DanauItuBernamaJakarta

Ass wr wb.

Sebelum kita mulai membahas tentang artikel yang satu ini, gw pengen nanya dulu sama lu semua. Judul artikel ini puitis banget ga sich??? (penting ya?)

Oke, baiklah, kalo gitu langsung kita mulai aja. Mari kita awali tulisan ini dengan menyanyikan sebait lagunya Benyamin yang berjudul “Kompor Mledug”, dimulai dengan nada dasar do. Mari kita mulai.

“Jakarta… Kebanjiran…”

Yak itulah dia sebait lagu dari Benyamin. Dan lagu itu pulalah yang mendasari gw untuk menulis tulisan ini. Ketika tulisan ini ditulis (pukul 18.08 menurut HP gw, tanggal 5 Februari 2007 (Betty One William ulang taun lho…), di kamar kos gw di Jogja), Jakarta, ibukota Indonesia, yang terkenal dengan kesibukan bisnisnya, kepadatan penduduknya, keramaian lalu-lintasnya, kepolusian udaranya, kemegahan gedungnya, kehidupan glamournya, kehidupan malamnya dan ke-an ke-an lainnya, ternyata hanya bisa bertekuk lutut saat menghadapi banjir kali ini. Meskipun banjir emang udah jadi musibah taunan, tapi banjir kali ini lebih besar dari sebelum2nya. Katanya sih ini siklus banjir 5 taunan. Ntar kita cek aja di taun 2012 nanti.

Jakarta baru saja dan masih mengalami musibah yang bernama banjir, yang dalam bahasa Jawa disebutnya “Flood”. Berita2 di Koran maupun di TV semuanya menampilkan tentang banjir ini. Bahkan infotainment2 juga ikut2an ngebahas tentang artis2 yang kebanjiran, baik itu yang kebanjiran rezeki maupun yang kebanjiran beneran. Alhamdulillah untungnya gw bukan artis dan kosan gw gak kebanjiran (?????).

Gw gak nyalahin siapa2 dalam musibah ini, soalnya kalo mau cari kambing hitam dalam masalah ini mungkin agak susah. Habis kambing hitamnya udah pada gak ada, dah pada disembelih semua waktu Idul Adha kemarin. Oh salah ya? Maksudnya, kalo kita mau cari kambing hitam dalam musibah banjir ini, maka semua orang adalah kambing hitamnya, termasuk kita, gw dan lu2 yang baca blog ini. Loh kok gitu sich? Emang apa hubungannya? Ya sama, gw juga gak tau hubungannya apaan, cuma lagi pengen nulis kaya gitu aja…

Kalo dipikir-pikir sih, ya emang wajar kalo Jakarta kebanjiran. Berdasarkan artikel yang gw baca di Koran Jawa Pos hari Senin tanggal 5 Februari 2007, 5 alasan mengapa Jakarta banjir adalah :

1. Curah hujan tinggi (ya iyalah, ini sih gak perlu diragukan lagi)

2. Pintu air yang seharusnya bisa mengatur limpahan air dan mengalirkannya ke laut tak bisa berfungsi semestinya (kenapa pintu air itu gak bisa berfungsi semestinya? Mungkin karena banyaknya sampah yang menggunung di pintu air tersebut)

3. Jakarta berlokasi di daerah dataran rendah. Bahkan sebagian wilayahnya lebih rendah dari permukaan laut (kalo yang ini gw ga bisa protes deh)

4. Jakarta dilewati 13 sungai yang semuanya bermuara ke teluk Jakarta. Daerah aliran sungai ini tersebar merata ke seluruh wilayah Jakarta (no comment ah)

5. Sering terjadi pelanggaran tata ruang sehingga mengurangi kawasan yang berfungsi sebagai resapan air (nah itu dia…)

Udah tau kan alasannya? Ya begitulah. Tapi kalo gw boleh nambahin, gw juga punya alasan lagi kenapa Jakarta bisa kebanjiran. Apa alasannya? Lu akan tau jawabannya di episode berikutnya… (hueekk… Sok keren lu…)

Bersambung…

To be Continued…

(Maap, bukannya gw pelit, tapi gw lagi rada2 pusing ne, kelamaan main komputer. Mungkin lu baca tulisan ini ga nyampe 1 menit. Tapi gw nulisnya sampe 1 jam lho. Soalnya kepotong buat sholat, main gitar, tidur2an, dll (?????). Jadi ntar sisanya gw lanjutin kapan2 aja ya, Insya Allah. Tapi gw ga janji lho… Thank you)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s