BirokrasiToilet

Beberapa waktu yang lalu yang gw lupa kapan tanggal pastinya, gw berdua bersama seekor anak manusia yang bernama Hasan Al Mufarrid Drihim sedang berada di gedung pusat Universitas Gadjah Mada. Tujuan kedatangan kami disini adalah untuk minjem duit ke LPPM (gw lupa kepanjangannya apa, kalo gak salah Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat) sebagai modal buat memulai usahanya Hasan. Hah emang si Hasan mau usaha apaan? Panti pijet plus2? Juragan becak? Apa usaha penyewaan tuyul? Weits gak gitu juga sih. Kita cari tau jawabannya di paragraf setelah ini.

Hasan yang akrab dipanggil dengan panggilan “Wati”, eh maksudnya “Ochan” punya sebuah company atau perusahaan yang bernama MnG Group. MnG disini merupakan kependekan dari kata Man-Gatsu, yang diambil dari bahasa Jepang yang artinya Bulan Purnama. Tapi kalo dipelesetin ke dalam bahasa Indonesia, MnG disini berarti kependekan dari MbangunNegoro, yang merupakan pelesetan dari slogan perusahaan ini yang berbunyi “Bangun Indonesia!”. Sampe hari ini masih belom jelas MnG ini perusahaan yang bergerak di bidang apa, apa di bidang perdagangan, event organizer, konveksi atau penyalur TKI.

Untuk MnG dibahas kapan2 lagi ya, karena itu bukan point dari cerita kali ini. Nah sekarang kita balik lagi ke 2 ekor makhluk IMUT yang sedang berada di gedung pusat UGM. Eh maap salah, bukan 2 makhluk imut, tapi seekor makhluk IMUT (yang bernama C-Kink) dan seekor warga Situbondo. Di gedung pusat ini gw ketemu sama pegawai LPPM yang bernama Mbak Linda.

Sebenernya nama asli beliau tuh bukan Linda lho, tapi Rika. Terus kenapa dipanggil Linda? Soalnya, dimana2 kalo kita minjem duit pasti balikinnya gak pernah sama persis dengan jumlah nominal yang kita pinjem, melainkan lebih banyak atau sedikit lebih banyak (intinya lebih banyak lah). Kata si Mbak Linda, eh Mbak Rika, duit lebihnya itu dipake buat biaya administrasi dan segala macem. Kita minjem duitnya sekitar 3 jutaan. Balikinnya bisa secara berkala tiap bulan. Tapi, tiap ngebalikinnya ini mesti nambah bayar rp 17.000,00, katanya sih buat biaya2 administrasi. Adanya biaya sebesar 17.000 perak itu menurut si Hasan berbau riba, atau bisa juga disebut dengan istilah “lintah darat” bagi para pelakunya. Maka dari itulah kita manggil Mbak Rika dengan sebutan “Linda”, yang merupakan kependekan dari “LINtah DArat”. Maap ya Mbak Linda, eh Mbak Rika… Huehehehehe…

Tapi gak peduli apakah dia Rika atau Linda, yang jelas perempuan muda berjilbab akhwat lulusan Psikologi UGM ini punya tampang yang cute dan good looking serta manis dan imut2 kaya gw lho! Udah punya suami belom ya? Yohohohohohoho… Kutunggu jandamu.

Udah ah, kita balik lagi ke topik awal. Sampe dimana kita tadi? Iya, sampe di LPPM.

Cerita tentang pertemuan kesekian kalinya dengan Mbak Linda ini kita singkat aja. Yang jelas, kita anggap aja kalo gw dan Hasan udah selesai berbisnis dengan Mbak Linda. Kemudian kita melangkah keluar dari tempat kerjanya Mbak Linda di lantai paling atas gedung pusat UGM sayap Selatan. Gw dan Hasan pun berjalan menyusuri pilar demi pilar.

