PengalamanPertama

Hari Minggu 7 September 2008 / 7 Ramadhan 1429 H yang lalu BEM KMFT UGM ngadain acara open house buat nyambut para calon anggota baru yang telah mendaftar, mengisi formulir dan wawancara. Untuk periode kali ini, total ada lebih dari 600 formulir yang diambil, lebih dari 500 formulir yang dikembaliin, dan sekitar 400 orang yang ikutan wawancara. Tapi di open house ini kayanya yang hadir cuma sekitar 200-300 orang aja, gak semuanya dateng.

Open house ini merupakan kegiatan rutin yang diadain oleh Departemen Pengembangan Organisasi, sebuah departemen yang ngurusin masalah SDM, kaderisasi dan litbangnya anak2 BEM. Di acara ini, para PH (Pengurus Harian) diwajibkan untuk hadir, karena bakalan ada sesi perkenalan dengan para calon anggota baru. Gw yang baru menjabat 1 bulan sebagai Ketua Departemen Kajian Strategis mau gak mau harus ikut dateng, dan mau gak mau juga nanti gw harus maju ke depan dan memperkenalkan diri di hadapan anggota baru yang jumlahnya ratusan pasang mata itu.

For your info aja, seumur2 gw jarang banget nampil jadi “main figure” di depan umum. Kalo nanya2 di waktu seminar atau diskusi sih lumayan sering, tapi kalo gw harus memperkenalkan diri di depan ratusan orang, wuaduh akika belom pernah tuh bo… Gimandang nich…

Di acara ini para Pengurus Harian ditempatkan berjejer di pojok depan, duduk di kursi yang tersusun rapi. Gw sempet malu juga sih harus duduk di posisi ini, soalnya audiens dan yang lainnya pada duduk lesehan di lantai. Cuma PH dan MC aja yang dapet tempat duduk. Awalnya gw sempet ikut lesehan bareng anggota baru, tapi menjelang acara dimulai gw dipaksa untuk duduk di kursi para pejabat ini.

Acara dibuka oleh seekor gadis bernama Ansita selaku MC sekaligus protokoler dan pembawa acara. Eh emangnya bedanya MC, protokoler, sama pembawa acara tuh apa?

Setelah dibuka lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum BEM KMFT UGM yang bernama Ayi Wirawan. Lalu dilanjutkan dengan sambutan plus perkenalan para PH yang terdiri dari Bendahara Umum, Kesekretariatan, Kerumahtanggaan, Kordinator Lini Internal, Kordinator Lini Eksternal, Departemen Advro (Advokasi dan Propaganda), Departemen OASE (Olahraga dan Apresiasi Seni), Departemen Infotek (Informasi Teknik), Departemen Technopreneurship, Departemen Sosmas (Sosial Kemasyarakatan), Departemen Kastrat (Kajian Strategis) dan terakhir Departemen PO (Pengembang Organisasi).

Kastrat dapet jatah kedua sebelom terakhir. Wuaduh bingung nih gw, mau ngomong apaan di depan nanti. Gw kan gak punya public speaking dan communication skill yang bagus. Retorika juga gak bisa sama sekali. Bahkan penempatan gw sebagai Ketua Departemen Kastrat pun merupakan sebuah kebetulan yang bener2 kebetulan, gara2 Ketua Departemen Kastrat sebelumnya yang bernama Dede Miftahul Anwar harus menempati posisi barunya sebagai Koordinator Lini Eksternal. Karena pada saat itu staff Kastrat yang masih hidup cuma tersisa 9 orang, ya pada akhirnya dari sedikit orang tersebut gw lah yang ditunjuk oleh si Ketua Umum untuk menggantikan posisi Miftah.

Kita kembali lagi ke jalannya acara. Semua udah pada nampil, tinggal Kastrat dan PO aja yang belom. Sekarang lagi giliran Sosmas. Miftah yang duduk di deket gw dan seekor anak Kastrat yang bernama Nadia Aghnia Fadillah yang berdiri di depan gw sambil foto2 jalannya acara, mencoba untuk mengarahkan gw untuk ngomong apa di depan nanti. Gw manut2 aja, secara gw juga bingung ntar mau ngomong apaan.

