RuntuhnyaMoralBangsa

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Beberapa hari yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Desember 2007 atau 10 Dzulhijjah 1428 H, adalah pertama kalinya gw melaksanakan Sholat Ied di Jogja. Sebelum-sebelumnya gw selalu Sholat Ied di desaku tercinta di Depok, ataupun kadang-kadang di kampong halaman gw di Bojonegoro atau di Lawang-Malang, Jawa Timur. Dan berikut ini sedikit laporan pandangan mata tentang Sholat Ied gw di Jogja yang pada akhirnya telah mampu memaksa diri gw dan jiwa mujahid gw untuk menjadi lebih peduli dan berpikir kritis.

Yang pertama kali harus dilakukam sebelum pelaksanaan Sholat Ied adalah mencari tau kapan dan dimana Sholat Ied akan diadakan, karena tidak semua Masjid yang biasa dipakai Sholat Jumat juga menggelar Sholat Ied, dan tidak semua tempat yang mengadakan Sholat Ied melaksanakannya pada hari itu, karena adanya perbedaan kepercayaan tentang kapankah jatuhnya tanggal 10 Dzulhijjah. Akhirnya setelah nanya-nanya kesana-kemari, gw memutuskan untuk melaksanakan Sholat Ied di Masjid milik Universitas Gadjah Mada-ku tercinta yang bernama Masjid Kampus yang biasa disingkat “Mampus”. Astagfirullah, maksudnya yang biasa disingkat “Makam”. Astagfirullah, yo wes lah sak karepmu dewe…

Jarak antara kosan gw dan MasKam (Alhamdulillah, ini baru bener, “MasKam” atawa Masjid Kampus) gak terlalu deket, kalo jalan kaki mungkin 40 menit baru nyampe. Tapi Alhamdulillah gw punya mobil jadi gak perlu jalan kaki. Kalo di desa gw di Depok, jarak antara rumah gw dengan lapangan tenis tempat diadakannya Sholat Ied tuh cuma sejengkal, jadi dengan ngintip dari rumah doank juga gw bisa tau sejauh apa persiapan pelaksanaan Sholat Ied-nya dan berapa banyak jamaah yang udah dateng. Tapi di Jogja ini gak kaya gitu, jadi gw harus mengira-ngira kapankah waktu yang tepat untuk berangkat supaya datengnya gak kepagian dan juga gak kesiangan. Lalu gw memutuskan untuk berangkat jam 05.50.

Sekedar pemberitahuan juga, ini adalah pertama kalinya gw Sholat Ied sendirian, tanpa keluarga, tanpa teman, tanpa istri serta tanpa anak (loh emangnya udah punya?). Sebenernya sih bisa kalo mau ngajak temen kosan, tapi basanya temen kos gw datengnya sengaja ditelat-telatin, dan kata “telat” bukanlah budaya gw, apalagi untuk urusan ibadah. Dan gw juga sebenernya bisa aja ngajak temen2 yang lagi nginep di BEM FT, tapi sekali lagi karena takut kelamaan nugguinnya, ntar bisa telat. Ya udah akhirnya gw berangkat sendiri aja. Eh gak sendirian juga sih, berdua sama Toyota Solluna wana ijo tua B 8076 SP, dan bertiga sama Allah Yang Maha Melihat.

Sepanjang perjalanan menuju MasKam gw melihat hal yang agak janggal, yaitu di pinggir jalan banyak pedagang kaki lima yang tumben-tumbenan udah buka dari pagi, khususnya pedagang makanan/warung kaki lima pinggir jalan. Setau gw, biasanyawarung kaki lima ini cuma ngegelar lapaknya di hari Minggu doank dalam sejenis pasar kaget yang bernama “Sunday Morning”. Idul Adha kali ini jauh di hari Kamis, jadi agak aneh aja ngeliat warung kaki lima kok pada buka.

Sejenak gw berpikir, di saat orang2 beranjak menuju Masjid untuk melaksanakan Sholat Ied, kok sempet-sempetnya mereka buka warung? Apakah nantinya mereka akan menyusul menuju Masjid ataukah mereka tetap menjaga warungnya dan melalaikan Sholat Ied ini? Gw gak tau mana pilihan yang mereka ambil, karena gw gak mengamati mereka sepanjang waktu dan gw belum sempet berbincang-bincang dengan salah satu dari mereka. Tapi kalaupun ternyata mereka memilih pilihan yang kedua, yaitu tetap menjaga warungnya dan meninggalkan Sholat Ied, betapa itu adalah suatu tanda akan runtuhnya moral bangsa ini pada umumnya dan umat Islam pada khususnya, karena mereka lebih memilih berbisnis dengan manusia daripada beribadah, yang notabene merupakan kegiatan bisnis dengan Allah, Tuhan Semesta Alam.

Ketika Sholat Jumat hendak dilaksanakan, kita semua diperintahkan untuk meninggalkan segala kegiatan, termasuk kegiatan jual-beli dan segera bergegas menuju Masjid untuk memenuhi panggilan Allah swt. Lalu, ini adalah Idul Adha, hari raya umat Islam, dimana seluruh umat Islam disunnahkan untuk datang dan berkumpul melaksanakan Sholat Ied, untuk menunjukkan eksistensi dan persatuan serta kekuatan umat Islam kepada seluruh penghuni dunia. Bahkan perempuan yang tidak sedang sholat pun dianjurkan untuk tetap hadir dan mendengarkan khotbah hari raya. Jadi, sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk meninggalkan dan melalaikan Sholat Ied ini, mengingat betapa penting makna, nilai dan esensi yang terkandung didalamnya.