Tiba2 di tengah jalan, gw merasakan adanya keinginan untuk mengekpresikan bakat seni gw dalam bentuk mengeluarkan air seni urine, yang dalam bahasa Spanyol disebutnya “pipis” atau “kencing” dalam bahasa Jermannya. Lalu bergegaslah gw untuk melangkah ke toilet terdekat, yang ada di pojokan lantai 3. Tapi ternyata toilet cowoknya terkunci. Hah kok dikunci? Tumben2an nih ada toilet dikunci. Emang ada apaan di dalemnya, ada Mr. Gepeng kah? Idih hari gini masih jaman aja Mr. Gepeng, sekarang mah jamannya Julia Perez tau…

Lalu gw melangkah ke toilet cewek yang ada di belakangnya. Ternyata toilet cewek ini gak dikunci. Loh kok gak dikunci, padahal yang cowok kan dikunci? Wuaduh gak adil nih, ini namanya DISTILASI! Eh kok distilasi sih, distilasi kan proses penyulingan? Maksudnya DISORIENTASI gitu loh! Eh bukan juga, disorientasi kan kesalahan tidak pada tempatnya. Jadi apa dunk? DISKRIMINASI wuoy, masa mau ngetik gitu aja kok salah melulu… Ngisin2i wae cah…

Apakah dengan terbukanya toilet perempuan mengakibatkan gw akan numpang buang air di tempat tersebut? Jawabannya jelas “YA NGGAKLAH!”. Harga diri gw sebagai laki2 mau dibawa kemana? Kurang ajar deh yey, emang akika cowo apaan bow…

Sedikit intermezzo sekaligus sebuah pertanyaan. Kalo di toilet cowok kan ada urinary nya, yaitu toilet yang buat laki2 kencing berdiri itu lho. Nah pertanyaannya, kalo di toilet cewek ada kaya gitunya juga gak?

Mari kita kembali fokus ke jalannya cerita yang dari tadi kepotong melulu. Jadilah pada akhirnya gw meninggalkan lantai itu dan berpindah ke lantai dibawahnya. Segera gw cari toilet terdekat di lantai tersebut. Nah itu dia, akhirnya ketemu juga toilet cowok. Langkah kaki gw mendekat mendekat mendekat dan semakin mendekat. Dan setelah benar2 deket sampe gw bisa meraih gagang pintunya, ternyata lagi2 toilet itu DIKUNCI! Aduh ini apa2an sih, masa toilet umum dikunci? Emang disitu ada harta karunnya ya? Kalo harta karun berupa emas perak atau uang sih gak mungkin ada, tapi kalo harta karun berupa benda lembek2 kenyel berwana kuning peninggalan manusia pasti ada…

Mengetahui bahwa toilet cowok dikunci, gw coba untuk mengecek ke toilet wanitanya. Dan lagi2, ternyata toilet wanitanya GAK DIKUNCI! Aduh aduh aduh, sekali lagi, ini mah disipasi, eh dislokasi, eh DISKRIMINASI. Nah itu baru bener.

Tanpa ba bi bu lagi, gw melangkah ke lantai dasar. Harapan gw, lantai ini kan paling rame jadi pasti toiletnya kebuka donk. Segera gw beranjak ke toilet cowok yang posisinya masih tetep gak berubah di pojokan. Sesampainya disana, ternyata lagi2 toilet itu DIKUNCI. Dan seperti biasa, gw coba ngecek toilet ceweknya, dan sedihnya, toilet cewek itu gak dikunci sebagaimana layaknya toilet cowok. Huh duasar…

Tapi gw masih gak putus asa, karena gw percaya masih ada setitik harapan di ujung sana. Di ujung mana? Di ujung situ lho, di kantor pusat UGM sayap Utara. Disana masih ada toilet yang belom dikunjungi, toilet yang biasanya selalu rame soalnya di kantor pusat UGM sayap Utara ini ada semacam hall / aula terbuka yang selalu rame oleh mahasiswa2 yang lagi duduk2, entah itu duduk2 untuk rapat, duduk2 sembari ngobrol ngalor-ngidul, duduk2 nungguin temen, atau duduk2 sambil lari2an dan main petak umpet (?????).