Isa Falaq selaku Ketua Departemen Sosmas telah menyelesaikan sambutannya. Lalu Ansita selaku protokoler menyebut nama gw,

“Selanjutnya, kita perkenalkan, Ketua Departemen Kajian Strategis, Rxxxxx Axxxx! Beri aplaus yang meriah…!!!”

Seisi ruangan bertepuk tangan, membuat gw semakin bingung apa yang mesti gw omongin di depan sana. Tapi apapun yang terjadi, the show must go on. Gw beranjak dari tempat duduk, lalu gw melangkah ke depan. Gw ambil mikrofon dari tangan Ansita, lalu dengan penuh rasa malu gw melangkah ke depan, berjalan perlahan sampai kira2 ke tengah ruangan.

Gw cek tombol on-off di mikrofon, gw ketuk2 dengan jari untuk mengecek apakah sudah nyala atau belom. Setelah mantap, akhirnya gw dekatkan mikrofon itu ke bibir dan lisan gw pun berujar,

“Yo, terima kasih. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…”

Dijawab dengan serempak oleh para calon anggota baru baru di seluruh penjuru ruangan, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”

Gw mengatur diri, mencoba membuat serileks mungkin. Lalu gw kembali berujar,

“Pertama2, saya atas nama pribadi mengucapkan terima kasih dan selamat atas kehadiran temen2 di sini, yang berarti bahwa temen2 di sini semuanya telah bergabung di dalam keluarga besar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Teknik UGM…”

Gw menghentikan ucapan gw sebentar. Mengambil napas. Audiens masih tetap diam memperhatikan gw di depan, sementara sepintas terdengar kasak-kusuk entah di sebelah mana. Lalu gw kembali melanjutkan,

“Kedua, saya ucapkan terima kasih atas kesediaan temen2 semua yang telah menyisihkan sebagian umur dalam hidup kalian hanya untuk menghadiri acara ini…”

Gw kembali diam sejenak. Menghela napas sembari menjaga diri serileks mungkin.

“Ketiga, saya atas nama BEM meminta maaf kepada temen2 semua disini karena kami dipaksa untuk duduk di kursi itu…” Tangan gw menunjuk ke tempat gw duduk tadi, tempat dimana para Pengurus Harian sedang duduk. “…yang notabene tempatnya sedikit lebih tinggi daripada kalian. Semestinya gak seharusnya kami duduk di situ. Kita semua kan sama, maka seharusnya kami pun ikut duduk di bawah dan lesehan juga bersama teman2.”

Terdengar beberapa orang bertepuk tangan kecil atas ucapan gw barusan. Ah lumayan, ada juga yang merhatiin.

“Yah mungkin satu2nya alasan mengapa kami bisa duduk disana adalah karena kami brojol lebih dulu daripada temen2 semua…”

Gw berhenti sejenak. Kira2 3 poin tadi cukup untuk membuka mimbar bebas ini. Mencoba untuk percaya diri, gw kembali melanjutkan.

Nah sekarang kita bicara tentang Kastrat. Apa sih Kastrat itu? Kastrat adalah Kajian Strategis. Mungkin banyak temen2 yang merasa asing dengan istilah Kastrat itu sendiri. Kajian itu makanan apa? Strategis itu binatang apa? Bahkan ketika wawancara pun banyak orang yang dengan terang2an menolak, gak mau masuk Kastrat. Ketika saya menjelaskan tentang Kastrat dan mencoba menawarkan Kastrat, banyak yang menolak, ‘Hah Kastrat? Gak Mas, gak mau’”.

Sampe sini gw baru nyadar kalo tadi gw belom memperkenalkan diri. Langsung gw ubah haluannya.

“Oh iya tadi saya belom memperkenalkan diri ya? Iya, nama saya Rxxxxx dari departemen Kajian Strategis, Teknik Nuklir angkatan 2006. Disini saya gak akan bertanya mana anak Teknik Nuklir atau mana anak Kastrat, tapi saya ingin bertanya, mana anak Teknik?” ujar gw seraya mengangkat tangan kanan gw ke atas untuk meraih perhatian audiens.

