LagiLagiIlang

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 3 November 2008/5 Dzulqaidah 1429 di petang hari setelah Maghrib yang syahdu dan menenangkan, aku beserta 2 ekor anak manusia yang bernama, sebut saja Ayi Wirawan (21/M/Bantargebang) dan Andhika Pranayudha (19/M/Ciputat) yang saat itu lagi nongkrong di BEM KMFT UGM, merasakan adanya bunyi cacing2 yang menggeliat-geliat di dalam perut kami. Cacing2 itu menggelinjang dan menimbulkan bunyi keroncongan yang bersumber dari dalam perut. Apa artinya? Artinya adalah bahwa kami bertiga terkena penyakit cacingan.

Ya nggak lah! Bukan cacingan maksudnya, tapi itu adalah tanda2 kecil dari laparnya perut seseorang. Kaya kiamat aja, ada tanda2 kecil dan ada tanda2 besar. Ya udah tanpa menunggu kami jadi cacingan beneran, kami bertiga melangkahkan kaki ke sebuah restoran, eh rumah makan yang terletak di Pogung yang bernama Ngundi Rejeki.

Ngundi Rejeki yang terletak persis di pengkolan ini merupakan tempat makan favorit anak2 Pogung dan sekitarnya. Beberapa alasan diantaranya adalah karena harganya yang murah, pelayannya ramah, penyajiannya cepet dan birokrasinya yang nggak berbelit. Plus, kalo lagi makan di sini kadang2 kita sering ketemu sama orang yang kita kenal. Jadi tunggu apa lagi, mari makan di Ngundi Rejeki sekarang juga! (pesan ini disponsori oleh: Rumah Makan Ngundi Rejeki. Alamat: Pogung Kidul pengkolan Selokan Mataram).

Kita lewatin aja bagian makan2 tersebut, ditakutkan kalian nanti malah bakalan ngiler ngeliatin aku makan sop daging sapi plus jus jeruk. Singkat cerita, kami bertiga telah selesai makan dan kini tibalah waktunya untuk kembali pulang ke BEM. Kaya lagunya Kangen Band, “kembali pulang”. Kekasih yang dulu hilang… Kini dia t’lah kembali pulang…Ih kok malah nyanyi sih.

Di perjalanan pulang, tiba2 Afgan berkumandang. Berarti menandakan bahwa sudah masuk waktu Isya. Loh emang apa hubungannya si Afgan sama waktu Isya? Ya iyalah, yang berkumandang kan Afgan Isya. 1 jam sebelomnya, yang berkumandang itu Afgan Maghrib. Kalo pagi2 jam 4-an, ada Afgan Subuh. Buset dah, itu mah Adzan, dodol!

Karena Afgan eh, adzan berkumandang, kami bertiga melangkahkan kaki ke Musholla Teknik. Musholla Teknik yang biasa disingkat ShoNik, eh maksudnya MusTek ini berada di seberang ruang BEM, bersebelahan. Tapi bangunannya berdiri sendiri2, nggak dempetan kaya di ruko2 gitu. Lalu aku sama mas Ayi masuk ke ShoNik eh ke MusTek dari pintu arah Jurusan Arsitektur yang berada di sebelah Utara Mustek, karena posisi kami emang lebih deket dari situ setelah pulang dari Ngundi Rejeki tadi. Sedangkan si Andhika memutuskan untuk ke BEM bentar, lalu dia ke MusTek lewat pintu utama yang berada di sebelah Selatan Mustek, karena posisi ruang BEM lebih deket dengan pintu utama MusTek daripada pintu arah Jurusan Arsitektur.

Mas Ayi berjalan di depan ku. Ia lepaskan sendalnya di emperan MusTek sebelah Barat. Aku menyusulnya dan kuletakkan sendal ku di sebelahnya sendal mas Ayi. Lalu aku beranjak ke lantai kedua untuk mengumandangkan Afgan eh adzan Isya dengan suara ku yang Insya Allah merdu dan menghanyutkan layaknya Afgan yang asli. Ih dari tadi Afgan melulu, ngefans ya?

Selesai adzan, aku turun ke bawah buat wudhu, shalat rawatib, nungguin orang2 dateng, terus ke lantai 2 lagi buat qomat, dan turun lagi ke bawah buat melaksanakan shalat Isya berjamaah. Lalu bla bla bla bla bla bla bla bla… Akhirnya shalat berjamaah selesai dan aku tutup dengan shalat rawatib.

Lalu aku beranjak untuk meninggalkan MusTek. Aku melangkah ke emperan Utara untuk mengambil sendal ku. Sesampainya di sana, aku nggak melihat sendal ku itu. Yang ada Cuma sendal biru punya mas Ayi. Dan juga nggak ada sendal2 lainnya soalnya orang2 datengnya dari pintu utama di sebelah Selatan, jadi mereka pada naro sendalnya di sana.

Aku menyusuri emperan Utara itu sekali lagi. Dan aku masih nggak menemukan sendal ku disana. Wah, kemana nih sendal, mungkinkah beliau ilang? Berdasarkan premis yang ada, aku berasumsi awal bahwa sendal ku emang ilang. Tanpa perasaan berdosa dan tanpa perubahan ekspresi wajah apapun, dalam hati aku berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang!”

