AduhMalunya

Huy huy huy huy huy huy… Cerita ini masih kelanjutan dari tulisan sebelomnya lho, yang judulnya “LagiLagiIlang”. Disitu kan diceritain tentang kejadian ketika sendal Bata Power gue ilang di MusTek. Nah disini gue bakalan nyeritain kejadian setelah sendal gue itu ilang. Jadi buat lo2 semua, sebelom baca tulisan ini lebih jauh lagi mendingan lo baca dulu deh tulisan gue yang “LagiLagiIlang” itu, biar nyambung.

Singkat cerita, setelah sendal gue ilang tersebut, gue langsung inisiatif buat beli sendal baru. Mumpung lagi nggak ada kerjaan, ya udah gue minta tolong Andhika buat nemenin gue beli sendal di sebuah super market mini alias mini market bernama Gading Mas. Tapi gue lebih suka menyebut mini market tersebut dengan nama Mas Gading, biar kesannya kaya nama orang gitu. Mas Gading Martin? Apa Mas Gading Laura? Ih ngaco dueh…

Gue berangkat ke Mas Gading naik motor bareng Andhika. Tentunya gue yang dibonceng dan Andhika yang nyetir motornya. Kalo gue yang nyetir, mungkin saat itu kami nggak bakalan nyampe ke Mas Gading melainkan malah mendarat mulus di Rumah Sakit Sardjito, Panti Rapih atau bahkan langsung ke kuburan, dan hari ini pun gue nggak bisa menulis tulisan ini untuk  dibaca oleh lo2 semua. Huiks huiks…

Bla bla bla bla bla bla bla dan sampailah kami di Mas Gading. Selesai parkir motor, gue melangkah ke lantai 2 Mas Gading, ke tempat sendal2. Gue searching sendal2 disana. Bukan searching modelnya yang bagus yang mana, tapi searching sendal mana yang ukurannya paling besar yang pas buat kaki gue. Soalnya sendal disana ukurannya kebanyakan nomor 40 atau 41, dan ukuruan itu nggak muat buat kaki gue. Sendal disana ukurannya paling besar 43, tapi agak jarang. Nggak semua model yang ada disana yang punya ukuran 43.

Oh sebelomnya, perlu dijelasin dulu kalo sendal disana secara general terbagi 2 jenis, yaitu sendal jepit, yaitu yang ada jepitannya diantara jempol dan telunjuk, serta sendal selop, yaitu yang diantara jempol dan telunjuk nggak ada jepitannya. Gue lebih suka make yang sendal selop, soalnya lebih comfort aja dan ruas2 jari antara jempol dan telunjuk nggak bakal lecet2 gara2 jepitan yang ada di sendal jepit.

Gimana dengan merk nya? Ini yang menarik untuk dibahas. Kenapa? Soalnya sendal disana merk nya pelesetan semua, istilah halus untuk abal2 alias palsu.  Dulu waktu sendal Bata item gue nyemplung ke got waktu mau makan di Jogja Chicken (keterangan lebih lengkapnya silahkan baca tulisan gue yang judulnya “SandalDanPemiliknya”), gue beli sendal baru juga di Mas Gading ini, di tempat yang sama dengan yang gue datengin saat ini.

Waktu itu pilihan gue jatuh kepada sebuah sendal selop warna item dengan sedikit ornamen putih plus tulisan “Quiksilver” pada selopnya. Harganya 16000 rupiah lho! Eits, jangan pada kaget dulu. Mana mungkin merk setenar Quiksilver meluncurkan produk sendal seharga rp 16.000,00? Hmmmm… Coba kita telaah lebih jauh lagi, anak muda.

