AdaApaDenganKucing

KCB #1

(Bukan “Ketika Cinta Bertasbih” tapi “Kucing Cuilik Berkalung”)

Rabu, 17 Ramadhan 1429 H / 17 September 2008 M

Sore hari di suatu tempat di Kota Jogjakarta, khususnya di ruang BEM KMFT UGM, aku sama Ketua BEM Teknik yang bernama, sebut saja “Mas Ayi” (memang nama sebenarnya), baru pulang dari membeli ta’jil buat buka puasa hari ini. Mas Ayi memarkir motornya di parkiran sebelah Timur BEM.

Di parkiran itu terlihat ada 2 ekor kucing yang lagi nongkrong di sela2 motor yang teparkir. Yang satu kucingnya udah agak gede. Yang satu lagi kucingnya masih kecil, plus ada kalung & lonceng nya. Si kucing kecil berkalung itu mendekat ke kaki ku. “Krincing krincing…” kira2 gitu bunyinya. Jangan protes lho…

Aku melangkah masuk ke ruang BEM. Kucing kuwi isih ngintili awak ku sing kuru iki (hwayo artinya apa…?). Di dalam BEM ada beberapa ekor makhluk, tapi aku agak lupa siapa aja, salah satunya adalah seekor manusia yang bernama, sebut saja Andhika (juga nama sebenarnya). Sampai pada akhirnya beberapa ekor makhluk tersebut mulai beranjak pergi meninggalkan ruang BEM, menyisakan 5 ekor anak manusia, yaitu aku sendiri, Mas Ayi, Dwinna, kembarannya Dwinna yang aku lupa namanya (kata Nadia sih namanya Kiki) dan seekor laki2 yang aku gak tau namanya.

Aku mulai membuka bungkusan batagor yang tadi baru dibeli buat ta’jil. 2 bungkus batagor itu kita geletakin di lantai beralaskan bungkus plastiknya, supaya bisa kita santap rame2. Tiba2 si kucing berkalung yang tadi ngintili aku dari luar, secara perlahan mulai berjalan dengan keempat kakinya dan keenam kumisnya mendekati batagor yang tergeletak. Hidungnya mengendus2 naik turun. “Ndus ndus…” kita anggap aja bunyinya kaya gitu. Jangan pada protes lagi lho…

Melihat hartanya terancam, Mas Ayi mencoba melindungi batagor itu dengan cara mencegah si kucing mendekat lebih dekat lagi ke batagornya. Si kucing kecil yang lemah dan tak berdaya itu gak bisa berkutik menghadapi tangan Mas Ayi yang kotor, panuan, kudisan dan banyak bulunya itu. Kucing itu pun mencoba mendekati bungkusan bubur ayam yang masih terbungkus rapi. Tapi kucing itu kayanya gak suka bubur ayam. Terbukti bubur ayam itu ditinggalkannya begitu saja. Mungkin dia sukanya sama bubur tikus kali ya…

Lalu kucing itu mencoba lagi mendekati batagor yang tergeletak. Dan lagi2, tangan Mas Ayi menghadangnya. Bahkan Mas Ayi gak segan untuk menggendong kucing itu keluar ruang BEM. Kami pun kembali menikmati batagor tersebut. Eh tapi si kucing gak mau kalah. Ia masuk lagi ke ruang BEM dan melangkah mendekati batagornya. Dan sekali lagi, Mas Ayi mulai menghalau kucing itu ke luar ruang BEM. Kucing itu masuk lagi. Digendong keluar lagi oleh Mas Ayi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Masuk lagi, dikeluarin lagi. Begitu seterusya sampe aku bosen nulisnya…

Singkat cerita setelah batagornya habis dan setelah melaksanakan Sholat Maghrib, ronde kedua dimulai, yaitu bubur ayam. Kucing tadi masih iseng masuk2 ke ruang BEM. Pun ketika aku dan Mas Ayi makan bubur ayam di ruang BEM, kucing itu mencoba untuk mengendus2nya. Lalu aku keluarkan sebutir kerupuk dan aku sodorkan ke moncong kucing itu. Kucing itu mendekatinya dan perlahan mulai memakannya. “Kraus kraus…” kurang lebih bunyinya kaya gitu.

