DesaIgatulo

DESA IPA 3

(Desaku, Desamu, Desa Kita Semua)

Alkisah pada zaman dahulu kala dimana pada zaman itu harga BBM sedang membumbung tinggi, korupsi merajalela dan kasus formalin menjadi berita utama, tersebutlah sebuah desa yang bernama Desa IGATULO (Ipa tiGA giTU Looooch…). Desa yang memiliki slogan “Kita Bisa Karena Doa Ibu” ini adalah sebuah desa yang sejahtera. Desa ini tidak kenal dengan kata “kemiskinan”, karena mereka memang belum berkenalan. Kesejahteraan di desa ini tidak lepas dari peran 2 orang sesepuh desa, yaitu Eyang Supy dan Mbah Lisydah yang menanggung kebutuhan hidup seluruh penduduk desa. Mereka memiliki uang untuk menghidupi penduduk desa dari hasil mengekspor jamur Igatulo yang ditanam di kebun mereka. Jamur Igatulo adalah jamur legendaris yang harga jualnya setara dengan gaji mingguan seorang David Beckham. Konon, barangsiapa yang memakan jamur ini akan membuatnya menjadi awet muda, karena jamur ini dapat membuat yang memakannya menjadi suka tertawa2 sendiri.

Sampai suatu hari, kedua sesepuh desa ini menyadari bahwa perbuatan mereka hanya akan membuat penduduk desa menjadi manja. Akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan desa ini sementara waktu. Kepada penduduk desa, mereka berkata bahwa mereka akan pergi untuk menunaikan ibadah haji di Las Vegas (naik haji apa main judi?) dan sekalian menjenguk cucu-cucu mereka, Ariyadhul Qolbi dan Sri Yantih disana. Selama kepergiannya, diharapkan penduduk desa mampu berusaha untuk hidup mandiri, sebagai persiapan untuk menghadapi globalisasi dan perdagangan bebas di masa mendatang.

Sepeninggal sesepuh desa, pengurus desa yang terdiri dari Rizqi MM selaku Kepala Desa, Emak Tyas selaku Sekretaris Desa dan Teteh Merlyn selaku Bendahara Desa, serta pengurus KUD yang terdiri dari Andi Rusmia selaku Kepala KUD, Marchi Chiponk selaku Bendahara KUD dan Yulian Lis selaku Sekretaris KUD mengadakan sidang istimewa. Menurut mereka, untuk memulai usaha dibutuhkan modal. Akhirnya mereka sepakat untuk meminjam modal ke rentenir.

Berangkatlah mereka menghadap Mami Deasy, seorang rentenir yang sudah malang-melintang di dunia lintah darat. Dengan dikawal 2 orang bodyguardnya yang bernama C-Kink dan Karnanim, Mami Deasy bersedia untuk memberikan pinjaman dengan bunga bangkai, eh maksudnya denga bunga yang sangat tinggi.

Kemudian pengurus desa dan pengurus KUD memberikan modal itu kepada 7 orang petani desa yang bernama Dalih DW, Anin Emon, Noi, Ditha, Cihuy, Yulita, Yulianti Ma’e dan Silmina Upay untuk bertani. Sisanya diberikan kepada 2 orang ahli ternak di desa tersebut, yaitu Dicky Baba, seorang Sarjana Ilmu Domba Garut dan Mevieta, alumnus IPB jurusan Ternak Lou-Han untuk beternak.

6 bulan telah berlalu, namun mereka belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Para perani mengalami gagal panen karena tanaman padi mereka terkena penyakit HIV AIDS yang belum ada obatnya. Begitu juga dengan para peternak. Ilmu mereka tidak banyak terpakai karena di desa ini mereka beternak kambing, bukan domba Garut ataupun ikan Lou-Han.

Tiba2, Mami Deasy dan 2 orang bodyguardnya datang ke desa tersebut. Mereka menghampiri Kepala Desa dan menagih utangnya. Namun Kepala Desa tidak mampu membayarnya saat ini. Beliau meminta supaya waktu pelunasannya ditangguhkan lagi. Mami Deasy marah mendengar hal ini. Lalu dia mengancam akan mengacaukan Desa Igatulo jika Kepala Desa tidak segera melunasi utangnya.

Keesokan harinya, datang 3 orang preman utusan Mami Deasy. Mereka adalah Tsoekoy, preman dari Taman Lawang, Gesa Culix, preman dari Jeruk Purut dan Aryo, pentolan SD Anyelir Tanpa ba-bi-bi, mereka langsung menghajar penduduk desa yang mereka temui sampai babak belur. Setelah puas, mereka pun pergi dengan santai seakan tidak punya dosa.

Penduduk desa yang terluka segera mendatangi puskesmas desa. Puskesmas ini memiliki 4 orang dokter yang terdiri dari 2 dokter umum, yatu Dr. Fikri Afis dan Dr. Nisa Falas, serta 2 doktor spesialis yaitu Dr. Hendry Tandow sebagai Dokter Spesialis Kandungan Perawan dan Dr. Cinet Idznillah sebagai Dokter Spesialis Pertumbuhan Tulang dan Gigi. Mereka merawa penduduk desa dengan Jujur dan Tulus seperti lagunya Radja, tak peduli apakah penduduk desa mampu membayar atau tidak, karena motto puskesmas ini adalah “Sembuh Duluan Bayar Belakangan”. Dalam tempo dan waktu yang sesingkat2nya, penduduk desa pun sembuh dan siap bekerja kembali.

