SendalDanPemiliknya

Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 22 April 2008 di malam hari yang terang benderang, aku ber-5 sama Ochan (ini laki-laki lho, nama aslinya Hasan), Andhika, Aniv & Cahyo seperti biasa mau berangkat buat les bahasa Jepang di Pusat Studi Jepang UGM. Sebelomnya, kita mau dinner dulu di Jogja Chicken. Aku pun melajukan MyLovelySolBro ke Jogja Chicken di Jalan Kaliurang.

Sesampainya di sana dan memarkirkan mobil pada tempatnya, aku turun dari mobil dan jalan ke Jogja Chicken sambil ngobral-ngobrol ngalor-ngidul. Tiba-tiba kaki kiri ku terantuk sesuatu dan sendal ku terlepas dari kaki kiri ku yang mulus dan seksi ini. Setelah meloncat sesaat, aku menolehkan kepalaku ke bawah, mencari2 apa gerangan yang nyangkut di kaki ku. Aku ngeliat ada ranting pohon yang ditaro di lubang got sebagai penanda. Oh rupanya tadi kaki ku nyangkut di ranting pohon itu. Dan pada saat bersamaan, aku ngeliat sendal ku yang tadi lepas, bergerak meloncat tuing-tuing dan akhirnya “Pluuuung….”, nyemplung ke got tersebut. Subhanallah….

Aku pun ngelirik ke dalem got tersebut dan ternyata gotnya dalem. Udah dalem, gelap, bau, banyak sampahnya juga. Dan aku juga gak tau ada makhluk apa aja yang bersembunyi di balik kegelapan got tersebut. Hiiiiiii……. Aku pun segera mengikhlaskan sendal itu. Jadilah kini aku hanya mengenakan sendal yang sebelah kanan doank. Lalu aku melangkah kembali ke mobil, aku lepas dan aku taro sendal ku yang tinggal satu itu di dalem mobil dan jadilah aku makan di Jogja Chicken tanpa beralaskan apa-apa (kaya iklan Mentos aja yah).

Kejadian ini disaksikan oleh ke-4 ekor temenku yang lain. Mereka bertanya-tanya,

“Eh itu sendalnya gimana?”

“Udah gak apa-apa lah, ikhlasin aja”

“Loh kok gitu?”

“Iyah. Sendal ini kan cuma titipan. Tawakkal aja lah.”

Ya mungkin itu gambaran percakapan yang terjadi waktu itu. Mungkin redaksinya beda, tapi itulah intinya. Apakah segampang itu kehilangan sendal? Realitanya emang gak demikian, tapi sadarlah bahwa ketika kita kehilangan sesuatu dalam bentuk materi, sesungguhnya Allah sedang menguji kita. Apakah kita akan ikhlas ataukah malah akan berkeluh kesah?

“Sendal ini kan cuma titipan”, itu kalimat yang aku ucapkan waktu itu. Iya, jangan pernah lupa bahwa semua yang kita miliki saat ini hanyalah titipan, terutama sendal. Titipan siapa? Siapa lagi kalo bukan Allah Yang Maha Kuasa. Sendal ini hanyalah titipan dari-Nya, yang apakah dengan dititipkannya sendal ini pada kita, kita akan memanfaatkannya untuk melangkah di jalan yang benar. Apakah kita akan menggunakan sendal ini untuk melangkah ke masjid, ataukah sendal ini akan kita bawa ke tempat dugem?

Bukan hanya sendal, tapi semuanya juga hanyalah titipan dari Allah, termasuk dunia dan seisinya. Bahkan mata ini, mulut ini, tangan ini, kaki ini dan jiwa ini pun adalah milik Allah. Tidak pantas bagi manusia untuk berlaku sombong dan semena-mena setelah mengetahui bahwa segala yang ada di dunia ini sesungguhnya adalah milik Allah. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, hanya kepada-Nya lah kita menyembah dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan.

Kembali ke bahasan awal, sendal ku itu kini telah berpulang kepada pemilik yang sesungguhnya. Ini adalah suatu teguran, apakah selama ini aku telah memanfaatkan sendal itu untuk hal-hal yang diridhoi-Nya? Dan dengan lepasnya sendal itu dari kakiku, aku pun sedang diuji. Hendaknya dari ujian ini kita bisa menjadi manusia yang luar biasa. Seperti apakah manusia yang luar biasa itu? Yaitu manusia yang apabila diberi cobaan mereka bersabar dan apabila diberi rezeki mereka bersyukur. Itulah luar biasanya seorang muslim.

Mungkin ada yang bertanya lagi, ah ini kan cuma sendal yang harganya gak seberapa, jadi kita bakalan dengan gampang mengikhlaskannya. Tapi seberapa kecil pun harganya, tetap saja semuanya adalah cobaan. Dan for your info, tepat seminggu kemudian yaitu pada tanggal 29 April 2008, aku kehilangan sepasang sepatu Ellese putih ku di BEM. Kronologisnya, hari itu aku naro sepatu di rak luar dan malemnya lupa aku masukin. Jadilah pagi harinya sendal itu raib dari tempatnya, barengan sama sepatunya Cahyo yang juga sama-sama raib. Asumsi kita adalah malem itu ada maling maen2 ke ruang BEM dan ngeliat ada sepatu nganggur trus langsung diembat deh.

Dan sekali lagi, yang bisa aku katakan dalam hati adalah “Ya udahlah ikhlasin aja, sepatu ini kan cuma titipan”. Mungkin sepatu itu saat ini telah berada di kaki orang lain, tapi aku pun sadar sesadar-sadarnya bahwa di sepatuku itu ada hak orang lain juga yang mungkin selama ini gak pernah aku penuhi. Tawakkal aja yah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s