SeminarAntiPLTN

Tadi pagi di University Center (UC) UGM ada seminar bedah buku. Aku lupa judul bukunya apa, kalo gak salah “Melawan Iblis Mephistopheles” dengan jargon “Bunga Rampai Tinjuan Krisis Anti-PLTN-Fissi”, yang pada intinya menolak didirikannya PLTN di Indonesia. Karena ini berkaitan dengan nasib PLTN, maka jati diriku sebagai seekor mahasiswa Teknik Nuklir merasa tergugah untuk turut serta “meluruskan” pandangan mereka yang menentang PLTN dan mencoba menyebarluaskan faham mereka ke masyarakat awam.

Dari beberapa hari sebelumnya, rekan2ku di Teknik Nuklir 2006 udah janjian untuk “mengcounter” seminar bedah buku ini. Kita mencoba untuk mengerahkan massa, terutama orang2 yang mendukung PLTN untuk hadir. Alhamdulillah respon dari anak2 Teknik Nuklir angkatan atas dan bawah juga cukup baik, terbukti dari minat mereka untuk membela “harga diri” terkait PLTN ini. Bahkan beberapa dosen yang dihubungi juga bersedia menjadi front-liner. Eh tapi emang front-liner artinya apa yah?

Jam ½ 9-an aku dan rekan2 Teknik Nuklir udah stand by di UC buat “menjajah” sebanyak mungkin kursi yang tersedia. Awalnya kita berencana untuk duduk nyebar supaya gak ketauan kalo berasal dari komunitas yang sama. Tapi tetep aja realisasinya gak sesuai kenyataan, masih banyak yang ngegerombol. Gak apa2 lah, tawakkal aja…

Sebelom acaranya mulai, kita dipersilahkan untuk nikmatin coffee break dulu. Waktu lagi duduk2 sambil ngemil, aku ngeliat sosok seorang makhluk luar biasa yang baru turun dari motornya. Seorang manusia yang memiliki aura yang dahsyat yang mampu membuat anak kecil yang sedang menangis menjadi tertawa ketakutan (?????). Siapakah dia? Dialah You-Know-Who, atau kita sebut saja “Pak Andang”, seorang dosen idaman favorit para mahasiswa. Gak tau kenapa, waktu ngeliat beliau turun dari motor dan dengan tawadhu’ beliau berjalan memasuki ruangan, aku melihat adanya cahaya kemenangan terpancar dari wajahnya…. Pahlawan pembela PLTN telah datang. Dengan kekuatan bulan, akan menghukummu!!!

Alhamdulillah ternyata masih ada dosen yang peduli terhadap masalah ini. Kehadiran Pak Andang seakan menjadi ujung tombak bagi kaum pendukung PLTN. Selama ini, aku dan rekan2 Teknik Nuklir menyimpan suatu kekaguman tersendiri pada diri Pak Andang yang bener2 berilmu tinggi dan disegani di Jurusan Teknik Fisika. Dan dengan kesediaan beliau untuk hadir di acara ini, kekagumanku kepada beliau jadi makin bertambah. Gak salah deh waktu semester 1 dulu aku pernah mendeklarasikan komunitas AFC (Andang Fans Club) bareng temen2 Teknik Nuklir 2006.

Gak lama kemudian, salah seorang dosen Teknik Fisika lainnya yang bernama Pak Fadhli dateng dan dengan langkah meyakinkan beliau mengambil tempat duduk persis di sebelah mikrofon yang disediakan untuk peserta. Udah nyuri start duluan rupanya buat nanggepin uraian pembicara nantinya. Tapi bagus deh, dengan begini kita punya 2 orang “Petinggi” Teknik Nuklir yang akan memperjuangkan nasib PLTN ini nantinya. Lalu berurutan dateng juga anak2 Teknik Nuklir angkatan diatasku, kaya Mas Djarot mantan ketua Satu Bumi (Pepala-nya Fakultas Teknik), Mas Setiawan ketua angkatan Teknik Nuklir 2006, Mas Ayi ketua BEM Fakultas Teknik dan lain2nya, serta Pak Alex selaku dosen Teknik Fisika.

