Opiniku

Setelah sebelumnya kita membaca tentang ringkasan acara seminar bedah buku “Melawan Iblis Mephistopheles” maka kali ini izinkanlah diriku yang hina dan rendahan ini untuk menyampaikan argumentasi dan pendapatku terkait penyampaian ke-4 ekor pembicara serta 2 ekor pembicara tambahan lainnya yang nyusul belakangan.

Sebenernya di acara kemaren, aku pun juga punya banyak hal yang pingin aku sampaikan terkait “opini negatif” para pembicara yang mempermasalahkan PLTN. Namun karena moderator cuma memberikan kesempatan kepada 5 orang penanggap doank, jadinya aku gak mendapatkan lahan untuk menyampaikan aspirasiku. Dan untuk memfalisitasi aspirasi serta argumenku ini, izinkanlah aku menyampaikannya dalam bentuk tulisan.

Ada beberapa poin yang ingin aku sampaikan terkait opini mereka, diantaranya :

Mengapa Indonesia memilih PLTN sebagai sumber energi alternatif? Apakah ini cuma ikut2an tren dunia saja? Bukankah PLTN sudah ditinggalkan oleh negara2 maju?

Pembicara mengutarakan bahwa energi alternatif itu kan ada banyak, kenapa PLTN yang dipilih? PLTN kan udah banyak di dunia, apa ini cuma ikut2an tren aja? Kenapa gak mencoba mengembangkan energi alternatif lain, seperti SolarCell dan menjadi pelopor disana?

Bukan berarti menyepelekan energi alternatif lain, tapi gak salah kan kalo kita mengembangkan PLTN juga? Energi alternatif lain itu gak bisa menghasilkan daya sebesar PLTN, jadi secara umum PLTN adalah yang lebih efisien diantara yang lainnya. Untuk ngebandingin itung2an efisiensi PLTN dan energi alternatif lain, aku gak punya ilmunya. Tapi aku yakin Pak Andang dan dosen2 Teknik Fisika lainnya udah menguasai masalah ini sehingga mereka berkesimpulan kalo PLTN itu emang lebih efisien dibanding yang lainnya.

Begitupun dengan masalah SolarCell. Energi yang dihasilkannya gak sebanding dengan PLTN. Dan gak masalah kok kalo kita juga mau ngembangin SolarCell. Tapi jangan lupain PLTN, itu intinya.

Mengapa kita tidak menggunakan energi alternatif lainnya seperti panas bumi, matahari, angin dll yang merupakan anugerah Tuhan?

Pertanyaan “aneh” ini udah dijawab dengan memuaskan oleh Pak Fadhli dan mungkin hampir semua peserta menyetujuinya. Semua yang ada di dunia ini adalah anugerah Tuhan, termasuk nuklir dan uranium. Tidaklah Allah menciptakan semua ini dengan sia2. Jadi mau itu panas bumi, matahari, angin maupun nuklir sekalipun, semuanya adalah anugerah Allah dan sudah menjadi tugas kita untuk memanfaatkan potensi yang tersedia disana dengan penuh tanggung jawab dan sebaik2nya demi kemaslahatan orang banyak.

Api, bukanlah merupakan anugerah Tuhan? Allah menciptakan iblis dari api, namun manusia diberikan akal dan pikiran untuk menaklukkan api, bahkan memanfaatkannya untuk kepentingan orang banyak. Jadi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diberikan oleh Sang Pencipta, Insya Allah nuklir pun juga bisa kita taklukkan dan kita manfaatkan di jalan yang benar.

Sebenernya Indonesia tidak sedang mengalami krisis energi, hanya terjadi kesalahan pengelolaan saja terhadap energi.

Semua juga sepakat kalo hampir sebagian besar penduduk Indonesia, terutama yang berada di kursi kepemimpinan sedang mengalami krisis moral. Tapi aku rasa ini bukan jadi alasan untuk menoak berdirinya PLTN di Indonesia, karena masalahnya bukan di krisis energi tapi krisis di seluruh lapisan masyarakat yang gak akan cukup dibahas lewat tulisan ini.