Suatu hari, desa ini kedatangan 2 orang ilmuwan. Mereka adalah Anton, peraih nobel bidang Biokimia dan Elsha, seorang Sarjana Ilmu Kambing. Anton adalah orang yang berhasil menemukan bibit padi unggul, yaitu bibit padi yang anti hama, anti serangga, anti ketombe, anti lecek, anti virus, anti suap dan anti korupsi. Sedangkan Elsha adalah ilmuwan yang sangat menguasai dunia perkambingan. Hal ini tidak aneh untuknya, karena kalau kita lihat KTP-nya, kita akan mengerti mengapa dia mampu menguasai ilmu kambing karena dia memang dilahirkan di kandang kambing.

Dengan kehadiran mereka berdua, pertanian dan peternakan Desa Igatulo berkembang dengan cepat. Dalam waktu singkat, Desa Igatulo telah menjadi sebuah desa yang maju. Hal ini menarik minat TNI untuk mengadakan program TNI Masuk Desa. Maka dikirimlah pasukan TNI dari Batalyon Celepuk di bawah pimpinan Kolonel Thoyib. Dibantu kelima anak buahnya yang bernama Fikri Cham2, Angga Tepe, Lia Kampleng, Maya dan Zeni, mereka bertugas mengamankan desa dari serangan luar. Meskipun mereka adalah pasukan TNI, tetapi mereka semua punya satu cita2 yaitu “MERDEKA PALESTINA”.

Di antara anak buah Kolonel Thoyib ada seorang yang merupakan pengantin baru, yaitu Zeni. Sebagaimana pengantin baru lainnya yang tak mau jauh2 dari pasangannya, Zeni pun membawa suaminya yang bernama Atthar untuk ikut menetap di desa ini. Sebagai seorang suami, adalah hal yang memalukan jka seorang suami tidak mempunyai pekerjaan. Karena itulah Atthar mendirikan home industy ukir2an kayu yang bernama “Atthar’s Wood Graffity”. Lalu ia merekrut 2 orang petani yaitu Silmina Upay dan Anin Emon sebagai asistennya.

Dengan semakin berkembangnya sektor pertanian dan peternakan serta masuknya TNI dan adanya pengrajin ukir2an kayu, kini desa Igatulo telah benar2 maju. Roda perekonomian KUD berjalan dengan lancar. Pengurus desa senang melihat semua ini.

Berita tentang kemajuan Desa Igatulo terdengar sampai telinga Mami Deasy. Bersama 2 orang bodyguardnya dan 3 orang preman utusannya, mereka datang kembali untuk menagih utang yang dulu. Kepala Desa pun melunasi utangnya sebesar yag pernah dipinjam dulu. Namun Mami Deasy menolak. Ia marah karena Kepala Desa tidak membayar bunga dari utangnya. Dan Mami Deasy menjadi lebih marah lagi karena Kepala Desa membayar bunganya dengan bunga mawar, padahal Mami Deasy kan lebih suka bunga melati. Lalu Mami Deasy menyuruh 3 orang preman utusannya untuk menghajar penduduk desa.

Melihat hal tersebut, pasukan TNI dari Batalyon Celepuk tidak tinggal diam. Di bawah pimpinan Kolonel Thoyib, mereka membalas serangan preman tersebut. Terjadilah pertempuran sengit antara pihak preman dengan pihak TNI. Dalam pertempuran yang berlangsung selama 7 hari ini, diperkrakan sedkitnya 40.000 pasukan blok sekutu tewas dan 35.000 pasukan blok sentral juga tewas serta 65.000 orang lainnya luka2 (bo’ong banget). Saking dahsyatnya pertempuran ini sampai2 merusak kebun jamur milik sesepuh desa.

Tiba2, dari kejauhan terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an surat Al-Hujuraat ayat 10 yang artinya : “Sesungguhnya orang2 mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih…” Mendengar itu, mereka yang sedang berkelah imenjadi terdiam, menghayati kata demi kata firman Allah swt tersebut. Ternyata, ayat itu dilantunkan oleh Ustadz Diaz SP S.Ag, yang namanya tercantum dalam Guiness World of Record karena mampu tawaf (mengitari Ka’bah) 70 putaran non stop. Ia datang bersama 4 orang istrinya yaitu Rani, Wieke, Nurul dan Betty. Mereka berlima adalah pengurus Pondok Pesantren Keong Puyeng.

Lalu, mereka mendamaikan kedua belah pihak yang berseteru. Tak lupa, Ustadz Diaz SP S.Ag juga mengingatkan Mami Deasy untuk meninggalkan profesinya sebagai rentenir, karena rentenir itu pemakan riba dan riba itu haram. Dalilnya adalah Al-Qur’an surat Al-Bawarah ayat 275 yang artinya : “…Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…” Mendengar itu, Mami Deasy pun bertobat dan meninggalkan profesinya sebagai lintah darat untuk beralih profesi sebagai buaya darat.

Kemudian mereka semua bersalam2an, bermaaf2an dan berpeluk2an seperti di film India. Tak ada lagi rasa permusuhan diantara mereka. Semua telah berakhir. Saatnya untuk membangun desa ini menjadi lebih baik lagi, seperti kata Pak SBY “Bersama Kita Bisa!” Akhirnya, cerita ini berakhir dengan happy ending. Uuuuh… Senangnya…

TAMAT

Tiba2 dari kejauhan datang 2 orang yang sepertinya sudah tidak asing lagi. Mata mereka menyiratkan kemarahan yang amat sangat. Siapa mereka? Ya benar, kedua orang tersebut adalah “kau-tahu-siapa” dan “dia yang namanya tak boleh disebut”, yaitu Eyang Supi dan Mbah Lisydah. Mereka berdua sangat marah karena kebun jamur mereka telah porak-poranda. Tanpa ampun lagi, mereka menghukum seluruh penduduk desa dengan hukman yang setimpal, yaitu “Dimasak dalam Panci Mendidih”. Iiiiih… Syereeeeem…

copyright

2006

product registered

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s