Kaki gw melangkah ke toilet cowok yang ada disana. Langkah kaki ini semakin mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat, mendekat dan mendekat… Banyak banget mendekatnya?

Akhir kata, setelah 1 paragraf mubazir diatas, sampailah gw di toilet cowok itu. Dan ternyata, lagi2 toilet itu DIKUNCI! Aduh capek deh, kenapa semua toilet cowok di gedung ini dalam keadaan terkunci? Kemudian gw cek toilet ceweknya dan toilet ini TERBUKA seperti toilet cewek yang udah2. What’s wrong with the world, Mama?

Toilet cowok yang gw kunjungi berada dalam keadaan terkunci semua. Tapi gw juga gak yakin kalo gw masih bisa menahan gejolak ini sampe di kosan ataupun di BEM nanti. Ya udah deh, demi memenuhi tuntutan agenda bangsa yang semakin mendesak ini, gw sama Hasan memberanikan diri untuk bertanya ke salah seorang pegawai yang bekerja di gedung pusat itu. Tapi ternyata gak terlihat seekor batang hidung pun yang melintas di sana. Akhirnya gw dan Hasan memutuskan untuk masuk ke salah satu ruangan terdekat yang ada di situ.

Jreeeeng… Pintu dibuka. Di ruangan yang luas itu ada banyak pegawai yang sedang berkutat di balik meja kerjanya. Tapi gak jauh dari pintu ada seorang bapak dan 2 ekor anak perempuan berbaju sekolah, kayanya sih anak STM lagi magang. Eh kok STM sih, maksudnya SMK. Kami bertanya kepada si bapak yang posisinya paling deket dengan kami saat itu.

“Pak, kalo mau ke toilet laki2 gimana ya Pak? Kok dikunci semua?”

Si bapak itu kayanya udah familiar dengan pertanyaan beginian. Dia menjawab, “Oh itu Mas, ambil kuncinya di sebelah sana!” sembari tangannya menunjuk ke arah yang dimaksud. Lalu gw dan Hasan beranjak ke arah yang dia maksud. Kami celingak-celinguk, tengak-tengok kesana kemari mencari dimanakah gerangan kiranya si kunci berada, dengan tampang yang senyum2 cengengesan.

Melihat ada 2 ekor anak manusia sedang kebingungan, salah seorang ibu2 yang lokasinya paling deket sama gw berujar, “Mau nyari kunci toilet ya Mas? Itu digantung disitu!”. Tangan si ibu itu menunjuk ke arah gantungan yang dimaksud, yang terletak di dinding yang ada lemarinya. Oh itu dia, akhirnya ketemu juga. Kunci itu digantung pada paku yang menempel di dinding, persis di atas lemari yang ada vas bunganya. Dengan tampang yang masih cengengesan, kami melangkah mendekat ke lemari yang di atasnya ada kunci itu.

Tangan Hasan bergerak hendak mengambil kunci. Jari jemarinya mulai meraih kunci itu. Tapi tiba2, kunci itu terlepas dari tangannya dan “Pluuuung…”, jatuhlah si kunci. Jatuhnya bukan ke atas lemari, tapi NYELIP DI BELAKANG LEMARI.

Wuaduh…!!! Gawat nih, kuncinya jatoh di belakang lemari!!! Kami berdua kaget dan terkejut, tapi masih dengan tampang cengengesan. Rasa panik sih ada, namun coba kami tutupi dengan muka cengengesan plus blo’on tersebut. Kejadian barusan dilihat oleh si ibu2 tadi dan dia juga cuma senyum2 aja melihat tingkah laku 2 ekor mahasiswa UGM yang makin hari makin aneh aja.