Pemerintah, khususnya mereka yang mendukung PLTN bisa dikategorikan sebagai orang2 SINTING karena menggunakan logika yang salah.

Salah seorang pembicara mengatakan bahwa pemerintah, khususnya yang mendukung PLTN adalah orang2 yang “sinting”. Telah terjadi kesalahan pada logika mereka yang membuat mereka memutuskan untuk mendirikan PLTN di Indonesia, sehingga kita pantas untuk menyebut mereka sebagai orang2 yang “SINTING”.

Aku gak tau definisi sinting menurut dia tuh apa. Yang aku tau, istilah “sinting” adalah sesuatu yang bersifat relatif yang dipengaruhi oleh media, opini dan budaya setempat. Jadi sinting bagi seseorang, belom tentu sinting bagi orang lain. Itu menurutku.

Pada tahun 1960-an, presiden AS saat itu J.F Kennedy berujar bahwa pada akhir dasawarsa ini, ia akan menempatkan manusia di bulan. Saat itu ia dianggap “sinting” oleh masyarakat umum. Mana mungkin manusia bisa ke bulan? Itu cuma mimpi. Tapi coba liat sekarang, manusia pulang pergi ke bulan adalah hal biasa. Bahkan juga ada binatang yang pernah diterbangkan ke bulan. Ternyata ke”sinting”an J.F Kennedy membawa perubahan besar bagi dunia, dan membuat namanya masuk ke dalam daftar “100 tokoh paling berpengaruh di dunia” karya Michael H Hart.

Demikian dengan Tomas Alfa Edison, Alexander Graham Bell dan para penemu lainnya yang tetap bertahan dalam “kesintingannya” demi menciptakan suatu penemuan baru yang bermanfaat bagi khalayak umum. Bahkan bukankah junjungan kita nabi besar Muhammad Rasulullah saw juga pernah dianggap “sinting” oleh kaum Quraisy?

Ya mungkin saat ini kita masih bisa bebas ber-opini tentang “sinting2an”. Tapi liat aja nanti, biarlah waktu yang akan menjawabnya dan lihatlah perubahan besar yang akan dibawa PLTN pada kemajuan negara ini. Sehingga suatu hari nanti, kita bisa mengucapkan kalimat berikut ini dengan keras dan lantang, “SEBENERNYA YANG SINTING ITU SIAPA YA?”

Proyek pembangunan PLTN di Indonesia merupakan SAMPAH dari sisa2 produk Barat yang sebenernya sudah tak terpakai lagi di tempat asalnya.

Kalo ini sih jelas cuma letupan emosi dari si pembicara aja. Selama ini, apakah ada produk2 Indonesia yang bukan merupakan “sampah” dari negara lain? Tapi harapannya itu juga bukan jadi alasan untuk tidak mendirikan PLTN di Indonesia. Bukan bermaksud merendahkan negara Indonesia tercinta ini. Tapi kenyataannya emang kaya gitu. Dan aku rasa itu juga bukan masalah, karena boleh saja saat ini kita cuma bisa makan ”sampah2” negara lain, tapi kita adalah individu2 yang bertekad untuk maju. Kita bukan cuma makan sampah, tapi kita juga mempelajari sampah2 tersebut sehingga suatu hari nanti kita bisa menjadi produsen, bukan hanya konsumen. Bukankah proses alih transfer teknologi adalah hal yang biasa?

Banyak mahasiswa Teknik Fisika dan Teknik Nuklir yang menghadiri seminar ini karena menyangkut pekerjaan dan masa depan mereka.

Pendapat di atas muncul dari mulut seekor pembicara tambahan yang merupakan sarjana lulusan Teknik Fisika, tapi saat ini ia beralih ke bidang Ekonomi. Dia juga mengatakan supaya anak2 Teknik Nuklir gak perlu khawatir kalo PLTN gak didirikan di Indonesia, karena sebenernya mereka punya kompetensi lebih untuk bersaing di bidang lain, seperti di bidang ekonomi maupun politik. Sedangkan anak ekonomi dan politik belom tentu ngerti tentang nuklir. Jadi, anak2 nuklir adalah individu luar biasa yang bisa kerja di mana aja.