Quiksilver, sebuah merk terkenal yang counternya banyak beredar di mall2 yang identik dengan kata2 mahal dan mewah, ternyata hadir di sebuah mini market sekelas Mas Gading. Sepintas, itu adalah hal yang nggak mungkin. Tapi jangan salah. Itu semua bisa menjadi mungkin jika sendal yang gue beli itu merknya adalah Quiksilver, bukan Quicksilver. Loh emang apa bedanya? Ada, yaitu pada satu huruf, dan huruf itu adalah huruf “C”. C untuk C-Kink? Ya nggak lah, C itu untuk Cincyah Laurah…

Iya, yang di jual di Mas Gading itu adalah Quiksilver, yang merupakan plesetan dari Quicksilver. Modelnya sih nggak kalah dengan Quicksilver yang asli, yang ada huruf “C” nya. Tapi nggak tau deh gimana kualitas Quiksilver yang gue beli ini, yang nggak ada huruf “C” nya. Quiksilver gue itu sekarang lagi nangkring di rak sepatu di rumah gue di Depok. Quiksilver itu yang tadinya gue pake setelah sendal Bata item gue nyemplung ke got. Tapi setelah gue dibeliin sendal Bata Power biru sama keluarga gue, Quiksilver gue itu telah tergantikan perannya.

Kita balik lagi ke bahasan awal. Setelah searching ukuran kesana kemari, akhirnya gue memilih sebuah sendal selop yang modelnya sumpah jelek banget dengan warna dasar item plus ornamen warna coklat keunguan yang sama sekali nggak matching. Yang jelas, sendal pilihan gue itu modelnya bener2 nggak banget deh. Satu2nya alasan kenapa gue milih sendal itu adalah karena cuma sendal itu yang punya ukuran nomor 43. Sendal lainnya rata2 berukuran nomor 40 atau 41. Sebuah alasan yang sangat2 nggak masuk akal dan nggak rasional.

Gue tunjukin pilihan gue itu ke Andhika. Dan Alhamdulillah, Andhika adalah seekor makhluk pintar berintelejensia tinggi yang dengan tegas menolak sendal pilihan gue itu. Dia pun berasumsi sama, bahwa sendal itu modelnya bener2 nggak banget. Mungkin harga diri gue bakalan turun drastis kalo gue terlihat berjalan di tempat terbuka dengan mengenakan sendal itu.

Akhirnya gue taro sendal terkutuk itu ke tempatnya semula dan gue mulai searching lagi. Sekali lagi, bukan model yang gue jadikan patokan, tapi ukurannya. Karena sendal yang ukurannya 43 udah nggak ada lagi, akhirnya gue ngalah turun 1 level ke sendal2 berukuran 42. Mata gue menangkap sosok sebuah sendal selop warna item dengan ornamen putih bernomor 42. Modelnya mirip dengan Quiksilver gue yang dulu, yang gue beli di tempat yang sama.

Gue ambil sendal itu dan gue tunjukin ke Andhika. Alhamdulillah dia pun sepakat, soalnya sendal yang ini emang nggak jelek2 banget. Harganya pun standar, 16800 rupiah. Dan Andhika agak kaget ngeliat tulisan merk yang terpampang di bagian selopnya: “Bilabong”.

Bilabong? Merk sekelas Bilabong dijual di Mas Gading dengan harga rp 16.800,00? Weits jangan pada takjub dulu. Seperti udah dibilang, yang dijual disini tuh sendal Bilabong lho, bukan Billabong. Bedanya apa? Billabong yang asli tuh huruf “L” nya dobel, sedangkan sendal gue ini huruf “L” nya cuma satu. L untuk Laura? Iya mungkin, Laura Yagami.

Okeh, akhirnya gue ambil Bilabong abal2 itu untuk gue jadikan sebagai pelindung kaki gue plus alas kaki yang akan menemani gue kemanapun gue melangkah dan akan menjadi saksi setiap langkah kaki yang gue tuju. Welcome home my Bilabong. My fake Billabong.