Lalu gw dan Hasan sepakat untuk menggeser lemari itu. Agak ngeri juga sih, soalnya di atas lemari itu ada vas bunganya. Dan di dalam lemari itu juga ada beberapa barang pecah belah, keliatan dari pintu lemari yang terbuat dari kaca. Aduh, mesti hati2 nih ngegesernya. Salah2 dikit bisa pecah tuh barang. Akhirnya dengan hati2 kami menggeser lemari tersebut sedikit demi sedikit, lama2 menjadi bukit. Ennggghhh… Berat juga…

Lemari bergeser sedikit. Kemudian Hasan menjulurkan tangannya yang hitam dan gak mulus serta berbulu lebat itu buat mengambil si kunci yang terselip di belakang lemari. Alhamdulillah akhirnya kunci itu keambil juga. Tapi perjuangan masih belom selesai. Kita masih harus menggeser lemari itu kembali ke tempatnya. Satu dua tiga, Ennggghhhh… Dan lemari itu kembali kepada keadaan asalnya.

Si ibu2 tadi masih aja senyum2 ngeliatin kita. Bahkan bukan hanya si ibu, tapi kejadian tadi juga telah mampu menarik minat para pegawai2 lain yang berada di ruangan itu. Si bapak dan 2 ekor anak perempuan SMK tadi juga ternyata udah berada di deket gw, di meja si ibu2 yang ngasi petunjuk tadi. Mereka senyum2 semua, seakan2 baru ngeliat adegan Tukul lagi ngelawak sama Komeng.

Wajah kami menghijau karena malu (menghijau? Memerah kali…). Tapi sebagai calon leader dan entrepreneur, kami bersikap profesional seolah2 gak terjadi apa2. Ketika kami membalikkan badan pun, kami masih tetep cengengesan kaya biasa. Cengengesan penghilang malu. Cengengesan untuk meningkatkan kepercayaan diri.

Karena kunci sudah ditangan dan lemari telah kembali seperti semula serta ada belasan pasang mata yang melihat kejadian barusan, gw sama Hasan pamit kepada si ibu dan rekan2nya.

“Makasih ya Bu! Mari Pak!” ujar gw dan Hasan masih dengan muka cengengesan. Dan kita pun melangkah pergi meninggalkan ruangan itu. Pintu keluar kita beda sama pintu kita yang masuk tadi, letaknya berseberangan. Kalo tadi masuknya dari Utara, sekarang keluarnya dari Selatan. Kenapa? Soalnya toilet cowok yang ingin gw tuju letaknya lebih deket dengan pintu Selatan ini.

Di depan pintu, gw masukkan kunci itu pada tempatnya dan “Ckrieeek…”, kebuka juga (emang bunyinya ckrieeek?). Akhirnya, setelah berpeluh darah keringat dan air mata, gw bisa menunaikan hajat gw juga. Byuuuur… Ah lega…

Kini hajat sudah ditunaikan, waktunya untuk mengembalikan si kunci pada tempatnya semula. Kami melangkah menuju ruangan tadi. Sesampainya di depan ruangan, gw bingung campur kaget sembari bertanya, “Loh ini pintunya yang mana?”. Kenapa pertanyaan gitu keluar dari mulut gw, soalnya di gedung pusat UGM ini model pintu dan jendelanya SAMA SEMUA. Jendelanya bukan jendela yang tingginya setengah dinding keatas doang, tapi jendelanya sama tinggi dengan si pintu, dan modelnya pun sama.

Bingung juga nih. Apalagi gw kan dari luar, bingung ngebedain mana pintu mana jendela. Si Hasan juga sama aja. Gw lupa tadi waktu keluar, pintunya yang sebelah mana, setelah jendela keberapa. Udah gitu juga gak ada gagang pintunya.

Gw sempet mondar-mandir di situ selama beberapa saat. Gw mendekati ke satu titik yang gw rasa itu pintunya. Tapi gw ragu, terus gw mundur lagi dan mencari2 dimanakah gerangan si pintu bersembunyi. Tapi masih ragu, terus gw maju lagi. Ragu, mundur lagi. Ragu, maju lagi. Begitu seterusnya, soalnya gw bener2 bingung ngebedain mana pintu mana jendela.

