Obituari: Triyas Sukmawati

Setiap harinya, ada penduduk bumi yang dilahirkan dan ada yang meninggal. Dan pada hari Senin tanggal 23 Juni 2008, aku yakin seyakin-yakinnya bahwa pada tanggal tersebut ada seorang manusia lagi yang kembali ke pangkuan-Nya. Kenapa? Karena orang yang dimaksud tersebut adalah Triyas Sukmawati, seorang mahasiswi Universitas Padjajaran Bandung yang sedang menempuh studinya di Sastra Rusia.

Triyas Sukmawati adalah seorang gadis imut yang terlahir pada tanggal 11 Oktober 1988. Pertama kali aku kenal dengan beliau adalah ketika kami bersekolah di SLTP Negeri 2 Depok, ketika itu kami sekelas di kelas 3-1. Satu hal yang aku ingat dari awal perkenalan ku dengan beliau adalah ketika itu, Triyas adalah perempuan pertama (di luar keluarga) yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada ku, dimana saat itu aku berulang tahun yang ke-14.

Selanjutnya kami berempat (bersama dengan Krismansyah dan Prisman) mendirikan band kelas 3-1 untuk tampil di Pentas Seni SLTPN 2 Depok. Band ini pada awalnya bernama Todung Suryadi, dimana nama ini merupakan gabungan dari nama bapaknya Prisman dan bapaknya Triyas. Teringat jelas bahwa Triyas hanya cengar-cengir dan tersenyum mendengar hal tersebut. Selanjutnya oleh Krisman, nama itu diganti menjadi ARTIST yang merupakan singkatan dari (Astoto Rxxxxx Todung Iman Suryadi Triyas). Nama itu bisa dikatakan unik karena mengambil dari inisial nama depan bapak2 kami, dimana nama Astoto yang tampan itu adalah bapak ku, Todung adalah bapaknya Prisman dan Suryadi adalah bapaknya Triyas. Dan sekali lagi Triyas masih tetap dalam senyumnya mendengar nama ini.

Ketika masa-masa SMP dulu, aku sering mengiringi Triyas bernyanyi. Kala itu lagu yang sedang nge-trend adalah lagu2 dari Band Coklat, khususnya di album keduanya, dengan lagu2 semacam “Karma”, “Jauh”, “Luka Lama”, dan lain2. Masih terngiang tingkah laku beliau yang dengan pede-nya nyanyi2 gak jelas di kelas. Sekalipun banyak protes dari teman2 sekelas, beliau tetap tersenyum dan tersenyum. Beliau juga sering dijadikan sebagai bahan olok-olokan oleh teman2nya, namun sangat jarang aku melihat beliau marah, kesal, atau dendam kepada kita semua, separah apapun olok-olokan yang kita berikan kepada beliau.

Teman sebangku beliau ketika itu adalah Verina. Sekalipun Triyas adalah seorang perempuan yang cukup “populer” dan “terkenal” di sekolah, namun ia dengan rendah hatinya tetap setia untuk duduk sebangku, eh semeja bersama Verina, yang notabene merupakan perempuan yang “kurang populer” dan “kurang terkenal” di sekolah. Bahkan cenderung menjadi korban “bullying”. Tapi tetap saja Triyas dengan segala kesabarannya bersedia menemani Verina kapanpun dimanapun ia berada dalam setiap keadaan suka dan duka.

Selanjutnya kami dan Triyas terpisah sekolah. Aku melanjutkan sekolah ku di SMA Negeri 1 Depok, sedangkan beliau di Bandung. Akibatnya beliau pun harus menetap di rumah neneknya di Bandung. Sejak itu komunikasi antara kami mulai merenggang. Beliau pun juga jarang pulang kembali ke Depok. Namun, silaturrahim di antara kami berdua masih terus terjalin. Band kelas yang dulu pernah kami buat bersama yang kemudian berganti nama menjadi HISTERIS (Himpunan Seniman Terbaik Tiga Satu), mampu menjaga hubungan antara kami.

Saban seminggu sekali, HISTERIS selalu ngumpul2. Entah itu di Astoto’s Castle, Harun’s Secret Base, Gunadi’s Building, Todung’s Aquarium, Adis’ House, Cupi’s Mansion maupun Suryadi’s Place (nama-nama tersebut diambil dari novel yang pernah aku buat di binder C-Kink Special Editon). Seringkali aku meminta Triyas supaya beliau sering2 pulang ke Depok, ke rumahnya di Gang Buah, Pitara, Depok Jaya. Dan setiap kali beliau pulang ke Depok, maka kami berenam (ditambah dengan Ega, Ayu dan Adis) selalu mencoba menyempatkan diri untuk berkumpul. Saat2 itulah dimana kami semua memiliki waktu untuk berbagi dan bercerita tentang banyak hal, mulai dari yang jayus2 sampai ke hal2 yang serius.