Sebelom gue bawa ke kasir, gue menyempatkan diri dulu untuk beli barang2 lain. Mumpung gue lagi di Mas Gading, jadi sekalian aja gue beli barang2 yang gue rasa perlu untuk gue beli. Masih di lantai 2, dengan sendal Bilabong di tangan, gue menuju bagian stasionary untuk beli sebungkus kertas binder isi 100 lembar dengan harga 4500 rupiah. Lalu gue turun ke lantai bawah. Niatnya sih gue mau beli cemilan dan beberapa properti kamar mandi semacem sabun, shampo, odol, sikat gigi dll. Tapi mengingat setelah ini gue pulangnya ke BEM, bukan ke kosan, akhirnya gue nggak beli itu semua. Gue cuma ngambil 2 pak Adem Sari sachetan untuk mencegah leher gue dari penyakit radang tenggorokan. Jadilah kini gue menggenggam sendal Bilabong, kertas binder dan 2 pak Adem Sari di tangan gue. Lalu gue segera menuju kasir.

Sebenernya, di antara sekian penjaga kasir di Mas Gading ini yang sebagian besar perempuan, ada seekor perempuan yang terlihat lebih “kinclong” di antara yang lainnya. Biasanya tiap kali gue ke Mas Gading, kalo mau bayar gue selalu ngincer mbak2 penjaga kasir yang kinclong ini. Lumayan lah sambil nunggu barangnya diitung, gue bisa sedikit refreshing memandangi kekinclongannya. Astagfirullah…

Tapi malem ini mbak2 kinclong itu nggak keliatan. Ya udah deh gue asal milih kasir yang agak sepi. Gue datengin tuh kasir dan gue taro barang2 gue disana. Sembari nungguin barang2nya diitung, mata gue sempet ngeliat2 ke sekitar Mas Gading. Kebetulan mata gue beradu pandang dengan seekor mbak2. Buru2  deh gue buang pandangan dan ngeliatin yang lain. Tapi terus pandangan gue ke dia lagi, dan lagi2 gue mergokin kalo dia juga lagi ngeliat ke arah gue. Gue buang lagi pandangan gue. Terus gue sempet2in ngelirik ke dia lagi. Eh ternyata dia juga lagi ngelirik ke gue. Aduh jadi malu… Ada apa mbak liat2? Pasti ujung2nya mau minta nomor handphone deh… Ya udah sini nggak usah malu2. Nggak minta pun bakalan tetep gue kasih kok. Huehehehe… Astagfirullah…

Nah itu sedikit intermezzo aja. Mbak2 yang hobi ngelirik gue itu (idih ge-er…) sekarang udah ikutan ngantri di kasir yang sama dengan kasir gue, cuma jeda 1 orang doang, Jadi urutannya adalah gue, seekor laki2, lalu si mbak2 itu.

Akhirnya barang gue selesai diitung. Terus si mbak2 kasirnya bilang, “Tiga puluh satu ribu Mas!”. 31000. Angka itu yang tertera di layar komputer kasir. Gue keluarin dompet biru gue yang sering dikatain “lucu” sama temen2 perempuan gue yang udah pernah liat. Nggak tau juga sih lucunya dimana. Mungkin karena di dalem dompet biru gue itu ada 2 lembar foto gue di dalemnya, jadi muncullah istilah lucu tersebut. Idih narsis.

Gue buka dompet gue dan gue lirik uang di dalemnya. Deg. Gue kaget. Seinget gue, tadi pagi ada selembar uang 100000-an di dompet gue, minimal 50000 lah. Tapi ini kok nominal terbesarnya cuma 10000 rupiah doank? Itu pun juga cuma selembar. Sisanya adalah beberapa lembar uang 1000 rupiah yang gue nggak tau jumlahnya berapa.

Panik. Gue mulai ngerasa panik. Tapi paniknya cuma di dalem hati aja. Nggak gue tunjukin dalam ekspresi wajah, raut muka ataupun attitude dan tingkah laku. Kan ngikutin pelajaran yang gue dapet dari para trainer, yaitu bahwa meskipun diri kita sedang bermasalah, tapi tampilan luar kita nggak boleh memperlihatkan bahwa kita sedang memiliki masalah. Bahasa kerennya: profesional.