Kerupuk itu dimakannya. Setelah abis, Mas Ayi mencoba membagi kerupuknya dengan si kucing. Tapi Alhamdulillah, si kucing tidak mau memakan kerupuknya Mas Ayi, malah membiarkannya tergeletak begitu saja. Wah kucing ini hebat juga ya, bisa ngebedain mana orang baik dan mana orang jahat. Huahahahahaha…

Jadilah aku dan Mas Ayi berbagi kerupuk buat si kucing, sementara bubur ayam nya masuk ke perut kami masing2. Setelah semua beres, aku meninggalkan ruang BEM untuk pulang ke kosan, meninggalkan Mas Ayi, seekor anak manusia yang aku lupa namanya dan kucing itu di ruang BEM.

Kamis, 18 Ramadhan 1429 H / 18 September 2008 M

Sekitar jam 11 siang, aku mau ke ruang BEM untuk sekedar nongkrong sembari berleha2. Baru nyampe di depannya, aku ketemu seekor anak manusia yang sebelomnya udah kita ketahui bernama Andhika. Andhika dengan tampangnya yang memelas dan penuh rasa iba serta bela sungkawa dan duka cita, berujar kepada ku,

“Mas, kucing yang kemaren udah pergi…”

Aku yang baru dateng dan gak ngerti apa2, mencoba untuk mempercepat sambungan koneksi ku dengan ucapan Andhika.

“Hah? Kucing yang mana, yang kemaren sore?”

“Iya Mas…”

“Emang kucingnya pergi ke mana?”

“Kucingnya pergi bukan untuk sementara, tapi untuk selamanya…”

Aku sedikit mikir. Pergi untuk selamanya? Pergi selamanya berarti ke mana ya? Ke Las Vegas? Gak mungkin. Ke planet Mars? Juga gak mungkin. Ke medan perang Afghanistan? Lebih gak mungkin. Masuk lagi ke dalem rahim ibunya? Tambah gak mungkin. Berarti kemungkinan terburuk adalah…

“Hah? Mati?”

“Iya Mas…”

Inna lillahi wa inna illaihi rajiuun… Telah berpulang ke rahmatullah, seekor kucing bin bapaknya kucing pada malam hari Rabu 17 September 2008.

Kata Andhika, menurut penuturan saksi mata bernama Fauzi dan Doni, mayat kucing itu ditemukan tergeletak tak berdaya dan bersimbah darah di lantai depan ruang BEM. Dari kondisinya, tim forensik berasumsi bahwa kucing itu meninggal akibat tertabrak, eh terlindas motor. Iya, di belakang ruang BEM emang ada parkiran motor. Dan mungkin salah satu dari motor yang melintas malam itu telah tanpa sengaja MEMBUNUH si kucing imut dan lucu tersebut. Dan Doni berinisiatif menguburkan kucing itu di tanah kosong di bawah pohon di belakang ruang BEM.

Ya apa mau dikata, kucing itu telah kembali ke pangkuan-Nya. Gak ada lagi kucing kecil imut yang akan mengendus2 makanan ku. Gak ada lagi kucing kecil imut yang bisa dielus2. Dan aku sangat menyesal karena di beberapa jam sebelum kematiannya, aku tidak berbagi bubur ayam ataupun batagor ku dengannya, hanya beberapa butir kerupuk saja, yang notabene kerupuk itu gak akan mengenyangkan perut melainkan hanya memperbanyak kentut… Duuuut… Ih bau…

KCB #2

(Bukan “Ketika Cinta Bertasbih” tapi “Kucing Cuilik Bulukan”)

Ini masih lanjutan dari cerita diatas. Masih di hari dan tanggal yang sama, sekitar jam 1-an aku meninggalkan ruang BEM dan kembali ke kosan dengan aura dan perasaan hati yang galau akibat ditinggal mati si kucing. Huiks huiks…

Sesampainya di kosan, setelah memarkir MyLovelySolBro, aku beranjak ke kamar. Persis di depan kamarku, tepatnya di kesetnya, ada seekor kucing kecil bulukan sedang tidur. Wah ada apa ini? Dari mana kucing ini berasal? Apakah kucing ini adalah reinkarnasi dari kucing yang baru aja mati tadi?