Itu pendapat si pembicara tersebut. Dan aku sendiri juga mengakui kalo anak2 nuklir emang punya kemampuan berlebih untuk berkembang di bidang lain, tapi orang2 dari bidang lain belom tentu bisa menguasai ilmu nuklir. Sebenernya ini bukan masalah pekerjaan, tapi lebih ke masalah TANGGUNG JAWAB. Telah dikatakan bahwa ilmu nuklir itu hanya dikuasai oleh anak2 nuklir saja, sedangkan orang2 dari bidang lain belom tentu menguasai. Jadi kalo anak2 nuklir beralih pekerjaan ke bidang lain, maka SIAPA LAGI ORANG2 YANG AKAN MENGEMBANGKAN ILMU NUKLIR DI INDONESIA? Sekali lagi, ini terkait masalah tanggung jawab. Dan selaku mahasiswa Teknik Nuklir, aku punya tanggung jawab untuk membuat Indonesia menjadi negara yang menguasai ilmu nuklir, dan salah satunya adalah dengan cara mendirikan PLTN di Indonesia.

Saat ini SDM Indonesia tidak mampu untuk mendirikan PLTN.

Membaca kalimat diatas, mungkin yang terlihat adalah sebuah pesimisme. Ya, salah satu alasan kenapa Indonesia gak maju2 adalah karena selalu berpikir pesimis, kurang memiliki motivasi. Menurut buku Total Motivation karya Sofian Hadi Lubis, beberapa hal penghambat motivasi diantaranya adalah :

Kurangnya kepercayaan diri

Cemas

Opini negatif

Dimana ke-3 hal diatas-lah yang membuat SDM Indonesia kurang mampu berkembang an mengeksploitasi dirinya lebih jauh lagi. Jadi mungkin gak ada salahnya kalo kita berpikir optimis, kita yakinkan pada negeri ini bahwa anak bangsa juga mampu membuat teknologi sekelas PLTN. Tentu saja optimis di sini bukan semata optimisme buta, tapi optimisme yang juga disertai dengan ilmu dan usaha, salah satunya adalah dengan memotivasi SDM Indonesia bahwa mereka MAMPU mendirikan PLTN.

Selain itu, pembicara juga mengatakan “perbaiki dulu SDM Indonesia, baru kita bisa mampu membuat PLTN”. Usul yang bagus, dan tidak salah. Tapi masalahnya adalah, sampai kapan kita menunggu sampai SDM Indonesia benar2 baik? Gak ada parameter khusus yang menyatakan kesiapan suatu SDM, jadi sampai kapanpun, kita akan selalu mengatakan bahwa “kita belom siap, kita belom siap, kita belom siap” dan hal ini akan tertanam di dalam pikiran kita, sehingga pendirian PLTN pun akan terus-menerus mengalami kemunduran dan penundaan.

Untuk itu, usul yang aku tawarkan adalah kenapa gak dibangun dulu aja PLTNnya? Proses pembangunan dan pemeliharaan PLTN membutuhkan SDM yang benar2 mumpuni, sehingga hanya SDM unggul saja yang bisa terlibat disana. Dalam kasus ini, PLTN berperan sebagai suatu simbol atau inspirator atau pelopor untuk meningkatkan SDM di Indonesia. Dengan adanya PLTN, maka masyarakat akan termotivasi untung meningkatkan SDMnya. Jadi disini dengan didirikannya PLTN, maka SDM Indonesia pun akan meningkat seiring dan sejalan dengan berkembangnya PLTN di Indonesia ini.

Nuklir itu bahaya. Terbukti dari perlunya pekerja radiasi menggunakan baju pelindung dan peralatan khusus jika ingin berinteraksi dengan nuklir.

Orang yang mengatakan pendapat di atas masih sama dengan orang yang mengatakan pendapat sebelum ini. Itulah tanggapannya terkait pengalamannya yang dulu pernah terlibat dengan dunia nuklir. Dan sampai saat ini, aku masih belom bisa mengerti alasan apa yang mendasari dia berpendapat demikian. Bukanlah semua hal di dunia ini pada dasarnya adalah bahaya bila digunakan di jalan yang salah?