Bingung. Gue takut uang gue kurang. Akhirnya dengan ucapan Bismillah, gue itung lembar demi lembar uang gue tersebut. 1 lembar 10000 rupiah, itu yang udah pasti. Terus gue itung uang seribuannya. 1 lembar, 2 lembar, 3 lembar, 4 lembar, bla bla bla bla bla dan itungan gue terhenti di angka 12 lembar. Berarti ada 12 lembar uang seribu rupiah dan 1 lembar uang 10000 rupiah yang kalo ditotal berjumlah 22000 rupiah.

Deg. 22000 rupiah? Gue liat lagi nominal yang tertera di layar komputer kasir, disana terlihat angka 31000. Gue masih nggak percaya. Gue itung lagi uang di dompet gue. Dan sedihnya, hasilnya tetep sama, cuma ada rp 22.000,00. Sedangkan sekali lagi, gue ngeliat bahwa di layat komputer kasir tertera angka 31000.

OH MY GOD! DUIT GUE KURANG!

Panik. Pucat. Bingung. Kalut. Takut. Bau kentut. Badut. Burung perkutut. Lelembut. Ih apa sih kok nggak nyambung?

Dag dig dug der, jantungan lah gue saat itu juga. Tapi sekali lagi, cuma hati gue yang ngerasa gitu, sedangkan tampilan luar gue tetep datar dan tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi sedihnya, laki2 di belakang gue kayanya udah mulai nyadar kalo duit gue kurang. Hei Mas, kalo udah tau ya tolong dibantu, jangan malah cekikikan sendiri gitu.

Akhirnya dengan jiwa profesionalisme seperti anjuran para trainer, dengan gaya cool gue ngomong sama Andhika yang berada agak jauh di sebelah gue. Gue colek dia terus gue berujar,

“Dik, minjem uang bentar donk!”

Saat ini, hanya Andhika satu2nya manusia yang gue kenal yang ada di situ, yang bisa gue minta pertolongan. Dan Alhamdulillah akhirnya Andhika menjawab,

“Wah, aku nggak bawa dompet Mas!”

DUUUAAAAARRR!!! Merapi meletus. Samudera Pasifik tsunami. Tanah bergemuruh. Bumi gonjang-ganjing. Matilah awak…

Andhika, ternyata nggak bawa dompet dan intinya, dia nggak bawa uang sama sekali. Pupuslah harapan gue untuk berharap lebih jauh lagi.

Akhirnya dengan segenap tenaga tersisa dan semangat yang masih ada, dengan wajah polos dan tanpa dosa gue ngomong ke mbak2 penjaga kasir tersebut.

“Mbak, itu Adem Sarinya dibalikin aja deh…”

Mbaknya kaget. Dia bengong. Sambungan kabel di otaknya mencoba mempercepat koneksi terhadap ucapan gue barusan. Lalu setelah loadingnya beres, dia berujar,

“Dua2nya Mas?”

“Iya Mbak…”

Kriiiik… Kriiiik… Kriiiik… Seumur2 baru kali ini gue ngembaliin barang kaya gini. Untung mbak2nya baik. Dia manut ngikutin perintah gue. Dia ambil Adem Sarinya, dia balikin ke tempatnya dan dia mulai mencet2 komputer kasirnya.

Kejadian ini diliat dengan jelas oleh laki2 yang ngantri di belakang gue. Pun demikian dengan mbak2 di belakang laki2 itu yang tadi sempet lirik2an sama gue. Aduh malunya… Tapi nggak apa2 Mbak, saya masih tetap bersedia ngasih nomer handphone saya kok buat Mbak…

Akhirnya setelah perhitungan selesai, di layar komputer kasir tertera angka 21300. Fiuuuh… Alhamdulillah, akhirnya budget nya sesuai dengan isi dompet gue. Bukan cuma sesuai, tapi nyaris mendekati kematian, atau kalo dalam bahasanya si Ashif, temen gue di Kastrat, yang kaya gini tuh namanya “Near Dead Experence”, pengalaman mendekati kematian.

