namanya diantaranya adalah teladan kita semua sekaligus manusia terbaik sepanjang zaman, Nabi Besar Muhammad Rasulullah saw. Sering kita menyebutnya dengan Muhammad saw atau Rasullah saw. Apapun namanya, embel2 “saw” yang merupakan kependekan dari shallallahu alaihi wassalam selalu kita sertakan sebagai bentuk shalawat kita atas beliau, dan memang beliau sendiri pun telah menyebutkan dalam hadistnya bahwa supaya bila kita mendengar nama beliau diucapkan, maka kita harus bershalawat kepadanya.

Terus, kita juga sering menyebut nama Rasul2 lainnya dengan embel2 a.s, yang merupakan kependekan dari alaihis salam. Contohnya, nabi Adam a.s, nabi Musa a.s, nabi Ibrahim a.s, dan seterusnya. Serta, kita juga sering menyebut nama sahabat Rasulullah saw dengan embel2 r.a, alias radiyallahu anh. Sampe sini ngerti kan maksudnya?

Itu adalah gelar2 yang udah lazim diucapkan, dan kita pun comfort dengannya. Disini gue mau coba ngasih usul tentang sebuah gelar yang mungkin ini juga sempet terpikirkan di benak lu semua.

Objek yang pengen gue kasih gelar disini adalah sesuatu yang bernama “Israel”. Tau Israel kan? Iya itu lho, penjajah dzhalim yang seenaknya aja ngerebut tanah bangsa Palestina, dan suka seenaknya memerangi serta membunuh warga Palestina yang innocent dan nggak berdosa.

Gelar apa yang bakal kita kasih buat Israel? Yang jelas bukan gelar2 mulia sebagaimana yang gue maksud dalam contoh2 sebelumnya, karena gelar itu terlalu tinggi dan terlalu mulia untuk disematkan kepada Israel. Jadi gelar yang kita bakal berikan disini adalah sebuah gelar yang kita namakan “Laknatullah”.

Laknatullah? Iya, artinya adalah “yang dilaknat Allah”. Dan pemberian gelar ini pun bukan tanpa alasan. Mungkin sebagian di antara lu semua udah pada ngerti alasan dibalik pemberian gelar ini dan bahkan mungkin punya pikiran yang sama kaya gue.

Israel Laknatullah, gitu jadinya. Jadi mari bersama2 kita coba, mulai hari ini, esok hari dan seterusnya, marilah kita memberikan gelar “Laknatullah” untuk disematkan di belakang kata Israel. Jadi, barangsiapa yang mendengar nama Israel disebut, maka segeralah menambahkan gelar Laknatullah dibelakangnya. Israel Laknatullah.

Sekali lagi, ini bukanlah fiqih dan ini nggk bermaksud untuk menghakimi serta mendahulukan hukum Allah atas manusia. Ini hanyalah sebuah hasil dari kebingungan seorang anak manusia yang nggak tau harus berbuat apa lagi untuk menghentikan kedzhaliman Israel Laknatullah di muka bumi dan untuk menolong bangsa Palestina dari tangan keji Israel Laknatullah.

Mungkin tulisan ini berpotensi untuk dibredel dan akan terjadi hal2 nggak menyenangkan lainnya yang menimpa kita yang memberi gelar Israel dengan sebutan Laknatullah, diakibatkan jaringan dan kekuatan Yahudi tersebar dimana2. Tapi gue nggak pernah berhenti untuk mengingatkan bahwa cukuplah Allah sebagai pelindung dan Dia adalah sebaik2 pelindung. Jangan takut dan jangan bersedih, karena Allah bersama kita. Dan bila Allah telah bersama kita, maka apa lagi yang perlu kita takutkan? Insya Allah demikian.

2 Comments Add yours

  1. Inilah contoh ajaran PEDOFILIA Muhammad:

    Dikisahkan Jabir bin ‘Abdullah: Ketika aku menikah, Rasullah bersabda kepadaku, perempuan macam apa yang kamu nikahi? Aku menjawab, aku menikahi seorang janda muda? Beliau bersabda, Mengapa kamu tidak bernafsu pada para perawan dan memanjakannya? Jabir juga berkisah: Rasullah bersabda, mengapa kamu tidak menikahi seorang perawan muda sehingga kamu dapat memuaskan nafsumu dengannya dan dia denganmu?

    Hadits Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 17.

    A’isyah (Allah dibuatnya bahagia) diceritakan bahwa Rasullah (semoga damai sejahtera atas beliau) dinikahi ketika usianya tujuh tahun, dan diambilnya untuk rumahnya sebagai pengantin ketika dia sembilan tahun, dan bonekanya masih bersamanya; dan ketika beliau (Nabi Yang Kudus) mampus usianya delapan belas tahun.

    Kitab Sahih Muslim 8, Pasal 3311.

    Dikisahkan A’isyah: bahwa Nabi menikahinya ketika dia berusia enam tahun dan menikmati pernikahannya ketika berusia sembilan tahun. Hisham berkata: Aku telah menceritakan bahwa A’isyah menghabiskan waktunya dengan Nabi selama sembilan tahun (yaitu hingga kematiannya).

    Bukhari Vol.7, Kitab 62, Pasal 65.

    Muhammad telah bernasu birahi kepada anak berusia enam tahun. Apa yang tersimpan di dalam otak Muhammad? Apa pikiran mesum nabi merupakan perbuatan suci?

  2. ckinknoazoro says:

    Apakah hanya dengan hal-hal tersebut, kita sudah berani menyimpulkan bahwa Rasulullah kita yang agung, adalah seorang pedofilia? Semoga Allah memberi petunjuk bagi mereka yang berpendapat demikian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s