Bukan hanya pekerja nuklir aja yang make baju pelindung, tapi pekerja konstruksi bangunan juga perlu peralatan khusus seperti helm dan sepatu bot dalam pekerjaannya. Api juga berbahaya, sehingga pemadam kebakaran perlu peralatan khusus dalam melaksanakan tugasnya. Jadi, inilah yang disebut dengan KESELAMATAN KERJA, yang memang diperlukan untuk meningkatkan keselamatan para pekerja. Semua yang terjadi pasti memiliki dampak dan resiko, dan jika ingin mendapatkan hasil yang maksimal, pasti ada resiko yang besar juga dibaliknya. Seperti kata pepatah, “No Pain No Gain” atau mengutip ucapan kakeknya Spiderman, “with great power comes great responsibility”. Tinggal bagaimana KEBERANIAN kita untuk menghadapi resiko yang mungkin terjadi demi kekuatan besar yang tersembunyi dibelakangnya.

Bagaimana nasib limbah PLTN? Selama belum ada teknologi yang mampu mengolah limbah PLTN, maka PLTN jangan didirikan dulu.

Ini juga sebuah pernyataan yang “unik”. Kalo pernyataan ini kita turuti, bisa2 hidup kita bakalan stagnan dan diam di tempat. Suatu kalimat mengatakan, “sejarah selalu berulang”. Begitupun dengan yang terjadi saat ini adalah pengulangan dari kejadian2 yang pernah terjadi di masa lalu, hanya kasus dan konteksnya saja yang berbeda.

Coba kita lihat ke masa lalu, ketika mobil baru pertama kali dibuat. Untuk membuat mobil yang maksimal, diperlukan tenaga yang maksimal. Namun mengakibatkan produk buangan yang besar juga, melalui knalpot. Apakah dengan adanya produk buangan yang seperti itu, produsen mobil menghentikan produksinya? Jawabannya : TENTU TIDAK. Mereka justru tertantang untuk menciptakan mobil yang memiliki tenaga yang besar namun produk buangannya diminimalisir. Hasilnya pun bisa kita nikmati saat ini, dengan adanya mobil2 kualitas tinggi yang ramah lingkungan.

Pun demikian dengan PLTN. Apakah masalah limbah akan menghentikan langkah kita mengembangkan PLTN? Sekali lagi jawabannya : TENTU TIDAK. Justru seharusnya kita merasa tertantang untuk menciptakan proses pengolahan limbah yang ramah lingkungan. Kalo kita gak punya PLTN, gimana kita bisa membuat teknologi pengelolaan limbah yang ramah lingkungan? Sambil mengoperasikan PLTN, sambil kita mengembangkan PLTN yang limbahnya ramah lingkungan.

Kesimpulan

Dengan ini, aku mencoba untuk menyampaikan ke khalayak masyarakat umum bahwa pendirian PLTN di Indonesia sebaiknya didukung, karena efek yang diberikan PLTN baik secara langsung maupun tidak langsung Insya Allah mampu membangun dan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Untuk menjadi negara yang besar, kita perlu SDM yang bersemangat, yang memiliki motivasi tinggi, yang tertantang untuk selalu belajar dan belajar serta belajar untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Buanglah segala pikiran negatif dan rasa pesimisme kita. Jangan sampai kita terus terpuruk dalam keadaan seperti ini. Kita adalah bangsa besar, bangsa yang selalu bergerak maju dan akan terus bergerak maju. Terakhir, aku ingin menyampaikan sebuah kalimat yang mungkin agak provokatif dan mungkin dianggap “sinting”, tapi dengan jujur dan tegas aku berkata,

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Insya Allah dengan PLTN, akan kita bawa Indonesia MENJADI PEMIMPIN DUNIA”.

2 Comments Add yours

  1. tieeFa says:

    mas C-Kink … yang bener ntu pengarangnya total motivation bukan sofian hadi lubis tapi satria hadi lubis … hahahaha …

  2. ckinknoazoro says:

    oh iya yah? ya nggak apa2 lah, mohon dimaafkan. huohohoho…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s