Akhirnya jam ½ 10 acara dimulai, ngaret sekitar ½ jam dari jadwal. Acara dibuka dengan sambutan dari 2 orang petinggi acara ini, yang dari isi sambutannya, mereka berdua condong untuk menolak PLTN. Selanjutnya dilanjutin dengan uraian dari 4 ekor pembicara yang bila diliat sekilas, mereka semua tidak punya latar belakang ilmu terkait dengan Nuklir dan PLTN. Masing2 dari mereka menyampaikan tanggapan mereka terhadap buku “Melawan Iblis Mepisthopheles” ini. Dan secara keseluruhan hampir semua dari mereka menolak berdirinya PLTN di Indonesia, baik itu secara tersirat maupun secara tersurat. Beberapa pernyataan yang mereka sampaikan diantaranya :

  1. Mengapa Indonesia memilih PLTN sebagai sumber energi alternatif? Apakah ini cuma ikut2an tren dunia saja? Bukankah PLTN sudah ditinggalkan oleh negara2 maju?
  2. Mengapa kita tidak menggunakan energi alternatif lainnya seperti panas bumi, matahari, angin dll yang merupakan anugerah Tuhan?
  3. Sebenernya Indonesia tidak sedang mengalami krisis energi, hanya terjadi kesalahan pengelolaan saja terhadap energi.
  4. Pemerintah, khususnya mereka yang mendukung PLTN bisa dikategorikan sebagai orang2 SINTING karena menggunakan logika yang salah.
  5. Proyek pembangunan PLTN di Indonesia merupakan SAMPAH dari sisa2 produk Barat yang sebenernya sudah tak terpakai lagi di tempat asalnya.

Dan selain 5 poin di atas, masih ada banyak lagi pernyataan2 mereka yang bisa memantik ghirah dan “semangat kenukliran” dari mereka2 yang mengerti tentang ilmu nuklir.

Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi tanggapan dari para peserta. Spontan banyak peserta yang mengacungkan tangannya. Tanpa menunggu aba2 dari moderator, berdiri seorang peserta yang langsung berlari menuju mikrofon yang telah disediakan oleh pantia. Aku gak menangkap jelas apa ucapannya, tapi intinya dia mendukung berdirinya PLTN di Indonesia. Tepuk tangan pun bergemuruh dari seluruh penjuru ruangan, menandakan bahwa masih banyak orang yang sebenernya menginginkan Indonesia memiliki PLTN.

Lalu moderator mempersilahkan peserta lainnya untuk ngasi tanggapan. Tanpa disuruh Pak Andang yang duduk di barisan depan langsung berdiri dan melangkah menuju mikrofon. Spontan, seluruh mahasiswa Teknik Nuklir yang ada di ruangan tersebut yang telah mengetahui kapabilitas dari seorang Andang Widi Harto, langsung bertepuk tangan semeriah2nya. Dengan gaya khasnya yang cool, beliau mengambil mikrofon dan mulai membela diri sekaligus menyerang balik serta meluruskan segala opini negatif para pembicara terkait dengan PLTN. Aku yang merupakan salah seorang dari AFC (Andang Fans Club) pun tak henti2nya bertepuk tangan atas setiap pernyataan yang disampaikan Pak Andang, yang membuatku makin nge-fans sama beliau.

Disini aku gak bisa menuliskan seperti apa tanggapan2 Pak Andang. Tapi beberapa “serangan” dari para pembicara yang anti PLTN bisa dicounter dengan sempurna oleh Pak Andang. Dan ketika beliau selesai memberikan tanggapan, sekali lagi seluruh penjuru ruangan bergemuruh memberikan aplaus atas apa yang disampaikan Pak Andang, termasuk aku sendiri yang masih diliputi rasa “bahagia” atas penjelasan beliau.

Selanjutnya moderator mempersilahkan peserta lainnya untuk memberi tanggapan. Pak Fadhli yang duduknya paling deket sama mikrofon yang sedari tadi udah ngacung2in tangan tapi selalu keduluan, kali ini langsung berdiri dan meraih mikrofon di deketnya. Sekali lagi, karena beliau adalah dosen Teknik Fisika yang pada umumnya Pro-PLTN, seluruh peserta seminar langsung memberikan applaus yang meriah. Dan sekali lagi, beliau juga mampu menanggapi opini negatif dari para pembicara dengan baik. Bahkan mungkin si moderator jadi agak “naik darah” mendengar pernyataan dari Pak Fadhli. Akhirnya tanggapan Pak Fadhli diputus oleh moderator karena kelamaan.

Intinya, kedua algojo Teknik Fisika di atas mengeluhkan kompetensi dari pembicara yang kurang mengerti tentang ilmu nuklir itu sendiri. Pak Andang mengutarakan bahwa dalam setiap seminar Kontra-PLTN seperti ini, peran engineer kurang dilibatkan sehingga bisa menyesatkan masyarakat umum. Termasuk cover buku “Melawan Iblis Mepisthopheles” yang provokatif yang menggambarkan Cooling Reactor PLTN dengan kuburan disekitarnya, seakan2 gambar itu berbicara bahwa “PLTN itu bisa membunuhmu”. Perlu diketahui bahwa Cooling Reactor gak cuma punya PLTN doank, tapi semua pembangkit listrik juga punya lho…. Dijelaskan juga bahwa renewable-nya suatu pembangkit listrik tidak hanya diliat dari sumbernya doank tapi juga dari siklus yang terjadi di dalemnya. Serta meskipun beliau merupakan dosen Teknik Nuklir dan Teknik Fisika, bukan beliau hanya concern ke PLTN, tapi juga concern ke energi alternatif, sehingga keputusan untuk mendukung PLTN adalah setelah dibandingkan dengan energi alternatif lainnya.