Hati gue lega ngeliat angka 31000 itu terreduksi jadi 21300. Sekali lagi dengan ekspresi wajah datar, polos dan tanpa dosa, gue keluarin uang 22000 rupiah satu2nya itu dari dompet gue dan gue kasi ke mbak2 penjaga kasir. Mbak2 itu pun mengambilnya dan balik ngasih gue 2 keping uang logam bernilai total rp 700,00 buat kembalian. Transaksi selesai. Ijab kabul beres. Sendal Bilabong dan kertas binder udah di tangan. Akhirnya pergilah gue meninggalkan kasir kemaluan itu, sekali lagi dengan gaya yang tenang seakan2 nggak terjadi apa2. Huohohoho…

Sampe di tempat parkir, Andhika ngeluarin motornya. Dan gue disamperin sama mas2 tukang parkir. Karena Andhika nggak bawa uang, jadilah gue yang bayar uang parkir itu. Alhamdulillah, Subhanallah, Segala Puji Hanya Bagi Allah, tarif parkir motor di Mas Gading hanya sebesar 500 rupiah. Dan dengan satu2nya uang yang tersisa, yaitu uang rp 700,00 hasil kembalian tadi, gue kasih uang itu ke mas2 tukang parkir, dan kami pun dibebaskan untuk melajukan motor kami melintasi jalan raya. Aaaah, lega… Seandainya aja parkir motor disana bayarnya rp 1000,00, apologi macem apa lagi yang bakal gue pake ke tukang parkir itu? Haruskah gue nyuciin bajunya dulu supaya bisa dibebaskan menebus uang parkir itu? Yah, intinya sekarang gue udah bebas dari Mas Gading itu, dengan uang yang tersisa di dompet adalah 200 rupiah doank. Uang yang mungkin bakal gue kasih ke tukang ngelap motor di perempatan lampu merah nanti.

Sesampainya di BEM, gue baru inget. Tadi pagi emang ada uang sebesar rp 350.000-an di dompet gue. Tapi sedihnya di hari itu ternyata gue menghabiskan 150000 rupiah untuk beli bensin buat makanan MyLovelySolBro, 168500 rupiah untuk beli pulsa di FreesqCell, dan sisanya buat beli makanan yang pada akhirnya hanya tersisa rp 22.000,00 itu di dompet gue.

Aduh malunya…

4 Comments Add yours

  1. Asw…

    ya ampyunnn taaaaa…..

    huauauuahahahahahahahahahahahhaoaoaoaooahohohooh ohohhohehehehhahahahehehaooaoaahahhahahaaa……

    ih malu2-in bgt…..
    masa gak inget c udah beli ini itu sbelomnyaaaa…huakkakakkaaaa….

    makanya….dompetnya minta diganti tuh sama yang …..(lho salah ya???))hehehheeheeeeee….

    wasw…

  2. noPhe says:

    aiH..
    kiSah’a uNiq aAjach..Hhe
    LaeN x paKe krtu yg bS d geSek aJa..Hhe
    (tw dah d geseK dmN..)hHe

  3. auliarizda says:

    hahahahahaah, nggak pa pa kok, aku juga pernah kekurangan uang di kasir, cuma waktu itu TKP-nya di mirota kampus…hahaha
    abisnya mau bayar pake kartu ternyata layanannya lagi eror, ya udah…haha
    oh iya, merk sendal itu, emang ‘quiksilver’ bukannya yah? ‘quicksilver’ itu setahu saya adalah nama kapal pesiar..
    haha

  4. auliarizda says:

    eh sorii, yang ketawa terakhir itu, aku cuma ngelanjutin ngetawain ‘kejadian kasir’, bukan ngetawain quiksilver…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s