Kembali ke jalan cerita, sampailah gw di MasKam. Alhamdulillah MasKam masih belum terlalu ramai sehingga gw bisa mengambil shaf paling depan, meskipun posisinya terlalu minggir dari posisi mimbar tempat khatib berkhutbah.

Singkat cerita, sholat telah dilaksanakan dan kutbah hari raya telah berakhir, sehingga tibalah waktunya untuk kembali pulang. Karena gw sendirian, jadi gw gak perlu buru-buru pulang. Gw masih tetap duduk di tempat ditemani sajadah-ku tersayang. Lalu gw segera beranjak dan duduk di emperan tangga di MasKam yang menghadap ke arah halaman MasKam, tempat orang berlalu-lalang. Gw perhatikan mereka yang hendak keluar Masjid. Ada yang kebingungan nyari sendalnya, ada yang ngutak-ngatik hp, ada yang ngobrol sama temennya, ada yang duduk-duduk di emperan juga kaya gw, dan ada yang bergerombol lalu foto-foto dengan “MasKam Environment” sebagai latar belakangnya. Karena gw sendirian dan gak punya temen ngobrol, jadi yang bisa gw lakukan saat itu hanyalah memandangi orang-orang yang berlalu lalang di lingkungan MasKam.

Selagi memandangi orang-orang, ternyata ada banyak pemandangan yang mengganjal di penglihatan dan perasaan gw. Suatu pemandangan yang, sekali lagi, menunjukkan tanda runtuhnya moral bangsa ini pada umumnya dan umat Islam pada khususnya. Apakah itu? Yaitu adalah adanya orang-orang yang berpakaian layaknya mau berangkat ke mall, khususnya kaum hawa. Loh emang apa yang salah? Ya jelas salah donk, ini tuh Masjid, bukan mall. Ini tempat ibadah, bukan pasar.

Jumlah mereka yang “berbusana gaul” memang tidak sebanding dengan jumlah seluruh jamaah, tapi tetap saja menganggu. Untuk kaum laki-laki, Alhamdulillah mereka banyak yang mengenakan celana kain dan baju koko, minimal kemeja. Sedangkan untuk yang perempuan, mentang-mentang mereka Sholat menggunakan mukena, lalu mereka berpikir bahwa mereka bebas menggunakan pakaian apapun dibalik mukena mereka, dalam hal ini adalah celana jeans ketat dan baju yang kekecilan yang memperlihatkan bentuk tubuh mereka. Subhanallah…. Eh, maksudnya Astagfirullah….

Mungkin elu bakalan bertanya lagi, emang apa yang salah dengan itu semua? Dan sekali lagi gw katakan bahwa jelas itu salah, karena ini adalah masjid. Tidak sepantasnya kita memamerkan aurat kita di lingkungan masjid. Dan yang kedua, karena ini adalah hari raya umat Islam, yang jatuh 2 kali dalam setahun. Jadi untuk memperingati hari raya ini, TIDAK BISAKAH KALIAN BERPAKAIAN SECARA SOPAN, WAHAI KAUM PEREMPUAN? Setidaknya di hari raya umat Islam yang kita muliakan ini, kita ber-Islam secara benar, salah satunya dalam hal berpakaian. Ini adalah hari raya yang hanya terjadi 2 kali dalam setahun, jadi KAMI MOHON UNTUK MENGHORMATI HARI RAYA ini, setidaknya dengan cara BERPAKAIAN SECARA SOPAN DAN MENUTUP AURAT. Apa susahnya sih menutup aurat? Dengan bacaan Bismillah Insya Allah bisa kok…

Bukan berarti gw mengajarkan supaya kita ber-Islam secara benar hanya di hari raya doank. Yang gw maksud adalah kita mengawali ber-Islam secara benar dari momen-momen mulia seperti hari raya ini. Contoh abstraknya adalah masalah pakaian tadi. Mungkin sehari-harinya kita mengenakan pakaian-pakaian “jahiliyah” yang meskipun kita nyaman memakainya, tapi malah akan semakin mendekatkan kita dengan neraka. Lalu khusus untuk memperingati hari raya umat Islam, kita mencoba untuk menghormati hari raya ini dengan cara berpakaian yang sopan dan menutup aurat sesuai tuntunan Islam. Selanjutnya setelah kita mengenakan pakaian yang sesuai aturan, ternyata kita merasa nyaman dan tidak terganggu. Akhirnya kita mencoba untuk berpakaian seperti itu lagi di kemudian hari, tidak hanya di hari raya saja. Lama-lama kita menjadi terbiasa dan akhirnya secara menyeluruh kita mula berpakaian secara benar dan meninggalkan pakaian-pakaian “jahiliyah” kita di masa lalu.

Setelah bosan mengamati orang-orang di MasKam dikarenakan orangnya udah pada pukang, lalu gw pun bergegas beranjak meninggalkan emperan dan menuju Toyota Solluna-ku tercinta untuk pulang kembali ke kosan. Dan sepanjang perjalanan gw pulang ke kosan, gw melihat warung-warung kaki lima yang tadi pagi baru buka kini sudah ramai dipadati para jamaah yang baru selesai Sholat IEd. Dan gw tetap melaju dan terus melaju…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s