Ketika itu kami sama2 mengagumi anime One Piece, dan kami mencoba iseng2 menyamakan kepribadian kami dengan tokoh2 yang ada di anime One Piece. Bila Ega mengaitkan aku dengan Roronoa Zoro, Krismansyah dengan Usop, dan Adis dengan Tony-Tony Choper, Ega mencoba untuk mengaitkan Triyas dengan Nico Robin. Aku lupa alasannya kenapa, yang jelas adalah karena Triyas dan Nico Robin sama2 misteriusnya. Aku menambahkan opini Ega, Nico Robin misterius karena masa lalunya dan kepribadiannya, sedangkan Triyas misterius karena kita masih meragukan apakah dia benar keturunan manusia atau bukan. Namun aku sendiri merasa Triyas lebih mirip dengan karakter Lady Alvida, hanya saja Alvida nya yang belum memakan buah setan Sube-Sube. Alasannya adalah karena mereka berdua sama2 mengaku cantik, padahal keadaan yang sebenarnya tidaklah demikian.

Masih terekam jelas ketika itu bagaimana kami semua tertawa bersama mengutarakan kejayusan2 yang kami miliki. Begitupun dengan canda tawa dan olok2an yang seringkali terlontar diantara kita. Dan kebetulan yang paling sering menjadi bahan olokan adalah Triyas sendiri. Namun tak pernah sekalipun beliau marah mendengar segala ejekan dari kami semua. Beliau selalu membalasnya dengan senyuman dan tawa yang penuh ceria. Triyas-lah badut (baca:penghibur) disaat kami semua sedang gundah gulana. Senyum dan tawa beliau selalu menggema menghiasi saat2 dimana kami semua bersama. Hal itu membuatku terinspirasi untuk membuat sebuah puisi tentang beliau :

Dia…

Sama seperti kita

Hanyalah manusia biasa

Yang memiliki hati dan jiwa

Dia…

Tetap berbahagia

Tiada kesedihan di wajahnya

Walau dia jauh dari kita

Tapi mengapa

Dia selalu dihina

Dengan ucapan yang tak bermakna

Walaupun dapat mengundang tawa

Di sana dia kesepian

Tapi di sini dia ditertawakan

Namun dia tidak marah

Dan tiada dendam di hatinya

Seperti itulah dia

Selalu riang gembira

Disaat suka dan suka

Karena dia…

Tetaplah dia…

Yang menjadi dirinya

Ya, dia adalah dia

Di sudut kamarku, Depok, 9 November 2003

Triyas memang tinggal dan menetap serta bersekolah di Bandung, namun beliau selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Depok dan menemui kami semua. Dan beliau pun rela menjadikan rumahnya (Suryadi’s Place) sebagai tempat kami ngumpul2 dan menghabiskan waktu sampai malam sekalipun.

Selepas dari SMA-nya di Bandung, beliau melanjutkan studi beliau untuk kuliah di Universitas Padjajaran Bandung, jurusan Sastra Rusia. Ada kejadian unik terkait mengapa pada akhirnya beliau terdampar di jurusan Sastra Rusia. Ketika itu, sebenarnya beliau berkeinginan untuk masuk ke jurusan Satra Jerman. Namun ketika menulis nomor kode jurusan pada form pendaftaran, beliau salah memasukkan nomor kode. Akhirnya tertulislah jurusan Sastra Rusia sebagai pilihannya, dan beliau diterima di sana.

Di saat orang lain bingung setengah mati memilih jurusan apa saja yang hendak dituju dalam SPMB, UM UGM, USM ITB, SMUP dan lainnya, beliau dengan wajahnya yang tanpa dosa menceritakan tentang kejadian “salah nomor kode jurusan” itu kepada kami semua. Tak terlihat adanya penyesalan di wajahnya, beliau menceritakannya dengan senyum dan penuh tawa. Padahal mungkin bagi sebagian orang, kesalahan seperti itu bisa jadi merupakan suatu hal yang fatal yang berpengaruh terhadap kelanjutan studi kita di masa depan nantinya (meskipun ternyata umur beliau tidak sampai ke masa depan ini). Tapi hal itu tidak terjadi pada diri Triyas, beliau tetap menjalaninya dengan santai dan tanpa dosa. Betapa tegar dirinya. Alhamdulillah nyasarnya ke Sastra Rusia, bukan ke Sastra Jawa atau Sastra Kebun Binatang.