Terlhat hampir sebagian besar audiens ikut serta mengangkat tangannya, membuktikan kalo mereka emang asli anak Teknik. Tapi ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, mungkin karena males, mungkin karena gak respon atau mungkin karena gak nyimak pertanyaan gw. Melihat ada beberapa orang yang gak ngangkat tangan, gw iseng berujar,

“Wah itu tadi kok ada yang gak angkat tangan. Anak Fisipol ya? Apa anak Kedokteran?” yang disambut dengan sedikit tawa kecil dari audiens.

“Ok, kita kembali lagi ke Kastrat. Sebenernya di sini saya gak bermaksud unutk membuka aib KAstrat, tapi ya apa mau dikata, inilah kenyataannya. Pada periode ini, open recruitmen untuk Kastrat ternyata memiliki peminat yang sedikit, bahkan paling sedikit di antara departemen2 yang lain. Kalo gak salah jumlahnya hanya sekitar 17 orang. Bener2 sedikit lah. Bahkan itu pun gak nyampe 5% dari jumlah kalian yang mendaftar di BEM ini, yang jumlahnya ada sekitar 400 orang.”

Terlihat beberapa orang tersenyum mendengar realita ini.

“Yah tapi itu gak masalah. Meskipun secara kuantitas atau secara jumlah kita kalah, tapi kalo ditanya kualitas, yaaa kita…” Gw sedikit menggantung kalimat gw. “… kalah juga!”

Gw ngeliat ada beberapa orang yang ketawa kecil. Gw juga ngeliat ke arah anak2 BEM lama yang lagi pada ngumpul di pinggiran, yang kayanya pada ketawa2 juga. Setelah tawa meeda, kembali gw melanjutkan,

“Iya, Kastrat emang orangnya paling sedikit. Tapi secara pribadi saya gak apa2 kok, yah saya ikhlas. Biarlah itu menjadi derita saya…”

Beberapa orang tertawa lagi, membuat gw harus mengalah sejenak untuk ngedengerin tawa mereka.

“Nggak kok, gak gitu juga sih. Biarpun anak Kastrat cuma sedikit, tapi saya percaya kalo anak Kastrat itu Insya Allah hebat2. Itu terbukti ketika saya ngewawancarain beberapa orang kemaren. Anak2 Kastrat tuh adalah orang2 yang luar biasa, beda dengan departemen yang lain. Mereka adalah calon2 orang hebat. Hal ini bisa saya lihat dari sorot matanya…”

Lagi2 gw ngeliat para audiens ketawa. Padahal gw masih belom menyelesaikan kalimat gw. Karena audiensnya lagi pada ketawa, ya udah gw ikutan cengengesan aja di depan, gak ngelanjutin kalimat gw.

Setelah tawa audiens mereda, baru gw lanjutin lagi,

“Ya pokoknya bisa diliat lah dari sorot matanya…”

“Kita kembali lagi ke Kastrat. Mengenai struktur Kastrat sendiri, di dalamnya itu terdiri dari 2 divisi yaitu divisi Internal dan divisi Eksternal, serta 1 divisi lagi yaitu divisi Pengembangan Organisai khusus internal Kastrat.”

Gw berhenti sejenak. Niatnya gw ingin memperpanjang kalimat gw diatas mengenai struktur organisasi di dalam Kastrat tu sendiri. Tapi karena gw gak bisa nemuin kata2 lagi dalam waktu cepat, ya udah masalah struktur organisasi gw tinggalin dan gw beralih ke topik lain.

“Kastrat itu sendiri, seperti namanya, punya hobi untuk melakukan diskusi dan kajian2. Jadi Kastrat disini akan mencoba untuk meningkatkan minat2 diskusi para mahasiswa. Salah satu realitasnya adalah dengan mengadakan suatu kegiatan yang bernama DiSpoSu.”

Gw berhenti mengambil napas.

“Apa itu DiSpoSu?”

Gw berhenti lagi supaya orang2 penasaran.

“DiSpoSu itu adalah singkatan dari…”

Gw mengucapkannya dengan perlahan, kata demi kata.

“…Diskusi-Spotan-dan-Suka2.”

Lagi2 audiens tertawa. Gak tau juga sih apa yang diketawain, singkatan dari kata DiSpoSu itu tadi atau mungkin gara2 orang yang berbicara di depan mereka saat ini lebih tepat jika disebut dengan lumba2 daripada seorang Ketua Departemen.