Sampai akhirnya tiba2 dari jendela sebelah kanan gw muncullah seekor ibu2 sambil berujar, “Mau ke mana Mas? Disini lho…”. Itu si ibu2 yang tadi nunjukkin letak kuncinya. Dia memanggil gw, seakan2 mengerti kalo gw lagi bingung nyari yang mana pintunya. Dan si ibu itu pun menjawabnya dengan memunculkan dirinya dari pintu yang gw sangka jendela itu.

Ya udah, gw masuk aja ke dalem. Gw gantungin si kunci itu ke tempat awalnya. Gw sempet ngeliat ke sekeliling ruangan dan ternyata, lagi2 semua mata disitu pada ngeliatin gw sambil senyum2. Ada apa gerangan? Gw ngeliat ke arah luar dan, OH MY GOD! Ternyata kaca di jendela2 tadi tuh tembus pandang dan viewable dari dalem! Maksudnya gimana, yaitu orang yang di luar gak bisa ngeliat ke dalem tapi orang dari dalem bisa ngeliat ke luar. Lah terus apa yang salah?

Tadi kan gw udah bilang, sebelom si ibu itu muncul dari kandangnya, gw sempet mondar-mandir di luar mencari dimanakah letak pintunya. Dan ternyata, adegan mondar-mandirnya gw itu bisa dilihat dengan jelas sejelas2nya dari dalem ruangan. Panteslah kenapa kok si ibu tadi bisa tiba2 memunculkan dirinya dari balik pintu sembari manggil2 gw, dan orang2 seruangan pada senyum2 ngeliatin gw. Huh dasar dunia…

Ya udah, lagi2 dengan gaya profesionalisme yang diajarin oleh para trainer2, gw cengengesan aja di ruangan itu. Lalu gw pun pamit kepada semua yang ada di ruangan. “Mari Pak! Mari Bu!”. Dan gw bergegas keluar ruangan itu dan melangkah pulang bareng Hasan. Lumayanlah hari ini udah beramal. Beramal apa? Yaitu dengan cara memberikan sebuah hiburan pada para pegawai yang berada di ruangan tersebut. Hohohohohoho….

Wahai para bapak2 dan ibu2 serta 2 ekor anak SMK yang ada di ruangan tersebut, nantikanlah kedatangan kami kembali ke ruangan itu. Namun bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai PEMIMPIN BANGSA. Insya Allah…

6 Comments Add yours

  1. Renaldy says:

    Blognya bagus N konyol^_^
    Salam kenal……..^_^

  2. truz alesan knapa pintu toilet cowonya dikunci smua apa????hehe..

  3. nad says:

    di toilet cewe ga ada yg namanya urinoir mas,
    jadi kalo aku dengan terpaksa sekali masuk ke toilet cowo, aku puas-puasing ngeliat urinoir, karena ga pernah liat barang begituan,
    haha

  4. ckinknoazoro says:

    asw

    iya salam kenal juga buat renaldy. tararengkyu yua… tar aku juga mampir deh

    kenapa pintu toilet cowok dikunci semua? layar monitor di hadapanku pun tak akan mampu menjawabnya

    oiya namanya urinoir. ih nadia ketauan ya, suka main2 ke toilet cowok… hiiii…. ngapain tuh?
    oiya kamu juga sekalian numpang buang air di urinoir itu ya? gak kececeran? huohohohoho…

    wasw

  5. wildankurnia says:

    wakakaka..
    masih menajdi misteri kenapa mingsih dikunci ntu pintanya..
    😀

    eniwei bagus kok tulisannya..
    gudlak njih mas..
    🙂

    *monggo silahkeun mampir ke blog sayah kalo berkenan.. 🙂

  6. Ria says:

    halu mas.. mas ckink ya namane?
    saia yg diwawancara sore ini..hihi..
    lam kenal..
    blog e seru! konyol juga..panjang kayak novel… 😀
    saia jg dah posting..
    monggo deh klo mo visit
    ga sah di link –> ra pede
    blog ku agak ga penting soalnye… whehehhe…
    TD mas!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s