Tanpa berniat mengganggu kucing yang sedang bermimpi indah itu, aku membuka pintu secara perlahan. Lalu aku masuk ke dalem. Ternyata kucing itu terbangun. Kucing itu tampak kebingungan. Kepalanya menoleh kesana-kemari, seakan mencari2 sesuatu. Eh tiba2 kucing itu ikutan masuk ke dalem. Dia juga celingukan di dalem kamarku. Aku biarin aja tuh kucing menjelajahi kamar kos ku yang berukuran 5×3 meter ini.

Lama kuperhatikan, ternyata si kucing masih aja mondar-mandir gak jelas. Aku bingung apa yang dia cari. Terus aku inget kalo di depan kosan ku ada bekas makanan sisa sahur tadi pagi. Aku kan sahurnya pake catering, kaya di rantang2an gitu. Dan siang ini rantangnya belom diambil sama si pemilik cateringnya, masih tergeletak di depan kosan. Aku gendong kucing itu ke depan kosan dan aku sodorkan kucing itu ke rantang tadi. Kucing itu terlihat mengendus2 dan kemudian ia mencomot cabe ijo yang tersisa. Aduh, kok ngambilnya cabe sih…

Lalu aku masuk lagi ke dalem dan selanjutnya aku tidur2an di kamar sambil membaca koran. Eh si kucing juga ikutan masuk ke dalem, ditinggalkannya makanan yang masih tergeletak di depan. Kucing itu masih tetep mondar-mandir gak jelas mengitari kamar kos ku. Karena gemes, akhirnya aku gak tega ngebiarin kucing itu sendirian. Aku gendong kucing itu dan aku taro di dada ku, samentara posisi ku sendiri masih tiduran sambil baca koran “Republika”.

Si kucing sekarang lagi celingukan di dada ku. Mungkin dalam hati ia mikir, ini badan orang apa mayat busuk, kok bau banget. Aku elus2 kucing itu. Puss puss meooong…

Dalam posisi sedeket ini, aku perhatiin kalo teryata mata kiri kucing itu gak pernah kedip. Gak tau kenapa, tapi cuma mata kanannya aja yang suka kedip, mata kirinya gak pernah. Muka nya juga penuh dengan dempul dan tambalan, kaya abis dari bengkel. Eh maksudnya banyak koreng dan bekas luka gitu. Intinya gak mulus lah, gak kaya model2 iklan Ponds atau Biore yang kulitnya pada PuBer putih bersih itu.

Kucing itu bergerak perlahan. Dia berjalan perlahan mendekat ke arah kepala ku. Sampai pada akhirnya kepala si kucing itu menyentuh dagu ku yang penuh dengan jenggot. Ya udah iseng2 aku gerak2in aja kepala ku, aku elus2 si kucing dengan jenggot ku. Eh si kucingnya malah kesenengan.Dia langsung rebahan dan mulai tidur di deket jenggot ku. Waduh ini kucing menjajah tempatnya malaikat yang senantiasa gelantungan di jenggot ku nih.

Selesai baca koran, aku beranjak ke toilet buat cuci muka melepas panas di siang bulan Ramadhan ini, setelah sebelomnya aku angkat dan aku gendong kucing itu yang tadi tidur di dada ku. Setelah aku masuk ke dalem toilet dengan pintu yang kubiarkan terbuka, lagi2 kucing itu ikutan mengintili aku ke dalem toilet. Kucing itu, sekali lagi, mondar-mandir gak jelas di dalem toilet. Mau nyari apa Pus, mau nyari tinja?

Dari gosip2 yang aku denger dari ibu2 tukang gosip, katanya kucing tuh gak suka air. Iseng2 aku cipratin air dikit2 ke badan kucing itu. Kucing itu fine2 aja kok, cuma ngegeleng2 dikit sekedar membersihkan air dari badannya. Ah terbukti gosip tetaplah gosip selama ia masih menjadi gosip dan akan tetap menjadi gosip…

Supaya gak ngenganggu, aku gendong kucing itu keluar. Persis di depan pintu toilet, kucing itu mulai merunduk mengendus2 seperti biasa. Dan tiba2 kucing itu mulai meminum air yang masih tergenang di kamar mandi ku. Gluk gluk gluk gluk… Anggap aja bunyinya kaya gitu.