Sedangkan Pak Fadhli selain mempermasalahkan kompetensi pembicara juga menanggapi poin 1 dari pernyataan pembicara diatas bahwa bukan hanya panas bumi, matahari dan angin saja yang merupakan anugerah dari Tuhan, tapi nuklir (uranium) juga merupakan suatu anugerah yang bisa kita manfaatkan.

Penanggap selanjutnya adalah seorang perempuan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik yang mempertanyakan kenapa negara2 seperti Iran tidak “diperbolehkan” untuk mengembangkan ilmu nuklirnya. Dan terakhir ada orang yang ngaku2 peselancar yang ngomongnya campur2 Indonesia-British (Cinta Laura donk…). Dia ngomong panjang lebar cepet kilat ngebut becek dan campur2, jadi cuma ada 1 pernyataan doank yang bisa aku tangkep yaitu :

“… … Kebetulan saya sendiri adalah seorang surfer, sehingga saya sedikit mengerti potensi angin di Indonesia. Di beberapa tempat, angin di Indonesia memang kencang. But hey, who lives there? … …”

Ya redaksinya mungkin beda, tapi intinya gitu lah….

Kalimat “Who lives there” yang langsung disambut dengan applaus dari para peserta lainnya, yang membuatku gak bisa mendengarkan the rest of his statement. The point is, si peselancar atau surfer tersebut menanggapi bahwa if we want to use wind energy, di beberapa tempat di Indonesia emang banyak anginnya, but umumnya di tempat2 yang anginnya kenceng itu gak ada penduduk yang tinggal, so ntar energi angin itu buat siapa? Loh kok jadi ikutan campur2 gini? Ya Insya Allah demikian…

Selanjutnya tanggapan2 peserta tadi ditanggapi kembali oleh pembicara dkk dengan menghadirkan 2 orang pengamat lagi, yang sedari tadi udah duduk manis di bangku undangan. Salah seoarng diantara mereka adalah seekor sarjana lulusan Teknik Fisika yang kemudian merambah dan bekerja di bidang lainnya di luar ilmu Fisika. Dengan tajam dia menyampaikan opininya tentang permasalahan ini. Diantaranya adalah:

  1. Banyak mahasiswa Teknik Fisika dan Teknik Nuklir yang menghadiri seminar ini karena menyangkut pekerjaan dan masa depan mereka.
  2. Saat ini SDM Indonesia tidak mampu untuk mendirikan PLTN.
  3. Nuklir itu bahaya. Terbukti dari perlunya pekerja radiasi menggunakan baju pelindung dan peralatan khusus jika ingin berinteraksi dengan nuklir.
  4. Bagaimana nasib limbah PLTN? Selama belum ada teknologi yang mampu mengolah limbah PLTN, maka PLTN jangan didirikan dulu.

Selain itu dia juga mengatakan bahwa untuk anak2 Teknik Nuklir, gak perlu takut gak dapet kerja kalo PLTN gak jadi didirikan. Kenapa? Karena mahasiswa2 Teknik Nuklir itu adalah mahasiswa luar biasa yang dibekali skill gak cuma di bidang nuklir doank, tapi juga bisa merambah ke bidang poltik atau ekonomi kalo mau, seperti yang terjadi pada dia sendiri. Sedangkan anak2 Ekonomi dan Politik sendiri belom tentu ngerti tentang nuklir. Dia juga menegaskan bahwa 2 persoalan besar yang menghalangi terwujudnya PLTN di Indonesia ini adalah : SDM dan limbah PLTN.

Dan terakhir, hampir kesemua pembicara mengatakan bahwa mereka TIDAK ANTI NUKLIR, hanya mereka tidak setuju dengan PLTN, karena SDM Indonesia tidak mampu. “Tidak Anti Nuklir”, sebuah kalimat yang tidak dipermasalahkan oleh para penanggap tapi digunakan oleh para pembicara untuk membela diri.

Kemudian setelah kesemua pembicara selesai “membela diri”, acara pun ditutup dengan kuis dan doorprize. Peserta dipersilahkan untuk mengambil nasi box yang telah disediakan yang jumlahnya terbatas, dimana aku beruntung menjadi salah seorang yang kebagian nasi box tersebut. Huohohohohohoho….. Dan Pak Andang pun tersenyum…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s