Tapi aku masih punya asumsi lain. Mungkin aja sendal ku itu udah nangkring di ruang BEM, dibawa sama siapa gitu yang iseng. Lalu aku meninggalkan Mustek dan berjalan kaki secara nyeker alias tanpa alas kaki ke ruang BEM. Di depan pintu yang terkunci ada Andhika dan Doni yang nungguin aku untuk ngebukain kunci pintunya. Tapi ternyata di sana pun aku juga nggak menemukan kehadiran sendal ku itu. Wuah ilang beneran nih.

Aku masih belom nyerah. Akhirnya aku nyeker sekali lagi ke MusTek. Dan aku telusuri lagi emperan Utara tempat sendal ku terakhir kali aku lihat. Dan sekali lagi, hasilnya nihil. Sendal ku telah hilang dan raib entah kemana. Sekali lagi aku pun berujar, “Alhamdulillah sendal ku ilang.

Lalu aku balik lagi ke ruang BEM masih dengan kondisi tanpa alas kaki. Di sana udah ada mas Ayi sekarang. Melihat kedatanganku tanpa alas kaki, mereka bertanya,

“Gimana sendalnya?”

Dan aku menjawab singkat,

“Alhamdulillah ilang”

Tanpa ekspresi, tanpa perubahan raut wajah, dan tanpa perubahan suasana hati. Insya Allah demikian.

Iya, akhirnya sepasang sendal selop Bata dari bahan jins berwarna biru dengan tulisan Power itu kini telah tiada dan telah berpindah tangan ke seseorang entah siapa. Eh bukan berpindah tangan, tapi berpindah kaki, kan sendal dipakenya di kaki.

Aku pribadi sih nggak masalah sendal ku ilang. Sebagaimana tulisan ku sebelumnya yang berjudul “Sendal dan Pemiliknya”, aku berpendapat bahwa sendal ini hanyalah titipan dari Allah kepada kita. Sebelom ini pun aku udah pernah kehilangan sepasang sepatu Ellese yang kuhadapi dengan ikhlas dan membuatku mendapatkan sepasang sepatu Puma dan sepasang sepatu Bata lainnya. Plus, dulu juga aku pernah kehilangan sebelah sendal Bata ku yang nyemplung ke got, yang membuat ku mendapatkan sendal Bata bertuliskan Power itu sebagai gantinya. Duh dari tadi Bata melulu nih, mau promosi lagi ya?

Yang aku sedihkan adalah nilai historis dari sendal Bata Power itu. Kan dulu waktu sendal Bata ku kecemplung got, aku menggantinya dengan sendal QuickSilver abal2. Lalu aku bawa sendal QuickSIlver itu ke Depok. Sesampainya di sana keluarga ku tercinta menyadari kalo anak laki2nya yang imut ini kini udah nggak lagi mengenakan sendal Bata yang udah bertaun2 nongkrong di kakinya. Akhirnya aku ceritakan kejadian nyemplungnya sendal Bata ku yang membuat aku harus beli sendal QuickSilver ini.

Mungkin keluarga ku terenyuh mendengarkan penuturan ku tentang nyemplungnya sendal Bata tersebut. Lalu tanpa aku sadari, mereka berinisiatif untuk membelikan ku sebuah sendal baru. Ya itulah sendal selop Bata berbahan jins warna biru dengan tulisan Power diatasnya. Sebuah sendal yang punya nilai historis yang sangat tinggi, karena merupakan pembuktian sebuah kasih sayang keluarga. Aku pun terkejut dan bahagia ketika pertama kali dapet sendal tersebut, soalnya sendal ku selama ini hanyalah sendal2 standar yang nggak punya nilai estetika dan seni di dalamnya. Pemilihan sendal Bata Power ini adalah keputusan keluarga ku untuk memberikan sebuah alas kaki yang gagah dan macho yang matching dengan body anak laki2nya yang juga macho dan six pack ini.

Tapi apa mau dikata. Sekarang sendal itu udah raib entah kemana. Sendal yang dulu aku dapet dengan nilai historis yang tinggi, kini juga lenyap dengan nilai historis pula. Dasar maling nggak tau diri. Bukan masalah materinya yang membuat kita bersedih, melainkan adalah adanya nilai historis yang dimiliki oleh materi tersebut. Dengan ini, apa yang harus ku katakan di hadapan keluarga ku nanti jika mereka bertanya kenapa sendal Bata Power yang dulu mereka belikan dengan penuh rasa cinta kini nggak nangkring di kaki ku lagi?

Pun demikian dengan sepatu Ellese ku yang dulu ilang di depan ruang BEM. Sepatu itu modelnya SAMA PERSIS dengan punya kakak ku, karena kita emang belinya janjian dan kompakan gitu, biar kaya anak kembar. Tapi si maling nggak tau diri itu emang sukanya nyolong hal-hal yang bernilai historis tinggi.

Ya udahlah tawakkal aja. Semoga si maling bisa memanfaatkan sendal Bata Power ku itu di jalan yang benar dan untuk kegiatan yang bermanfaat. Dan terakhir, sekali lagi aku hanya bisa berkata, “Alhamdulillah sendal ku ilang.

One Comment Add yours

  1. asw….

    “…Pemilihan sendal Bata Power ini adalah keputusan keluarga ku untuk memberikan sebuah alas kaki yang gagah dan macho yang matching dengan body anak laki2nya yang juga macho dan six pack ini….”

    hahahhahhahhahhahhhhahhahhay……

    wasw….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s