Aku turut prihatin dan berduka cita atas keadaan si kucing ini. Niat ku sih mau ngasi kucing ini air beneran, bahkan susu kalo perlu. Tapi sedihnya, pada saat itu air galon ku udah abis. Ya udah deh, aku biarin kucing itu minum air genangan dengan sendirinya. Untuk memudahkan, aku ambil air dari ember pake gayung terus aku sodorin ke kucing itu. Akhirnya kucing itu pun minum air dari gayung tersebut. Betapa sedihnya nasibmu wahai kucing kecil…

Selepas dari toilet aku balik lagi tidur2an di kamar untuk sekedar melepas lelah. Kucing itu masih tetep ngikutin aku. Dia tinggalin segayung air yang tadi aku kasih. Ya udah deh sambil tiduran, aku gendong kucing itu dan aku taro lagi di dada ku. Aku pun mencoba memejamkan mata seupaya tidur, dengan seekor kucing kecil yang juga lagi tiduran di dada ku. Wah pokoknya kita udah kaya anak kembar deh.

Lagi enak2 tiduran, tiba2 di depan kamar kos ku terdengar suara beberapa orang anak kecil. Mereka ngomong2 apa gitu, gak jelas. Terus salah seorang dari mereka berteriak2 memanggil,

“Mas… Mas…”

Kata2 “Mas” diatas tuh diucapkan dengan teriak lho, bukan dengan bisikan lembut kaya ayam2 yang suka nongkrong malem2 di pinggir jalan. Hwayo ayam apa tuh?

Aku yang kepedean dan merasa bahwa panggilan “Mas” itu ditujukan buat ku, segera bangkit dari tidur ku. Lalu aku keluar kamar menemui mereka, yang ternyata ada 3 ekor anak kecil.

“Mas liat kucing kecil gak?” ujar salah seorang dari mereka dengan logat khas Jogjakarta.

“Oh kucing kecil? Sebentar ya…,” jawabku. Lalu aku melangkah ke dalam kamar dan menggendong kucing yang tadi tiduran di dada ku. Mungkin kucing ini yang mereka maksud. Aku gendong kucing itu dan aku bawa tunjukin ke mereka.

“Kucing ini Dek?”

“Iya Mas…”

Aku menyodorkan kucing itu ke mereka. Salah seorang dari mereka mengambilnya dan langsung mengelus2nya. Untuk menyejajarkan badanku yang 2 kali lebih tinggi dari mereka, aku duduk lesehan di depan kamar kos ku.

“Ini kucing kamu Dek?” tanyaku yang merasa paling tua sendiri di antara mereka. Ya iyalah…

“Bukan Mas, tadi nemu.”

“Oh ya udah kamu ambil aja.”

“Gak usah Mas, dititipin di sini aja.”

Hah nitip? Lalu kami berempat mulai duduk bersama dengan posisi mereka bertiga di hadapan ku. Ih jadi kaya orang mentoring aja.

Aku mulai bertanya2 tentang asal-usul kucing ini kepada mereka. Aku juga bercerita gimana awalnya kucing ini bisa ada di kamarku. Mereka yang belakangan diketahui masing2 kelas 2 SD, 3 SD dan 4 SD pun menjawabnya dengan penuh antusias. Ternyata mereka nemu kucing itu di jalan, deket rumah mereka. Niatnya mau mereka pelihara, tapi mereka udah gak boleh melihara kucing lagi sama keluarganya. Sampe pada akhirnya kucing yang mereka kasi nama “Pussy” ini terdampar di depan kamarku, yang membuat mereka mengejarnya sampe kesini.

Tapi obrolan kami gak cuma itu doank. Mereka juga cerita banyak tentang kucing2 lainnya yang pernah singgah di hati mereka. Ada kucing lucu yang warnanya kuning, ada kucing yang diusir dari rumah salah seorang dari mereka, dan ada kucing yang mereka beri nama “Ben”. Hah, Ben? Kucing kok namanya Ben? Yah gak apa2 namanya juga anak kecil… Sekalian aja ntar kucingnya dikasi nama Charlie, Freddy, Bambang atau Fernando Jose.