Semenjak kuliah, kami berdua terpisahkan oleh jarak, ruang dan waktu. Beliau berada di Bandung sedangkan aku di Jogja. Sampai menjelang 2 tahun perkuliahan, jumah pertemuan yang mempertemukan kami berdua dapat dihitung dengan jari.

Yang masih teringat dengan jelas adalah suatu waktu ketika HISTERIS berkumpul di rumah Triyas. Saat itu, beliau memperkenalkan sebuah permainan kartu yang bernama UNO kepada aku, Krisman, Ega, Prisman dan Adist. Satu pak kartu UNO dengan gambar Spiderman sebagai modelnya. Ketika itu hanya beliau saja satu2nya orang yang mengerti tentang kartu UNO ini. Lalu beliau dengan sabarnya mengajarkan kepada kita semua cara memainkan kartu tersebut. Sampai pada akhirnya kami ber-6 mulai mengerti, kemudian berlanjut ketagihan dan kami pun menghabiskan waktu berjam2 di rumah beliau untuk bermain kartu UNO tersebut.

Sampai pada suatu hari di bulan Mei, aku mendapat sms yang isinya memberitakan bahwa Triyas masuk rumah sakit. Diberitakan bahwa beliau harus mengalami rawat inap dirumah sakit. Aku sendiri lupa penyakitnya apa, tapi mungkin sudah sedemikian parahnya. Sedihnya, di bulan Mei itu aku sedang berada di Jogja menjalani masa2 perkuliahan, sehingga aku tidak mampu untuk menjenguknya. Jadilah beberapa hari kemudian ketika aku merasa bahwa beliau sudah agak baikan, aku menyempatkan diri untuk mengirim sms. Sebuah sms simpel yang disertai dengan bumbu2 jayus.

“Asw. Yas gimana kabarnya? Operasi plastiknya sukses? Sekarang udah jadi cantik belom?”

Mungkin redaksinya berbeda, tapi intinya aku sempat mencandai beliau dengan menyebut kata2 operasi plastik. Beliau menyempatkan diri untuk membalas sms ku, dan aku pun membalasnya lagi. Namun aku lupa apa isi sms lanjutan itu.

Di pertengahan bulan Juni setelah selesai UAS, aku pulang kembali ke Depok. Seperti biasa, waktu2 di Depok ini selalu dimanfaatkan anak2 HISTERIS untuk berkumpul bersama. Adist lah orang yang paling punya inisiatif untuk mengumpulkan orang2. Lalu kami berdua secara sepihak menentukan bahwa pada hari Kamis 19 Juni 2008, kita akan berkumpul di rumah Triyas jam 9 pagi. Namun sedihnya, beberapa waktu sebelum itu Triyas kembali harus masuk ke rumah sakit dan menjalani rawat inap. Jadilah HISTERIS tidak jadi berkumpul di rumah Triyas, dan leih memilih untuk menjenguk Triyas saja. Sampai pada akhirnya, kami semua sepakat bahwa pada hari Selasa 24 Juni 2008, anak2 HISTERIS akan berkumpul di rumah sakit tempat Triyas dirawat. Plus, sekalian menginap juga disana kalau diperbolehkan. Adist mengirim sms pemberitahuan tersebut pada hari Senin 23 Juni 2008 sekitar pukul 11 siang. Semua orang sepakat, dan aku pun sudah membayangkan bahwa rumah sakit yang identik dengan penyakit dan aura kesedihan itu akan menjadi ceria dengan kehadiran kami.

Tiba2 sekitar pukul 3 sore ketika aku sedang berjalan2 di sebuah pusat pertokoan, sebuah sms masuk ke handphone ku. Sebuah sms dari Adist, yang isinya :

“Inna lillahi wa inna illlaihi rajiuun, Triyas meninggal!”

Mungkin redaksinya beda, tapi itu intinya. Spontan saja aku langsung menelpon Adist dan menanyakan kebenaran kabar tersebut.

Ternyata kabar itu benar.

Ternyata Triyas sudah meninggal.

Triyas sudah pergi dari dunia yang fana ini, beberapa jam yang lalu.

Lalu aku bertanya tentang keadaan terakhirnya dan rencana prosesi pemakamannya kepada Adist, masih melalui telepon. Rencananya jenazah Triyas akan dibawa pulang ke rumahnya di Gang Buah, Pitara, Depok Jaya pada malam ini. Sementara jenazah akan dikebumikan keesokan paginya.

Ah Triyas, aku sudah sedikit lupa kapan terakhir kali kita bertemu dan seperti apa pertemuan terakhir itu. Niat kami untuk menemanimu menginap di rumah sakit ternyata tidak kesampaian. Bahkan niat kami hanya untuk sekedar menjengukmu pun tidak terkabulkan, hanya selisih beberapa jam saja dengan waktu penjemputan ajalmu.