“Ya itu tadi, DiSpoSu. Jadi kalo ntar temen2 ketemu dengan anak Kastrat, silahkan langsung tarik mereka dan ajak diskusi bareng. Terserah mau diskusi apa. Kita terima diskusi apa aja kok. Mulai dari Sheila Marcia yang kena kasus narkoba, atau Robinho yag pindah ke Manchester City, ya kita bersedia.”

Gw memutar otak mencari kata2 apa yang harus gw keluarkan selanjutnya untuk menyambung tema DiSpoSu ini. Tapi lagi2 dengan keterbatasan otak gw yang kemampuannya masih kalah dengan processor yang udah rusak sekalipun, akhirnya gw kembali mengubah topik pembicaraan. Namun sayangnya karena udah kehabisan kata2, ya gw pun berniat mengakhiri.

“Mungkin segitu dulu aja ya, karena tadi saya udah di briefing oleh panitia supaya ngomongnya jangan lama2…”

Beberapa orang terlihat tersenyum kecil.

“Yah saya pribadi menyadari kalo pasti banyak di antara temen2 yang ingin tanya jawab dengan saya, tapi ya gimana, panitia gak mengizinkan…”

Belom sempet gw nyelesaiin kalimat gw, lagi2 audiens tertawa. Begitupun dengan anak2 BEM lama yang juga pada ketawa, bahkan ada yang sampe terjungkal. Karena ruangan jadi rame, terpaksa gw ngalah dan berdiam sebentar, sampe tawa audiens mereda kembali.

“Jadi gitu, kalo mungkin temen2 pengen tau lebih lanjut tentang saya, mungkin bisa nanti aja di luar forum ini ya…”

Lagi2 beberapa orang tersenyum.

“Mungkin segini aja dulu. Tapi yang perlu diingat, gak peduli dari departemen manapun kalian berasal, sesungguhnya kita ini adalah anak BEM. Juga gak dari jurusan mana kalian berasal, sesungguhya kita ini adalah mahasiswa teknik. Dan gak peduli dari manapun kalian berasal, sesunggunya kita ini adalah Bangsa Indonesia,” ujar gw sembari mengepalkan tangan kanan gw ke atas saat mengucapkan “Bangsa Indonesia”.

Terlihat beberapa anak juga ikut mengangkat tangannya. Terlihat juga yang lain bertepuk tangan kecil.

“Ya terima kasih, mungkin segitu aja dulu. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

Dijawab oleh audiens, “Waalaikumussalam warahmatulahi wabarakatuh…”

Gw pun melangkah beranjak dari tegah ruangam menuju tempat para Pengurus Harian berkumpul. Gw berikan mikrofon kembali kepada Ansita. Ansita pun meraihnya dan dia berujar kepada audiens,

“Beri aplaus yang meriah sekali lagi untuk Ketua Departemen Kajian Strategis!” yang disambut dengan tepok tangan dan aplaus meriah dari para audiens.

Lalu gw pun duduk di posisi gw semula. Tapi gw teringat dengan ucapan gw tadi yang mengatakan bahwa gak seharusnya gw duduk di tepmat yang notabene posisinya lebih tinggi daripada anak2 baru yang duduk lesehan. Gw pun bangkit dari tempat duduk gw dan ikut lesehan bareng anak2 baru.

Kemudian seekor anak autis bernama Nadia datang menghampiri gw dan berujuar, “Yah Mas, kok malu2in sih…”

4 Comments Add yours

  1. Hahahaaaaaaaaa….

    mau liyat……mau liyat……mana????mana?????unbelieveable…heheheeeeeee….

  2. aNzieTha_bLueS says:

    Weeii…Ansita tuh ‘seorang’ mas! bukan ‘seekor’ :p

  3. ckinknoazoro says:

    asw

    Eh ada Ansita… Jadi malu… Hohohoho… Ya gak masaah, seekor manusia atau seorang manusia, yang penting sama2 manusia. Eh emang kamu manusia ya? Bukannya bidadari? Hueeeeek…

    wasw

  4. Remarkable content and I really enjoyed reading this.
    The other remarks are helpful.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s