Ada kiranya 1 jam aku ngobrol sama anak2 itu, mulai dari masalah kucing sampe hal2 lainnya. Sampe pada akhirnya adzan Ashar berkumandang dan aku terpaksa mengusir mereka untuk pulang ke rumah masing2. Lalu mereka pun pulang, sedangkan si kucing ditinggal dan dititipkan di kosan ku.

Selepas mereka pulang dan aku sholat Ashar, aku berniat untuk melanjutkan tidur siang ku yang tadi sempet terganggu. Aku pun merebahkan diri ku untuk tiduran, menyusul si kucing kecil yang udah tidur duluan di atas karpet kamar ku.

+- 20 menit kemudian aku terbangun. Kucing itu masih tertidur di deket pinggang ku. Tanpa berniat mengganggu tidurnya, aku bangun secara perlahan dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka dan berdandan. Waktu lagi cuci muka dan sikat gigi, tiba2 kucing itu ikutan masuk ke kamar mandi dan melintas di bawah kaki ku. Aduh pussy, kenapa diri mu selalu mengintili kemana pun aku melangkah?

Akhirnya aku gendong kucing itu ke luar kamar mandi dan aku berikan segayung air keran buat dia melepas dahaga. Selesai cuci muka plus dandan, aku bergegas untuk berangkat ke kampus, mau ada meeting sama anak2 BEM. Tapi aku bingung juga, ketika aku pergi nanti ini kucing mau diapain. Diapain ya enaknya? Dibawa ke BEM? Ditinggal di dalem kamar sendirian? Di lempar ke penggorengannya abang2 burjo? Atau mau disembelih di angkringan buat dijadiin nasi kucing? Selama ini kan cuma sebutannya aja yang nasi kucing, padahal lauknya mah cuma tempe sama teri gak ada kucing2nya pisan. Gimana kalo dibikin nasi kucing dalam makna sebenarnya, yaitu nasi dengan kucing goreng sebagai lauknya? Hiiiii…..

Balik lagi ke bahasan awal. Lalu aku putuskan untuk meninggalkan kucing itu di depan kosan ku aja. Aku gendong kucing itu keluar kamar dan aku taro di deket rantang bekas saur tadi pagi. Aku sodorin rantangnya ke kucing itu. Dan kucing itu pun mencomot sisa perkedel yang ada di sana. Nah gitu donk makannya perkedel, jangan cabe…

Selagi kucing itu makan, aku bergegas masuk ke dalem mobil. Ketika pintu mobil aku tutup, kucing itu sedikit tersentak. Lalu dia menghentikan makannya dan ganti menoleh ke arah ku yang udah duduk manis di balik setir. Kucing itu menatap ku kosong, seakan ada sesuatu yang ia pikirkan. Seakan2 kucing itu gak mau berpisah dengan ku, pengen selalu bersama2 dengan ku kapanpun dimanapun di setiap suka maupun duka. Co cwiit…

Aku juga gak tega ngeliatnya. Kucing itu menatap penuh harap ke arahku, Aku balas menatap ke arahnya. Aduh gimana nih… Kapan lagi aku bisa bercengkrama sepuas2nya dengan seekor kucing, mengingat di rumahku di Depok aku gak diperbolehkan melihara kucing. Akhirnya kaki ku bergerak menekan pedal gas dan aku meninggalkan kucing itu sendirian di depan kamar kos ku dengan mata yang masih menatap ke arah mobilku. Goodbye kucing ku sayang. Ku pasrahkan nasib kita kepada Zat Yang Maha Berkehendak. Jika masih ada umur, tentu Dia akan mempertemukan kita kembali suatu hari nanti. Dan mobilku pun melaju meninggalkan kosan ku.

Singkat cerita, malamnya aku baru pulang ke kosan. Aku berharap kucing itu sedang tertidur di keset depan kamar ku sebagaimana keadaan di siang tadi. Tapi harapan ku ternyata hanya tinggal harapan. Tak ada siapapun yang lagi ngorok di atas keset tersebut. Aku menengok ke sekeliling, mencari2 kiranya si kucing masih berada di sekitar sini. Tapi hasilnya nihil, kucing itu gak ada di sekitar sini. Hanya ada hembusan angin malam yang semilir menusuk kalbu, yang menjadi saksi kemana perginya kucing itu…

One Comment Add yours

  1. ya ampyunnn….

    hahaaaaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s