Kini HISTERIS hanya tersisa 6 orang semenjak Triyas mendekam di dalam kuburannya. Tak akan ada lagi wajah manisnya yang menghiasi hari2 ini. Tak akan ada lagi banyolan2 konyol yang keluar dari lisannya. Tak akan ada lagi suaranya yang menemani kami bernyanyi-nyanyi. Yang ada kini hanya seonggok tanah kering beserta batu nisan yang bertuliskan namanya, “Triyas Sukmawati”.

Beberapa hari setelah Triyas dikebumikan, aku menulis sebuah lagu untuknya. Sebuah lagu yang mungkin hanya menjadi pelipur lara untuk mengobati rasa rindu yang muncul akan kenangan dirinya. Berikut ini adalah lirik lagu tersebut:

Hari ini ku melihat daun-daun jatuh berguguran

Tertiup terhembus sang angin jatuh menyentuh tanah dan terkubur

Hari ini ku melihat kepergian seorang sahabat

Yang pernah singgah di dalam hidupku menghabiskan waktu ku bersama

Tak akan kembali disisiku kini tiada lagi

Tak akan terulang semua kenangan yang pernah kita alami

S’lamat tinggal ku ucapkan untukmu oh sahabat

Telah tiba waktu kita tuk berpisah

S’lamat jalan ku ucapkan untukmu oh sahabat

Hadapilah ini dengan senyuman

Bila saja waktu dapat terulang kembali

Ingin ku buat dirimu bahagia

Namun kini dirimu telah tiada

Semoga kita dipertemukan kembali

Di sudut kamarku, Depok, 26 Juni 2008

Aku berkaul, bahwa jika di tempatku menetap ada sebuah gitar, maka aku akan menyanyikan lagu itu setiap tanggal 23 Juni, untuk mengenang kepergian salah satu personil HISTERIS tercinta. Mungkin Triyas memang tidak mendengarnya. Tapi aku percaya bahwa suatu hari nanti, kita berdua akan dipertemukan lagi di surga-Nya. Amin, Insya Allah…

Sekedar info tambahan, tulisan ini mulai dibuat beberapa hari setelah pemakaman Triyas. Namun tulisan ini sempat terbengkalai dan tertunda selama beberapa waktu. Hingga akhirnya, tulisan ini dapat terselesaikan pada tangga; 12 Oktober 2008, persis 1 hari setelah hari ulang tahun Triyas yang jatuh pada tanggal 11 Oktober. Sedianya hari itu beliau merayakan ulang tahunnya yang ke 20. Tapi apa daya Lauh Mahfudz telah mencatat bahwa umur beliau tidak akan menyentuh angka 20. Ya sudahlah, ikhlaskan saja. Selamat jalan sahabat. Berjanjilah bahwa kita akan mengenang kembali semua cerita lalu kita di jannah-Nya nanti, Insya Allah.

8 Comments Add yours

  1. re says:

    tulisan yang benar-benar tulus dari seorang sahabat..
    i am sure, it’s the best for her=) just smile..she’s proud of u..

  2. ckinknoazoro says:

    asw

    hohohoho…. Alhamdulillah, makasih yua. semoga kita semua bisa berkumpul di surga-Nya nanti, Insya Allah

    wasw

  3. re says:

    amin…
    aq baca tulisan2 u..
    sangat komunikatif..great!

  4. krismansyah says:

    Whahahaha, Ren parah lo, entar diparanin lo. HAyuuuu loh. HAyuuuuuuu loh. Hayuuuuuuuu…

  5. ckinknoazoro says:

    asw

    hmmmm thank q re… semooga ke depannya bisa lebih inxpiratif lagi. kemaren tulisan gw yang mengkritik salah satu organisasi di kampus gw sempet dibredel lho, sampe gw disidang segala. hohohohoho… tar kapan2 gw posting deh insya Allah

    kenape lo tur? diparanin gimanah? sereman waktu masih idup apa waktu udah jadi mayat? Astagfirullah…

    wasw

  6. krismansyah says:

    Ren kalo nge-post jangan panjang-panjang dong. Gua pusing ngebacanya.

  7. ckinknoazoro says:

    niat gue sih pengen nulis yang pendek2 aja. tapi begitu ngetik malah gak bisa berenti, ya udah kaya gitu jadinya. buat mengantisisapinya, eh mengantisipasinya, blog gue lu save aja di flashdisk trus dibukanya di rumah. gue gak mau tagihan warnet lu bengkak cuma gara2 tulisan gue. hohohoho

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s